Bangsa Konsumen
Oleh:
Purwowibowo
Tulisan ini, merupakan gambaran bangsa Besar, yakni bangsa Indonesia, terutama terkait pola hidup secara umum. Saya ingin menggambarkan apa yang selama ini menjadi
perhatian serius saya sebagai pengamat sosial dan pembangunan sosial. Orang Indonesia, yang menjadi ciri hidup di jaman milenial saat ini. Saya menyebut, bangsa Indonesia sebagai
'bangsa konsumen', bukan 'bangsa produsen', atau bukan 'bangsa pedagang'. Hal ini tampak
di dalam kehidupan sehari-hari kita. Taruhlah masyarakat kota, di berbagai
kota, baik besar maupun kota kecil, orang kaya, orang menengah, orang miskin sekalipun, semua sama yakni menjadi bangsa konsumen atau
konsumer.
Bangsa konsumen adalah suatu bangsa yang menjadi target bangsa lain untuk menjadi pembeli produk mereka. Hampir semua produk mobil dari semua negara di dunia, ada pembelinya di Indonesia. Barang elektrorik, dari Jepang dan Juga Cina laris manis di Indonesia. Itu berarti, orang Indonesia, menjadi ladang subur dari produk yang dihasilkan bangsa lain.
Sedangkan bangsa konsumer adalah bangsa yang hobinya belanja, kalau pergi tidak belanja merasa belum pergi. Anehnya, mereka terkadang membeli sesuatu yang sesungguhnya bukan merupakan kebutuhan primer atau
pokok. Bahkan, barang yang dibeli merupakan barang kebutuhan sekunder atau tersier. Bangsa konsumen atau konsumer, merupakan bagian bangsa yang tidak kreatif dan produktif yang bisanya membeli dan menikmati dari produk tertentu.
Saat ini, saya juga 'dipaksa' untuk menjadi bangsa konsumen. misalnya, Hp yang lama dengan fitur sederhana dan jadul tidak bisa lagi digunakan di jaman yang semakin melinial ini. Saya harus membeli HP baru yang fiturnya banyak, dan bisa digunakan untuk seluruh kegiatan saya. Akhirnya saya juga menjadi 'bangsa konsumen'
Bahkan, kegiatan
rekreasi-pun yang dipentingkan bukan melihat obyek dari wisata yang
dikunjunginya, tetapi oleh-olehnya atau barang-barang belanjaannya. Coba lihat
saja, di waktu bulan Romadhan sudah lebih dari separohnya, kegiatan sholat
berjama’ah atau tarwih sudah mulai berkurang dan bahkan ditinggalkan. Mereka
menyerbu pusat-pusat perbelanjaan dan juga pasar-pasar.
Bangsa Indonesia, pada saat demikian bukan hanya menjadi konsumen kebutuhan pokok menjelang hari idhul fitri, tetapi juga menjadi bangsa konsumen, dari berbagai produk
bangsa lain, misalnya baju, Hp, mobil, motor, dan kebutuhan lainnya. Kebutuhan mereka mulai dari yang paling sederhana, seperti mainan anak-anak sampai
hasil teknologi tinggi, komputer dan semacamnya.
Terus kapan bisa menjadi
bangsa produsen? Pertanyaan ini sesungguhnya sudah lama saya pikirkan dan saya
lontarkan, baik di depan mahasiswa atau di tempat lain yang memungkinkan untuk
menyampaikan hal ini. Kalau melihat gelagat yang ada sampai sekarang, mungkin
masih jauh dan masih dalam angan-angan bangsa Indonesia menjadi bangsa
produsen.
Kalau menyaksikan orang-orang, baik tua-muda, kaya dan mungkin
dikatakan miskin berlomba untuk belanja dan memborong semua barang yang ada di
pertokoan atau di mal-mal, terutama di akhir bulan Ramadhan.
Lihat saja sampai sekarang ini dengan 'model penipuan' harga, yang
sebenarnya kita tahu, yakni melakukan pemotongan harga sampai 70%. Semua kita
terlena seakan barang-barang itu memang murah atau dimurahkan, padahal tidak.
Siapa sih yang berdagang tidak mencari untung? Tentu jawabannya tidak ada
pedagang yang rugi atau tidak mencari untung. Lha kita tidur saja kepengin
mendapatkan untung, apalagi kita berdagang. Korting besar-besaran adalah
penipuan yang nyata, dari pedagang besar, seperti berbagai mal dan supermarket, atau toko lainnya.
Oleh karena itu, kalau kita sadar tentang itu semua, tentu kita tidak
ingin memborong semua barang seakan tidak ada hari esok. Saya menyarankan
kepada saya sendiri dan kita semua agar tidak terkecoh, dengan permaian penjualan dengan 'tema off' atau obral.
Jadilah bangsa produsen dengan
memproduksi apa saja yang bisa kita gunakan, baju, celana, mainan anak-anak,
dan lain sebagainya. Ayo tinggalkan bangsa yang kosumen dan konsumer seperti yang saya
ceritakan di atas dan menjadi bangsa produsen..
Wassalam.
Bandung,
17 Agustus 2011.




2 Comments
Mantapp ..memang gak mudah terlepas dari cap konsumerisme..tapi bukan tidak mungkin juga kita bisa berprodusen juga..tunggu saja tanggal main nya ..heuheuheu..
ReplyDeleteTerima kasih komen-nya, itu angan-angan sebagaimana bangsa lain yang produktif dan produsen! OK
ReplyDelete