TOPIK PENELITIAN
Oleh: Purwowibowo
Ngelmu iku ana ing sak jeruning dada. ...
Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. ...
Sakabehing ilmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuasa. ...
Sangkan paraning dumadi. ...
Ngelmu iku kalakone kanti laku,
PENDAHULUAN
Topik dalam Bahasa Yunani disebut ‘topio’. Artinya inti utama dari isi keseluruhan penelitian yang akan dilakukan atau tulisan yang akan disampaikan. Topik merupakan hal pertama kali yang ditentukan oleh peneliti atau penulis. Pada umumnya topik masih bersifat umum dan perlu membuat cakupan yang lebih sempit atau disebut dengan fokus.
Di dalam penelitian, pertama sekali, harus memahami topik terlebih dahulu. Hal ini penting karena dalam sebuah proses penelitian, penentuan topik akan menjadi titik sentral sebelum masuk ke tahapan-tahapan penelitian selanjutnya.
Topik dalam penelitian adalah tema sentral yang akan dibahas dalam penelitian tersebut. Topik ini bisa didapatkan dari berbagai sumber bacaan, pengamatan, ataupun dari hasil penelitian orang lain.
Topik berbeda dengan judul penelitian. Judul sendiri adalah bentuk turunan dari topik yang sudah ditentukan. Sebuah topik dalam penelitian bisa saja ditinjau dari berbagai sudut pandang.
Variasi sudut pandang inilah yang kemudian akan mengerucut menjadi judul yang konkrit.
Ada beberapa cara yang bisa digunakan sebagai rambu-rambu dalam merumuskan topik dalam penelitian.
PANDUAN MEMILIH TOPIK PENELITIAN
Beberapa hal berikut bisa dijadikan panduan :
1. Mengidentifikasi Topik Penelitian
Identifikasi topik-topik yang menurut peneliti menarik dan anda tertarik di bidang itu.
Kendati ukuran menarik atau tidak itu sangat relatif, peneliti bisa mengambil patokan-patokan standar, seperti jarang/belum pernah diteliti orang, sesuatu yang baru (isu baru), sesuatu yang sedang hangat dibicarakan, atau sesuatu yang sedang menjadi kontroversi.
Misalnya, peneliti ingin mengambil tema tentang “Tindak Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama”. Ini bisa dikatakan topik yang menarik, alasannya masalah ini sedang hangat, melibatkan banyak pihak, dan memerlukan tinjauan-tinjauan praktis dan teoritis. Topik tersebut tentunya masih sangat luas, disinilah nantinya judul penelitian yang akan memberikan batasan.
Identifikasi ini adalah identifikasi terhadap masalah. Peneliti harus meyakini dan punya basis data yang kuat bahwa topik yang diteliti memang punya basis masalah yang kuat dan layak diteliti.
Untuk itu peneliti harus melakukan penelusuran secara mendalam tentang topik tersebut. Sesuatu topik harus unik dan memang pantas diteliti. Hal ini harus jadi bahan pertimbangan utama, karena memilih topik bukanlah pekerjaan sembarangan, tidak bisa atas dasar suka suka saja.
- Pastikan Peneliti Memiliki Akses dan Kemampuan
Alasan ini sebenarnya praktis, tetapi penting. Sering terjadi seorang peneliti memilih topik-topik yang menarik, bahkan sangat menarik, namun mengalami kesulitan ketika akan menelitinya.
Akses dan kemampuan ini berkaitan dengan hal teknis, seperti kemudahan dalam akses data, kemampuan secara intelektual, kemampuan secara fisik, dan kemampuan secara finansial / keuangan.
Meneliti jelas membutuhkan sumber daya yang besar (terutama tenaga, fikiran, dan uang). Jadi anda harus menentukan topik yang anda sendiri mampu melakukannya.
Dua hal di atas sudah bisa jadi patokan pertama ketika peneliti akan membuat penelitian. Untuk penentuan topik sudah bisa dilakukan. Beberapa referensi lain memang ada yang memberikan batasan-batasan yang lebih banyak.
Menurut Moleong (2004), Descombe (2003), Denzin dan Lincoln (2005), serta banyak penulis lainnya. Hanya saja, secara umum dan sederhana, dua batasan tersebut sudah bisa membawa peneliti pada sebuah topik penelitian.
Disarankan juga jika peneliti ingin lebih mudah lagi dalam menentukan topik penelitian, peneliti harus rajin membaca hasil penelitian orang lain. Dalam proposal penelitian ini disebut dengan kegiatan Tinjauan Pustaka. Dari hal tersebut biasanya akan tampak dan tergambar dengan baik, topik apa saja yang menarik untuk diteliti.
Dalam menentukan topik penelitian, seringkali mahasiswa / peneliti mengalami kendala. Kendala ini sebenarnya ada pada diri si peneliti sendiri.
KESALAHAN PENELITI PEMULA
Beberapa hal yang sering dialami adalah :
1) Terperangkap pada hasil penelitian orang lain
Ini kerap terjadi, yaitu peneliti / mahasiswa membaca skripsi orang lain, kemudian membandingkan bahwa jika mereka bisa seperti itu, kenapa saya tidak. Padahal apa yang dibuat oleh orang lain tersebut, juga belum tentu benar.
2) Tidak tahu harus memulai dari mana proses penelitian
Ini dikarenakan si peneliti pemula atau mahasiswa belum memahami dengan baik esensi penelitian, karena itu kebingungan akan berbicara tentang apa.
Ada baiknya, seorang calon peneliti harus mempelajari dan memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana sebuah metodologi penelitian, baru kemudian membaca dan mengkritisi hasil penelitian orang lain.
3) Tergoda oleh isu-isu besar
Ibarat kata-kata “nafsu besar tenaga kurang”, seorang peneliti tergoda ingin meneliti sesuatu yang “aneh”, tapi tidak mempertimbangkan kemampuan pribadi, baik secara teknis, maupun secara intelektual. Akibatnya adalah kesulitan ketika melakukan penelitian.
4) Tidak memahami basis keilmuannya sendiri.
Penelitian secara ilmiah memiliki karakteristik tersendiri. Karakter ini akan melekat pada bidang ilmu si peneliti. Oleh karena itu, dasar teori dalam penelitian akan menunjukkan bidang ilmu tersebut.
Seringkali seorang mahasiswa/peneliti, membuat topik yang melenceng dari bidang ilmunya. Masalahnya ternyata karena ia tidak paham bidang ilmunya sendiri. Peneliti pada dasarnya harus sudah sangat paham dengan topik yang akan diangkat.
5) Terjebak pada hasil penelitian orang lain
Ini bisa terjadi karena akses informasi saat ini yang begitu mudah dan luas. Seorang peneliti pemula cenderung melakukan akses ke Internet untuk mencari topik yang akan dibuat. Biasanya yang dicari adalah judul-judul penelitian yang sudah dilakukan pihak lain.
Peneliti pemula cenderung terjebak pada sisi ini, yaitu mengambil ide orang lain dan kemudian melakukan perubahan objek penelitian saja.
Padahal belum tentu objek yang diteliti itu punya bobot masalah untuk diteliti. Karena itu pemahaman tentang apa itu masalah (perbedaan reliatas atau asumsi teori dengan kenyataan) menjadi penting sekali.
Kesalahan-kesalahan umum seperti di atas harus diperbaiki oleh seorang peneliti. Sedapat mungkin peneliti harus melepaskan diri dari hal tersebut. Ini penting, karena kualitas hasil penelitian dan kemampuan peneliti untuk membuat hasil penelitian yang lebih baik, sangat bergantung pada hal ini.
Selanjutnya apabila topik penelitian sudah ditentukan, maka pertanyaan berikutnya adalah “peneliti akan menelitinya dari sudut pandang apa?” Ini dilakukan sebelum masuk ke judul. Penentuan sudut pandang akan membawa anda pada perumusan judul, permasalahan, sampai pada metodologi penelitian nantinya.
Sebagai contoh, anda memilih topik “Kekerasan Dalam Keluarga”. Sudut pandang yang akan digunakan bisa bervariasi, penelitilah yang harus menentukan. Biasanya ini terkait dengan bidang ilmu. Topik di atas bisa mahasiswa atau peneliti pemula lihat dari keilmuan Ilmu Kesejahteraan Sosial, dan Ilmu sosial lainnya, seperti teori structural fungsional atau teori konflik atau yang lainnya dan pemberdayaan (perempuan).
Misalnya peneliti sudah menetapkan sudut pandang Ilmu Kesejahteraan sosial, pertanyaan berikut yang muncul adalah, kemudian fokusnya seperti apa yang peneliti maksudkan.
Bisa saja peneliti memakai teori konflik sosial masyarakat, atau teori konflik personal, dan lain sebagainya. Semua ini adalah sudut pandang, dan penelitilah yang akan menentukan sudut pandang tersebut. Tentu saja ada alasan yang membuat pilihan pada hal tersebut secara rasional.
Jember, 09 – 10 -2022




0 Comments