RESEARCH GAP
Oleh: Purwowibowo
PENDAHULUAN
Dalam melakukan penelitian ilmiah, dalam penulisan laporannya dapat berbentuk karya ilmiah, baik skripsi, tesis dan juga disertasi, langkah pertama yang harus dikemukakan oleh peneliti sebelumnya adalah mencari ataupun mengemukakan Research Gap. Research gap adalah perbedaaan atau celah dari situasi di mana ditemukannya inkonsistensi antara hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan.
Dalam lingkup akademik, research gap adalah hal yang terbilang penting untuk mengembangkan riset dalam bidang tertentu. Celah dari hasil penelitian sebelumnya bisa menjadi alat bagi penelitian di masa depan. Dengan menerapkan cara tersebut, riset dapat diteruskan dan dikembangkan sehingga wawasan baru bisa terungkap. Dengan demikian, menemukenali celah atau kesenjangan dalam penelitian merupakan hal yang penting oleh peneliti sebelum melakukan penelitiannya.
JENIS RESEARCH GAP
1. Theoretical Gap
Salah satu jenis research gap adalah theoretical gap. Dalam penelitian, biasanya ditemukan ketimpangan informasi yang disebabkan oleh penerapan teori. Pada umumnya, teori memiliki kelemahan di beberapa bagian sehingga memungkinkan terjadinya gap. Selain itu, biasanya analisis objek penelitian hanya dapat dilakukan dengan konsep atau teori baru.
2. Evidence Gap
Selanjutnya, jenis kedua dari research gap adalah kesenjangan bukti penelitian. Evidence gap menunjukkan adanya inkonsistensi antara bukti lapangan dan fenomena yang bersifat umum. Dari sana, dapat dilihat perbedaan dari kedua hal tersebut dan diperoleh strategi baru untuk melakukan penelitian selanjutnya.
3. Population Gap
Jenis research gap ketiga dari celah dalam penelitian adalah ketimpangan informasi dalam jangkauan populasi. Dalam Ilmu Kesejahteraan Sosial, istilah tersebut dikenal dengan nama target market.
Dengan mengetahui population gap berdasarkan penelitian sebelumnya, peneliti bisa menentukan langkah selanjutnya dalam kegiatan pekerjaan sosial atau intervensi pekerjaan sosial. Pastikan untuk menelusuri kepada siapakah intervensi pekerjaan sosial tersebut dilakukan. Penggalian informasi mengenai usia, karakter, hingga budaya juga diperlukan dalam intervensi pekerjaan sosial tersebut.
4. Empirical Gap
Jenis terakhir research gap adalah celah dalam bukti empiris. Adanya ketimpangan informasi dalam hal ini bisa dilihat secara nyata pada hasil dan data faktualnya. Sebagai bentuk solusi, kekurangan dari riset tersebut bisa menjadi bahan untuk penelitian berikutnya. Pastikan untuk menerapkan teori yang tepat agar proses analisis berjalan sesuai harapan.
RESEARCH GAP PENELITIAN COMMUNITY DEVELOPMENT
Penelitian mengenai pemulihan dan pelestarian hutan mangrove selama dua puluh tahun terakhir lebih banyak ditekankan pada aspek ekologis. Selain itu, penelitian yang secara khusus dilakukan terhadap pemulihan dan pelestarian hutan mangrove hanya difokuskan kepada fungsinya sebagai sumber daya ekologis, ekonomi, dan sosial (Purwoko, 2008; Mahmudi, 2010; Kusuma, 2010; Elyas, 2011). Sedangkan penelitian lain yang membahas fungsi mangrove sebagai sumber daya sosial masih terbatas hanya sebagai tempat rekreasi atau ekowisata (Wahyudin, 2006; Fitriyani, 2010). Kemudian penelitian Saru et al. (2009) dan Naryanto (2009), hanya memahami fungsi sosial ekosistem hutan mangrove sebagai ‘bamper’ atau mitigasi bencana alam wilayah pesisir dan pantai. Penelitian tentang aspek sosial hutan mangrove masih sangat terbatas, terutama aspek pengembangan komunitas dari perspektif Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Dari aspek sosial, penelitian mengenai rehabilitasi hutan mangrove hanya terkait dengan program pemberdayaan masyarakat. Penelitian mengenai hal ini hanya melihat partisipasi komunitas dikaitkan dengan program pemberdayaan masyarakat. Dari program pemberdayaan tersebut kemudian dilihat seberapa besar partisipasi anggota komunitas dalam gerakan pemulihan dan pelestarian hutan mangrove (Tambunan et al., 2009; Umairoh, 2010; Telaumbanua, 2011; Rusdiyanti, 2012). Sementara itu, Simanjuntak (2010), melakukan penelitian mengenai pemberdayaan masyarakat yang terkait dengan rehabilitasi hutan mangrove. Tujuannya hanya untuk memahami dan mengetahui pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan keberadaannya sebagai sumber daya alam di kawasan hutan mangrove. Penelitian yang memahami aspek sosial dalam rangka pengembangan komunitas yang bersifat bottom-up belum banyak dilakukan.
Dari sisi ini, penelitian mengenai pemulihan dan pelestarian hutan mangrove hanya dipahami sebagai gerakan komunitas yang diinisiasi oleh pihak luar. Banyak rehabilitasi hutan mangrove merupakan program pemerintah dan diinisiasi oleh lembaga swadaya masyarakat (De Groot et al.; 2006). Sedangkan gerakan rehabilitasi hutan mangrove yang diinisiasi oleh anggota komunitas masih sangat terbatas. Pemimpin informal sebagai bagian dari komunitas dapat menjadi inisiator terjadinya gerakan rehabilitasi hutan mangrove, namun penelitian mengenai hal ini masih jarang dilakukan.
Beberapa penelitian mengenai peran pemimpin informal masih bersifat umum yang dilakukan oleh: (Guy, 2005; Foster, 2008; Hancock, 2008; Atwell-Scrivner, 2010; Hall, 2010; Washington-Ottombre, 2010; Palmer, 2011). Penelitian mereka hanya memahami peran pemimpin informal dalam pengembangan komunitas sebagai agen perubahan sosial komunitas. Sedangkan Sulaksono (2002), menyatakan bahwa peran pemimpin informal sangat penting di dalam pengembangan komunitas di perdesaan, khususnya program kegiatan kepariwisataan.
Menurut Sudibyo (2006), peran pemimpin informal sangat menentukan keberlanjutan gabungan kelompok koperasi petani (Gapoktan). Sedangkan Foster (2008), menyatakan bahwa pemimpin informal mempunyai posisi unik dan dapat menjadi agen perubahan sosial efektif serta dapat menentukan keberhasilan pembangunan di level perdesaan. Hal ini terkait dengan pemimpin informal mempunyai basis modal sosial. Barlan (2011), menyatakan bahwa keberadaan pemimpin informal di tengah komunitas mempunyai posisi unik, karena pemimpin informal disertai basis modal sosial yang melekat dalam dirinya.
Jember, 28 - 11 - 2022
Purwowwibowo




9 Comments
sofia salsabila
ReplyDelete200910301080
Research gap menjadi hal yang sangat penting dalam penulisan laporan. sebab celah atau kekurangan dari suatu penelitian yang akan menjadi sebuah penelitian baru sehingga wawasan serta riset dapat berlanjut. penelitian juga akan menemukan pengetahuan lain yang dapat membantu menyempurnakan solusi dari masalah yang terjadi di masyarakat. Research gap memiliki banyak jenis mulai dari theoretical gap, evidence gap, population gap serta empirical gap yang memiliki fokus masing-masing.
Ahmad Wildan A.S
ReplyDelete200910301046
Research gap perlu diperhatikan oleh penulis saat ingin memperdalam suatu fenomena.
Nama: Aulia Gita Kurniasari
ReplyDeleteNIM: 200910301050
Sebelum melakukan sebuah penelitian langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah mencari adanya research gap. Research gap adalah perbedaan yang harus dicari dari penelitian yang terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Research gap bertujuan untuk mendapatkan sebuah penemuan atau jawaban baru dari penelitian terdahulu pada penelitian yang akan dilakukan.
Nama: Tabriza arihismi faizaputri
ReplyDeleteNim: 200910301111
Dalam melakukan penulisan laporan dapat berbentuk karya ilmiah, baik skripsi, tesis, dan juga disertasi.
Dan research Gap adalah dapat dibilang penting untuk mengembangkan riset dalam bidang tertentu.
Jenis research Gap antara lain: theoretical Gap,evidence Gap, Population Gap, Empirical Gap.
Nama : Sellyna Frandanita
ReplyDeleteNim : 200910301084
Langkah pertama yang harus dikemukakan oleh seorang peneliti sebelumnya adalah mencari ataupun mengemukakan Research Gap. Research gap adalah perbedaaan atau celah dari situasi di mana ditemukannya inkonsistensi antara hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Research gap terbilang penting untuk mengembangkan riset dalam bidang tertentu. Research gap dilakukan bertujuan untuk menemukan jawaban baru terhadap sesuatu yang dianggap sebagai sebuah masalah. Research gap memiliki banyak jenis yakni theoretical gap, evidence gap, population gap dan empirical gap .
Nama : Rega Rizky Nuary
ReplyDeleteNIM : 200910301086
Research gap merupakan perbedaan antara hasil penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan di lakukan. Perbedaan tersebut dapat menjadi alat untuk menemukan hal yang baru. Sehingga penting bagi peneliti untuk menentukan research grup sebelum melakukan penelitian.Terdapat 4 research gap yakni theoretical gap, evidence gap, population gap, dan empirical gap.
Artica Putri Malica
ReplyDelete220910301118
Research gap adalah celah atau senjang penelitian yang dapat dimasuki oleh seorang peneliti berdasarkan pengalaman atau penelitian terdahulu. Research gap perlu diperhatikan oleh penulis saat ingin memperdalam suatu fenomena.
Talitha Hafizhah I.
ReplyDelete200910301097
Research Gap merupakan sebuah pencarian terkait dengan penelitian dimana digunakan untuk membandingkan atau menemukan celah perbedaan antara penelitian lama dan penelitian baru. Research gap memiliki 4 jenis yaitu theoretical gap, evidence gap, population gap dan empirical gap.
Nama : Rintang Laisa Wiyah Ramadhanti
ReplyDeleteNim : 220910301055
Research gap adalah celah atau senjang penelitian yang dapat dimasuki oleh seorang peneliti berdasarkan pengalaman atau penelitian terdahulu. Penelitian ilmiah pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan sebuah jawaban baru terhadap sesuatu yang dianggap sebagai masalah.