DAMPAK GUNUNG SEMERU MELETUS DAN MODEL HEALING


 

DAMPAK SEMERU MELETUS DAN MODEL HEALING

Oleh: Purwowibowo

“Dan sungguh Kami (Allah) akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar” (QS. Al-Baqoroh: 155)

“Ujian senantiasa menimpa orang Mukmin pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu kesalahan pun atasnya.” (HR Tirmidzi). 

PENDAHULUAN

Gunung merupakan bagian kerak bumi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Gunung biasanya menjulang dan memiliki sisi curam yang menyingkap batuan dasarnya. Daerah curam tersebut dialiri oleh air yang terus menerus dan beberapa diantaranya ada sumber airnya. Aliran sungai tersebut mulai dari hulu sampai hilir, yang airnya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air pertanian dalam bentuk sabo, dam, dan juga bendungan. Bendungan besar yang dibangun pemerintah, selain untuk menampung air hujan agar tidak banjir, dimanfaatkan untuk perikanan dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Gunung Semeru, yang lebih dikenal dengan Mahameru, merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Selain itu, gunung Semeru juga merupakan gunung aktif yang selalu memuntahkan lavanya setiap saat. Gunung ini puncaknya mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut. Legenda gunung ini berasal dari India yang dibawa oleh Dewa Brahma dan diletakkan di Pulau Jawa bagian timur. Letaknya di dua kabupaten, yakni, kabupaten Lumajang dan kabupaten Malang.

GUNUNG AKTIF SEPANJANG MASA

Gunung Semeru, meletus di bulan September 2021 lalu dan telah lebih setahun terus menerus mengeluarkan asap. Pada tanggal 04 Desember 2022, Semeru meletus kembali dengan dahsyat mengeluarkan asap tebal dan lava yang mengalir menuruni bukit dan menimbulkan awan panas (wedus gembel). Akibatnya, banyak menimbulkan kerusakan baik rumah, pekarangan, sawah, fasilitas umum, dan banyak lagi yang lainnya. Hampir semua fasilitas kehidupan di sekitar gunung semeru dan memisahkan semua sisi kehidupan masyarakat. Penderitaan, kesengsaraan dialami banyak masyarakat yang terkena dampak, baik langsung masupun tidak langsung.

Menurut catatan sejarah, gunung Semeru sudah lama menjadi gunung teraktif di Indonesia. Paling tidak sejak abad ke-19, gunung ini telah meletus, yakni pada tahun 1818, 1829, 1830, 1832, 1836, 1838, 1842, 1844, 1845, 1848, 1851, 1856, 1857, 1860, 1864, 1867, 1872, 1877, 1878, 18884, dan 1899.

Di abad ke-20, gunung Semeru juga meletus pada tahun 1941, 1942, 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1961, 11963, 1967, 1969, 1972, 1990, 1992, 1994. Sedangkan di awal abad ke-21, gunung Semeru juga meletus mulai tahun 2002, 2005, 2006, 2007, dan 2008. Agak reda beberapa tahun, kemudian pada 4 Desember 2021 meletus dengan dahsyat dan mengeluarkan guguran awan panas.

Genap satu tahun, tahun 2022 gunung ini terus meletus setiap hari dan pada akhirnya pada tanggal 04 Desember 2022, meletus kembali mengeluarkan lava dan awan panas (edus gembel) yang terus mengalir ke sungai menuju arah tenggara. Beberapa hari ini, dinyatakan statusnya menjadi level 4 (awas) dari status sebelumnya, yakni level 3 (siaga).

DAMPAK

Setahun belakangan ini, masyarakat terdampak dari letusan gunung Semeru jumlahnya ribuan orang. Pada tahun 2021 lalu, 2970 rumah rusak, baik ringan, sedang, dan berat. Selain itu, ada gedung sekolah, masjid, mushola, dan infrastruktur lainnya. Korban luka, ringan sampai berat berjumlah 183 dan 14 diantaranya meninggal dunia. Para pengungsi terpaksa dan dipaksa untuk pindah dari tempat tinggalnya, karena rumah, pekarangan, sawah, tanah ladang, sumber air, ternak, dan berbagai pendukung kehidupan mereka rusak dan tidak dapat digunakan.

Pada 04 Desember 2022, gunung Semeru meletus kembali dengan mengeluarkan lava pijar dan awan panas. Dengan letusan tersebut, menurut keterangan resmi BNPB setempat dampaknya adalah 1979 jiwa mengungsi. Titik pengungsiannya mencapai 11, terdiri dari SD (sekolah dasar) Supiturang dengan pengungsi 266 jiwa, Balai Desa Oro-oro Omba 119 jiwa, SD 02 Sumberurip 228 jiwa, Balai Desa Sumberurip 131 jiwa, Balai Desa Penanggal 52 jiwa, Pos Gunung Sawur berjumlah 216 jiwa, Balai Desa Pasirian 150 jiwa, Lapangan Candipura 600 jiwa, dan sisanya ada di SMP Pronojiwo.

MASALAH SOSIAL DAN BERBAGAI MODEL HEALING

Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan letusan gunung Semeru menimbulkan masalah sosial baru bagi masyarakat di sekitarnya, khususnya mereka yang menjadi pengungsi. Di antaranya, secara psikis menimbulkan trauma dengan kejadian tersebut, bukan hanya kepada anak-anak dan remaja, namun juga orang tua. Oleh karena itu, kita dapat melakukan trauma healing bagi para pengungsi. Para pengungsi yang trauma dapat diberikan trauma healing dengan berbagai cara untuk dapat melupakan peristiwa yang sangat dahsyat dan mengerikan tersebut.

Kemudian semua unsur yang mempunyai empati dan tanggung jawab melakukan social welfare healing. Dalam konteks ini, yang dilakukan dengan segera adalah memberikan bantuan atau layanan yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi misalnya memberikan bahan makanan, pakaian, selimut, dan lain sebagainya yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Oleh karena itu, fungsi layanan dalam bentuk charity dan philantropi dapat dilakukan. Lembaga sosial masyarakat dan keagamaan menggalang dana bantuan untuk dapat digunakan memberikan layanan kepada para penungsi.

Agar dapat segera pulih, berbagai fasilitas masyarakat juga harus segera dilakukan rehabilitasi. Misalnya, jembatan, jalan, gedung, sekolah, pasar, dan berbagai fasilitas umum lainnya yang rusak perlu segera diperbaiki. Dengan pulihnya infrastruktur dapat segera masyarakat terkena dampak dapat pulih kembali. Pertanian, peternakan, perdagangan, dan berbagai sendi kehidupan masyarakat berangsur akan pulih kembali sesuai dengan kondisi pasca erupsi.

Selain itu, bisa dijalankan model pemecahan masalah dengan spiritual healing. Model ini, dapat dibeikan kepada pengungsi bahwa bencana alam, seperti halnya meletusnya gunung semeru sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Menyerahkan diri dan pasrah akan kuasa Allah SWT, sabar menerima cobaan atau ujian adalah bentuk dari spiritual healing sebagaimana firman Alloh dalam Surah Al-Zazalah ayat 1-5. Artinya, Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan dahsyat (1), dan gunung telah mengeluarkan beban berat yang dikandungnya (2), dan manusia bertanya, Apa yang terjadi dengan bumi ini? (3), pada hari itu, bumi dan gunung menyampaikan beritanya (4), karena sesungguhnya Tuhan kita semua telah memerintahkan demikian itu pada bumi dan gunung (5).

Jadi kejadian bumi bergoyang dan gunung meletus merupakan perintah dari Tuhan kita semua dan kita pasrah kepadanya (spiritual healing).

Jember, 08 -  12 – 2022

Purwowibowo

 

Post a Comment

1 Comments