TRAUMA HEALING DALAM ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Oleh: Purwowibowo
"Terkadang, ketika resah dan kawatir melanda pada diri kita dan membuat hati gelisah bekepanjangan dan tidak berujung, maka yang kita butuhkan hanyalah spiritual healing yakni pasrah dan berserah diri bulat-bulat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa."
"Pasrah bukan berarti diam atau tidak bertindak dan bukan pula berarti tidak berusaha, namun pasrah itu merendahkan hati dan selalu berikhtiar sekuat tenaga."
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." - (QS. Al Insyirah: 5)
PENDAHULUAN
Menurut American Psychological Association, trauma adalah respons emosional yang berlebihan terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam. Akibat dari hal tersebut kemudian, seseorang atau kelompok orang mungkin akan cenderung bersikap penuh keterkejutan dan juga penolakan. Dalam jangka panjang, meliputi tindakan berupa emosi yang tidak terduga. Bisa juga berimbas terhadap hubungan yang tegang dari emosinya sehingga dapat menimbulkan sakit dan juga mual. Jika demikian yang diperlukan adalah terapi trauma healing.
Trauma healing menjadi istilah yang lagi viral, terutama terkait dengan korban-korban kebencanaan. Beberapa waktu lalu, pemerintah Jawa Timur juga menyelenggarakan trauma healing terhadap korban bencana Gunung Semeru. Trauma healing merupakan terapi psikologis yang dilakukan oleh pekerja sosial terhadap orang sebagai korban, tidak hanya korban bencana alam melainkan juga korban kekerasan yang dilakukan oleh orang lain. Misalnya korban kekerasan seksual, seringkali dilakukan penyembuhannya dengan menggunakan trauma healing ini.
Trauma healing merupakan suatu proses psikologis dengan memberikan bantuan berupa penyembuhan dengan maksud untuk mengatasi gangguan kejiwaan akibat kecemasan yang mendalam. Selain itu, trauma healing juga dapat digunakan mengatasi atau mengobati mereka yang panik berlebihan dan stress tatkala dalam dirinya mengalami peristiwa yang dahsyat. Sebagai contoh, dengan adanya gunung meletus, gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya yang dialami kemudian seseorang atau kelompok orang menjadi lemah ketahanan fungsi mentalnya. Guna memulihkan kondisi mentalnya, dilakukan trauma healing tersebut.
BENTUK-BENTUK TRAUMA HEALING
Adapun metode-metode trauma healing yang biasa dilakukan oleh pekerja sosial atau para psikolog terhadap orang yang mengalami trauma atas kasus yang luar biasa tersebut, antara lain:
1. FARMAKOTERAPI
Farmakoterapi adalah metode trauma healing yang melibatkan penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengelola reaksi trauma yang mengganggu pikirannya atau jiwanya. Obat-obatan telah terbukti membantu dengan baik orang yang mengalami trauma, misalnya mengatasi, (1) Gejala intrusi, (2) Hyperarousal, (3) Reaksi emosional, (4) Gairah yang meningkat, (5) Sifat lekas marah, dan (6) depresi.
Melakukan atau minum obat tertentu yang disarankan oleh dokter tidak dapat menghilangkan trauma dan rasa sakitnya dapat hilang. Namun, dengan obat tertentu dapat membua gejala tidak membuat gejala trauma kurang intens dan dapat dikelola dengan baik. reaksi trauma dan rasa sakit seseorang menghilang. Namun demikian penggunaan obat harus dipantau terus dan juga sesuai dengan petunjuk dokter.
2. TERAPI PERILAKU
Bentuk terapi perilaku yang paling umum adalah terapi paparan (eksposur). Dalam terapi pemaparan, seseorang akan diarahkan untuk menghadapi ketakutannya secara bertahap. Seringkali, paparan ini menghasilkan pembelajaran individu bahwa ketakutan atau emosi negative tidak beralasan, pada gilirannya memungkinkan rasa takut atau traumanya berkurang dan bahkan bisa hilang.
Terapi pemaparan telah diketahui efektif untuk mengurangi kecemasan dan depresi, meningkatkan penyesuaian sosial, dan mengatur memori trauma. Ada berbagai bentuk terapi eksposur: (1) Eksposur imajiner: Seorang individu membayangkan peristiwa yang ditakuti sejelas mungkin, (2) Paparan in vivo: Paparan terjadi dalam terapi, (3) Desensitisasi sistematis: individu dihadapkan pada situasi yang lebih menimbulkan rasa takut secara berturut-turut. Eksposur ini dipasangkan dengan relaksasi.
Terapi pemaparan adalah pengobatan yang sangat efektif untuk mengatasi stress pasca trauma.
Bentuk lain dari terapi perilaku, yakni Stress Inoculation Training (SIT) atau yang juga dikenal sebagai pelatihan relaksasi. Pelatihan Inokulasi Stres mengajarkan individu untuk mengelola stres dan kecemasan mereka sehingga dapat berkurang dan bahkan bisa hilang.
3. TERAPI PERILAKU KOGNITIF (Cognitive Behavioral Theraphy / CBT)
Terapi perilaku kognitif (CBT) didasarkan pada gagasan bahwa seorang individu harus memperbaiki dan mengubah pikiran yang salah, kemudian meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Komponen umum dari terapi trauma terapi perilaku kognitif meliputi: (1) Mengajarkan individu bagaimana mengendalikan dan mengelola kecemasan dan stress, (2) Mendidik individu tentang reaksi normal terhadap trauma, (3) Terapi paparan, (4) Mengidentifikasi dan mengevaluasi pikiran negatif, salah, dan irasional dan menggantinya dengan pikiran yang lebih akurat dan kurang negatif atau bertindak secara rasional (rational choice). CBT ini sangat efektif digunakan untuk mengatasi gangguan somatoform, bulimia, dan masalah kemarahan serta stress secara umum.
4. TERAPI EMDR (eye movement desensitization and reprocessing)
Perawatan dalam metode trauma healing yang satu ini melibatkan orang dalam terapi yang secara mental berfokus pada pengalaman traumatis atau pikiran negatif sekaligus melacak cahaya yang bergerak atau jari terapis yang bergerak secara visual. Nada pendengaran juga dapat digunakan dalam beberapa kasus.
Meski terapi EMDR yang melibERatkan gerakan mata cukup menimbulkan banyak perdebatan, tetapi pengobatan ini telah terbukti sangat efektif untuk pengentasan dan penghapusan gejala trauma serta masalah psikologis lainnya.
Terapis yang melakukan terapi EMDR biasanya telah teruji melalui pelatihan khusus dari asosiasi, seperti Institut EMDR atau Asosiasi Internasional EMDR.
5. HIPOTERAPI
Secara umum, seorang hipnoterapis akan memandu individu dalam terapi ke keadaan hipnosis, kemudian melibatkan orang tersebut dalam percakapan atau berbicara kepada orang tersebut tentang masalah tertentu. Kebanyakan hipnoterapis percaya bahwa emosi dan pikiran individu selama proses hipnosis sangat penting untuk proses penyembuhan.
6. TERAPI PSIKODINAMIK
Tujuan terapi trauma psikodinamik adalah untuk mengidentifikasi fase manakah yang memengaruhi trauma seseorang. Setelah mengetahuinya, terapis dapat mengelola aspek peristiwa traumatis yang mengganggu pasien atau klien yang bermasalah sosial tersebut. Elemen umum terapi psikodinamik meliputi: (1) Mempertimbangkan sejarah perkembangan individu dan masa kanak-kanak, (2) Menekankan pemahaman makna trauma, (3) Melihat bagaimana trauma telah berdampak pada perasaan diri dan hubungan individu, (4) Mencari tahu apa yang telah hilang dari individu karena peristiwa traumatis tersebut.
7. TERAPI KELOMPOK
Terapi kelompok biasanya menjadi pilihan terapi tambahan di samping terapi individu. Terapi kelompok bisa dipimpin oleh terapis atau salah satu anggota kelompok yang memiliki trauma sama dengan Moms.
Beberapa terapi kelompok bisa bersifat mendidik, dapat juga fokus pada pemberian dukungan, dan kelompok lainnya bersifat terapeutik. Namun yang terpenting bagi penyintas trauma adalah memilih kelompok yang sejalan dengan tahapan atau proses penyembuhan mereka sebelumnya.
Biasanya, dalam terapi kelompok ada beberapa tahapan penyembuhan mereka yang terdiri dari: (1) Fase keselamatan / korban: pilih kelompok yang berfokus pada perawatan diri dan keterampilan mengatasi, (2) Fase mengingat dan berkabung/bertahan: pilih kelompok yang berfokus pada menceritakan kisah trauma, (3) Fase reconnection / thriver: bergabunglah dengan grup yang bertujuan untuk membuat koneksi dengan orang-orang, (4) Kelompok pendidikan: dapat digunakan oleh seluruh peserta terapi dalam semua fase.
Perlu diingat bahwa tidak ada satu terapi dari ketujuah metode trauma healing di atas yang ajaib untuk menyembuhkan kondiri trauma. Namun, bisa kesemuanya dilakukan dan dipraktikkan dalam melakukan trauma healing pada mereka yang mengalami bencana alam, kekerasan, atau peristiwa yang menurut mereka dapat menimbulkan trauma yang bekepanjangan.
Oleh karena itu, psikolog dan juga pekerja sosial dalam melakukan trauma healing terhadap korban bencana dan sejenisnya. Mereka membutuhkan persiapan matang, latihan berulang, keberanian, tekat dan dukungan dari berbagai pihak, agar dapat berhasil dalam melakukan trauma healing.
Jember, 23 – 11 – 2022
Purwwowibowo




0 Comments