PEMBANGUNAN SOSIAL MELALUI KOMUNITAS / MASYARAKAT


PEMBANGUNAN SOSIAL MELALUI KOMUNITAS / MASYARAKAT
Oleh : Dr. Purwowibowo, M.Si

PENDAHULUAN 

Pandangan bahwa pembangunan masyarakat / komunitas dapat dilaksanakan dengan baik melalui individu itu sendiri yang bekerja secara ekonomis, efisien dengan komunitas lokal merupakan dasar dari pendekatan komunitas bagi pembangunan masayarakat. 

Penganjur strategi ini yakin bahwa individu dan komunitas mempunyai hubungan simbiosis dalam mengorganisir mereka sendiri untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan mereka. Dengan komunitas masalah mereka dapat diselesaikan oleh mereka sendiri, dan kesempatan untuk berkembang maju potensinya ada pada masyrakat atau komunitas mereka sendiri. 

Selain itu, individu dan masyarakat juga mampu mencapai tujuannya sendiri, hanya saja mereka membutuhkan koordinasi dengan anggota masyarakat yang lain dan saling bertukar pikiran, ide satu dengan yang lain. 

Dengan langkah demikian mereka akan mampu mengotrol sumberdaya yang ada  pada mereka sendiri (lokal) dan memecahkan masalah lokal yang dihadapinya. Mereka juga bisa lebih baik di dalam menempatkan sumberdaya internal masyarakat untuk meningkatkan pembangunan masyarakat di tingkat lokal.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, pendekatan komunitas  / masyarakat  sangat kuat dipengaruhi oleh ideologi yang populis. Penganjur pembangunan masyarakat atas dasar strategi komunitas ini, seringkali menggunakan istilah orang-orang atau semua orang akan melakukan peningkatan kesejahteraannya melalui individu dalam konteks kehidupan komunitas atau masyarakat.

Merujuk uraian sebelumnya, komunitas atau masyarakat sangat berbeda dengan kolektivitas. Ketika konsep kolektivitas dimunculkan yang juga mendorong usaha kesejahteraan sosial melalui koperasi misalnya, membutuhkan sumberdaya yang dimiliki sendiri dan kemudian mengaturnya. 
 
Komunitas atau masyarakat, tidak membutuhkan kepemilikan bersama semacam koperasi itu, tetapi menyarankan agar individu bekerja sama dengan individu lainnya untuk meningkatkan keterikatan sosial dengan konsep komunitas.
 
Komunitas atau masyarakat juga berbeda konsep dengan keadaan kolektif, komunitas merupakan suatu ide bahwa pemerintah harus bertanggung jawab terhadap pembungunan masyaraka.
 
Lebih dari itu, para ahli di bidang ini yakin bahwa pendekatan komunitas lebih efektif dari sekedar program pembangunan abadi oleh pemerintah, karena komunitas bisa mengatur dan mengelola sumber daya lokal mereka sendiri demi kepentingan mereka sendiri.

PENDEKATAN MASYARAKAT / KOMUNITAS

Pendekatan komunitas atau masyarakat dalam pembangunan masyarakat telah dikenal secara luas diranah pembangunan sosial di seluruh dunia dan merupakan strategi yang berbeda di dalam rangka meningkatkan pembangunan. Khususnya di seting komunitas yang telah dirumuskan sebelumnya.Tiga strategi tersebut akan dibahas di bagian ini. 
 
Pertama
 
Strategi ini juga disebut pembangunan komunitas atau masyarakat. Seperti halnya diuraikan di dalam bab sebelumnya. Asal mulanya konsep pembangunan komunitas muncul di masa kolonial dengan maksud untuk memobilisasi partisipasi masyarakat desa di dalam pembangunan ekonomi. 
 
Kedua
 
Tindakan komunitas, yang sering dikatakan sebagai suatu pendekaan radikal dan keras. 
 
Ketiga
 
Strategi ini, fokus utamanya adalah isu gender dan sumbangan wanita terhadap pembangunan. Sebagaimana suatu komunitas, kebutuhan dan  perspektif wanita seringkali tidak diperhatikan dalam kerangka konsep pembangunan pada umumnya, yang pembangunan itu sendiri telah menyebar ke seluruh dunia. 
 
Wanita selalu dalam posisi terpinggirkan dan terkekang. Walaupun ada kelompok wanita mempunyai suatu kegiatan yang lebih aktif di dalam kegiatan pembangunan sosial akhir-akhir ini. Wanita masih digolongkan ke dalam pendekatan yang berbasis gender yang penekanannya pada perhatian wanita dan perkembangan sosial, hal ini dapat muncul jika wanita secara penuh terlibat di dalam seluruh usaha pembangunan.
 
PEMBANGUNAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN

Sejarah pembangunan telah diuraikan di dalam bab sebelumnya yang konsepnya sudah dijalankan oleh pemerintah kolonial Inggris, yang intinya menyangkut dua hal yakni kebijakan sosial pemerintah kolonial atas negara jajahannya yang dinamakan dengan Penanganan Kesejahteraan Sosial Remedial dan Pembangunan Komunitas.
 
Hal itu juga ditunjukkan adanya pembangunan komunitas telah diusahakan oleh pemerintah kolonial menyangkut bidang kesejahteraan sosial di bawah departemen kesejahteraan sosial dengan maksud dapat menyumbang secara positif pembangunan ekonomi. 
 
Walaupun strategi pengembangan komunitas merupakan strategi utama dari pembangunan sosial di tahun 1940-an, namun mempunyai sejarah panjang. Sebelum masa kolonial, banyak masyarakat primitif yang telah mempunyai tradisi-tradisi kebersamaan di dalam bentuk gotong royong atau kerjasama, dan juga kepemilikan bersama di berbagai kehidupan. 
 
Bentuk pemerintahan tradisional telah berakar di dalam kehidupan masyarakat lokal dan hal tersebut diakui oleh pemerintah kolonial. Di banyak kasus, kewenangan kepemimpinan tradisional telah diakui dan masuk ke dalam sistim kontrol pemerintahan kolonial. 
 
Tokoh masyarakat atau pemimpin lokal di desa oleh pemerintah kolonial hanya diberi sedikit kewenangan terhadap masyarakat lokal, tetapi justru diharap dapat membantu kepentingan kolonial yang sangat luas. Pemerintah kolonial juga membuat tenaga kerja komunal (rumusa) demi kepentingan pembangunan dan khususnya untuk membangun infrastruktur yang ada dan dibutuhan oleh masyarakat dan kepentingan kolonial.
 
Sebagimana Peter Mould (1966) mengatakan bahwa, jalan-jalan, dan proyek lainnya juga dibangun atas keterlibatan tenaga kerja komunal lokal yang dikendalikan oleh ketua dan tokoh lokal setempat. Keuntungan dalam rangka menggunakan tenaga kerja komunal lokal adalah terpenuhinya tenaga kerja untuk keperluan pembangunan.
 
Hal senada juga dilakukan oleh para misionaris yang menggunakan tenaga kerja komunal lokal desa untuk membantu membangun sarana seperti sekolahan, gereja, dan klinik kesehatan.
 
Sebagaimana dialami pemerintah  kolonial Inggris di Afrika Barat pada tahun 1940-an merupakan pengalaman yang pertama. Sebelum pembangunan komunitas dirumuskan konsepnya di Afrika Barat, pemerintah kolonial di India juga mengusulkan program serupa. Seperti yang dikemukakan oleh F.L Brayne mengusulkan pembangunan komunitas juga. 
 
Di India ada dua tokoh utama yakni Rabindranath Tagore dan Mahatma Gandhi, yang keduanya ingin mewujudkan masyarakat impian yang dilandasi oleh kehidupan dan nilai-nilai bangsa India yang mereka sebut sebagai usaha utama untuk mengorganisir masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Hal itu bukan sebagai kejutan, setelah kemerdekaan India, idea tersebut mempunyai hubungan yang signifikan terhadap program pembangunan masyarakat India.
 
Di tahun 1940-an, pemerintah kolonial Inggris di London secara aktif memperkenalkan pembangunan komunitas ke seluruh wilayah jajahannya. Pemerintah kolonial Perancis juga mengadopsi pembangunan komunitas dalam bentuk animasi masyarakat dan hal itu diterapkan di Amerika sebagai wilayah jajahannya. 
 
Contohnya, Amerika Serikat pada tahun 1960-an secara aktif menyebarluaskan konsep pembangunan komunitas di Amerika Latin, sebagai bagian dari bantuan program yang diperkenalkan di bawah aliansi untuk kemajuan.
 
PERBEDAAN KONSEP PEMBANGUNAN KOMUNITAS / MASYARAKAT
 
Walaupun program pembangunan komunitas berbeda-beda di berbagai belahan dunia, namun ciri utamanya sama. 
 
David Brahensha dan  Peter Hodge (1969) mencatat bahwa pembangunan komunitas dilaksanakan dengan jalan berbeda pula. Contohnya, ada perbedaan besar di dalam struktur administrasi dari  pembangunan komunitas yang berbeda-beda di seluruh dunia. 
 
Beberapa negara pembangunan komunitas berkait erat dengan pemerintah lokal. Pendekatan ini menekankan organisasi politik lokal dan usaha bersama yang dikendalikan oleh pemimpin lokal, yang fungsinya membantu pemerintah pusat. Di negara lainnya, pembangunan komunitas berhubungan langsung dengan perluasan pertanian. 
 
Di sini tenaga pembangunan komunitas merupakan pegawai dari departemen pertanian. Di wilayah lain juga muncul model yang berbeda dari kesejahteraan sosial, terutama di Afrika Barat yang mengadopsi pengembangan komunitas dengan menekankan adanya penciptaan ekonomi pada level pedesaan dan proyek-proyek sosial.  
 
Kebanyakan kasus, pembangunan komunitas diadopsi dari pendekatan modernisasi, yang berusaha mendorong adanya tempat yang menjadi sentra-sentra komunitas, seperti sekolah, jalan, klinik, dan proyek sanitasi air bersih. 
 
Namun, di kasus yang lain, lebih ditekankan pada suatu hal yang bersifat non material dan aspek idea. Kesemuanya itu termasuk dalam usaha memperkuat identitas komunitas, juga memperkuat partisipasi demokrasi dan mendorong kemampuan diri sendiri serta lingkungannya. Idea yang demikian merupakan ciri penting di dalam teori pembangunan komunitas. Hal ini seringkali ditekankan pada upaya mendorong individu dalam pembangunan komunitas, seperti para pekerja sosial di Amerika yang melihat stress sebagai suatu aspek ideal.
 
Program pembangunan komunitas juga dipengaruhi kondisi geografis. Ronald Dore dan Zoe Mers (1981) mengatakan bahwa banyak negara mengorganisir pengembangan komunitas sebagai program dasar nasional yang dilaksanakan dan dikendalikan oleh pemerintah pusat dan propinsi. 
 
Penmbangunan komunitas lainnya melekat pada kegiatan ideologi dan politik yang dikendalikan oleh partai politik. Contohnya, sistem komunis di Cina dan juga program Ujamma di Tanzania. Sedangkan yang lainnya dalam lingkup lokal dan difokuskan pada komunitas tertentu. 
 
Hal ini juga dianggap benar bahwa porgram pembangunan komunitas dilaksanakan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat lokal itu sendiri. Di antaranya adalah proyek Commilla di Bangledesh yang mendapat perhatian internasional. Tambahan lagi, ketika kebanyakan program pembangunan komunitas dilaksanakan di wilayah pedesaan, dan juga di perkotaan, khususnya di wilayah kumuh dan padat.
 
Program pembangunan komunitas yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun LSM mempunyai ciri-ciri operasional yang sama. Pada umumnya tergantung kepada kemampuan tenaga kerja profesional dalam memobilisir partisipasi masyarakat lokal, serta mengorganisisr kegiatan dengan mengaitkan sumberdaya eksternal dari komunitas tersebut. 
 
Para pekerjanya merupakan pegawai dari badan-badan pembangunan komunitas. Namun, program pembangunan komunitas juga menggunakan tenaga kerja lokal yang telah mendapatkan pelatihan untuk tugas tertentu. Kebanyakan program kegiatan sedapat mungkin melibatkan partisipasi masyarakat lokal secara luas. Pembangunan komunitas juga bisa dirumuskan sebagai suatu kerjasama antara badan-badan di luar komunitas itu dengan komunitas lokal.
 
Pada umumnya masyarakat lokal memberikan sumbangan sebagai tenaga kerja dan sumberdaya lokal lainnya yang tenaga eksternal dan tenaga ahli disediakan oleh biro atau agen pengembangan komunitas. Sekarang sudah sangat banyak bahan bacaan tentang pembangunan komunitas yang tidak hanya menjelaskan teknik-teknik yang digunakan oleh tenaga ahli pembangunan komunitas, tetapi juga prinsip dan teori dalam rangka pelaksanaan pembangunaan komunitas. 
 
Sebagaimana diuraikan di dalam bab sebelumnya, dua prinsip dasar pembangunan komunitas adalah self-help dan self-determination. Keduanya merupakan ciri utama dari teori pengembangan komunitas. Walaupun, pembangunan komunitas tidak selalu segera dapat diwujudkan, tetapi paling tidak telah merupakan upaya efektif guna meningkatkan pembangunan sosial, dan khususnya dalam konteks pembangunan ekonomi. 
 
Proyek pembangunan komunitas lokal secara signifikan telah mampu memberi sumbangan terwujudnya inprastruktur fisik secara luas. Banyak masyarakat desa yang  telah  bisa membangun jaringan jalan guna memperlancar komunikasi, tetapi juga mampu meningkatkan akses pasar dan mengirim barang serta teknologi. Seperti halnya di atas, program pembangunan irigasi, pembersihan lahan, pemeliharaan dan pemupukan tanaman telah mampu mendorong pembangunan ekonomi masyarakat lokal.
 
Program pembangunan komunitas juga mampu memperkuat kegiatan produktif. Banyak warga masyarakat dengan sadar secara bersama-sama membantu meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya, menyimpan, membuka pasar, dan menjual hasil produksi barangnya. Peran kerjasama dalam pembangunan komunitas lokal telah berkembang sangat luas. 
 
Tambahan lagi, pembangunan  komunitas telah membantu pembangunan ekonomi dengan menciptakan infrastruktur sosial dan program sosial lainnya guna mempertinggi keadaan modal sosial dan manusia. Program pembangunan komunitas, telah menyebar ke seluruh dunia dengan membangun sekolah, klinik kesehatan, air bersih dan proyek sanitasi yang bisa meningkatkan produktivitas komunitas lokal maupun merubah kondisi modal sosial.
 
Walaupun munculnya pembangunan komunitas di dalam konteks pembangunan dunia ketiga, namun konsep tersebut masih sangat relevan di dalan negara industri maju. Tentu saja, pekerja sosial di negara maju telah lama menggunakan pendekatan komunitas sebagai bentuk advokasi dan intervensinya.
 
Di banyak negara program dengan melandaskan komunitas telah banyak diperkenalkan. Contohnya, program perang melawan kemiskinan di tahun 1960-an di Amerika digunakan secara luas sebagai pendekatan  berdasar komunitas yang berusaha untuk mengurangi jumlah kemiskinan. 
 
Namun, James Midgley dan Peter Simbi (1993) menjelaskan bahwa pembangunan  komunitas di negara industri jarang memperlihatkan  pembangunan ekonomi. Mereka menyarankan bahwa negara industri dapat belajar dari pengalaman dunia ketiga dan mengadopsinya ke dalam pembangunan ekonomi mereka.

KEGIATAN KOMUNITAS, PARTISIPASI DAN PEMBANGUNAN
 
Walaupun tidak mendapat perhatian para ahli, namun telah menyebar luas kekecewaan tentang pembangunan komunitas selama tahun 1970-an. Banyak krisis akibat dari birokrasi pembangunan sosial da ekonomi menjadi sangat panjang dan tidak efisien, terjadi banyak korupsi di mana-mana. 
 
Di akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, sewaktu krisis moneter yang juga dahsyat waktu itu banyak program pembangunan komunitas yang tidak bisa berjalan dan bahkan mengalami kerugian. Hanya sedikit yang dapat dilakukan adalah menyediakan sumberdaya bagi proyek-proyek pembangunan komunitas tertentu dan hanya dapat memberikan upah para pekerjanya.
 
Akibatnya banyak negara yang menjadi tidak yakin atas program pembangunan komunitas yang dicanangkan oleh pemerintah sehingga kemampuan pembangunan komunitas untuk meningkatkan pembangunan sosial terganggu. Kritik yang lain terhadap program pembangunan komunitas selama tahun 1970-an yakni, pemerintah ternyata menggunakan pembangunan komunitas untuk mengendalikan kepentingan politik atas kepentingan masyarakat. 
 
David Brohensha dan Peter Hodge ( 1969) mengemukakan bahwa program pembangunan komunitas dilaksanakan oleh pemerintah komunis dengan jalan kekerasan. Pembangunan sosial ternyata juga bermaksud untuk menguras sumberdaya yang ada di wilayah perdesaan. Sebagaimana yang terjadi di Mexico bahwa program pembangunan komunitas justru menimbulkan keterbelakangan dan kemiskinan di  tengah masyarakat.
 
Penulis lainnya tidak menuduh adanya motif konspirasi pemerintah, tetapi menuduh pembangunan komunitas menjadi alat untuk mengusahakan kepentingan politik pemerintah pusat atas program pembangunan masyarkat lokal. 
 
Walaupun pembangunan komunitas didasarkan atas kenyakinan bahwa masyarakat itu sendiri dapat menentukan bentuk pembangunannya, mereka juga menuntut pembangunan masyarakat jangan hanya dianggap sebagai kebijakan untuk menyelenggarakan kepentingan pusat atas kepentingan pemerintah daerah. Melihat lagi konsep pembangunan komunitas dengan animasi di Afrika Barat ternyata  hal itu sangat bertentangan dengan kepentingan pemerintah lokal.
 
Pendekatan partisipasi komunitas radikal menjadi sangat dikenal di dalam kajian pembangunan sosial di tahun 1970-an dan tahun 1980-an yang mempunyai akar sejarah yang panjang. Pada masa itu banyak kegiatan masyarakat muncul karena terinspirasi dari teori Marxist dan tradisi revolusi Mao. 
 
Berdasarkan atas teori kapitalisme pada masa itu diyakini dapat memunculkan masalah kemiskinan dan ketimpangan di dunia ketiga. Penganut teori Marxist dan Mao menyatakan bahwa kegiatan komunitas dengan memobilisasi berbagai hal dengan jumlah sangat besar akan menghasilkan pemodal besar dan menciptakan lembaga-lembaga yang bisa terkenal dan besar yang bisa menjamin kehidupan seluruh masyarakat. 
 
Ketika kegiatan komunitas terinpirasi oleh idea yang revolusioner, pendekatan kegiatan komunitas sesungguhnya lebih membela orang miskin daripada model sosialisme. Banyak buku literatur yang menjelaskan bahwa idea tersebut merupakan refleksi dari pekerja sosial komunitas Amerika, yaitu Saul Alinsky (1971) yang merupakan tokoh sukses di dalam menyebarluaskan kegiatan komunitas di Chicago dan dari tulisannya telah disebarluaskan. 
 
Banyak penganjur dari kegiatan komunitas  juga terinspirasi dari hasil kerja penulis Brasil Paulo Freire (1972) yang mengemukakan teorinya tentang Conscientization yang merupakan rencana praktis bagi orang miskin untuk mencapai kedudukan di dalam pilitik dan berguna untuk mengorganisir mereka di dalam mengendalikan masalah mereka sendiri. Memegang idea ini, banyak penganjur pendekatan komunitas dapat mentransformasi pengembangan komunitas kepada pendekatan yang lebih politis dan aktif.
 
Namun, partisipasi komunitas sesungguhnya hampir mirip dengan pendekatan pengembangan komunitas di masa kolonial. Serupa dengan itu pembangunan komunitas, partisipasi komunitas sesungguhnya tergantung kepada pekerja sosial yang terlatih, yang bertanggung jawab kepada upaya memberi motivasi masyarakat lokal untuk berpartisipasi di dalam proyek dan mengajari mereka taktik untuk menyusun dan melaksanakan program kegiatan komunitas. 
 
Tidak sama dengan tenaga pembangunan komunitas, pekerja sosial komunitas sangat aktif dan mereka sesungguhnya merupakan bagian penting dari masyarakat karena mempunyai tujuan tertentu, melakukan kritik dan melakukan penyebarluasan program untuk mencapai tujuan komunitas.
 
Tidak sama dengan pembangunan komunitas, pendekatan tindakan komunitas berupaya untuk menangani orang miskin dan kelompok-kelompok masyarakat yang tidak berdaya. Ketika pekerja sosial pengembangan komunitas mencari langkah yang tepat, mereka menemui tokoh masyarakat lokal dan melakukan pemberdayaan kepada mereka. 
 
Namun, para pembela pendekatan ini, tindakan komunitas, membela bahwa kegiatan yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa orang miskin menjadi lebih apatis, tidak menunjukkan partisipasinya di dalam kegiatan komunitas.

di masyarakat atau komunitaa ada Conscientization menghasilkan hasrat yang tinggi untuk melihat suatu keadaan yang tidak seimbang dan menindas itu sesungguhnya bermula dari keadaan kemiskinan dan perampasan hak mereka dalam masa kolonial. 
 
Dengan keadaan itu mendomunculnya lembaga-lembaga yang ada di masyarakat lokal serta organisasi kemasyarakatan lainnya untuk mengubah kondisi yang ada menjadi lebih baik. Pengerahan massa, diskusi kelompok terfokus, dan kegiatan serupa yang lain di dalam kehidupan masyarakat lokal  dapat memperkuat partisipasi masyarakat, yang demikian ini dapat memperkuat proses pengembangan komunitas.
 
Walaupun partisipasi komunitas selalu berusaha untuk memperkuat kepeminpinan lokal di komunitas itu, namun pemimpin memegang peranan penting dalam hal tanggung jawab dan mereka masih memerlukan dukungan dan pertimbangan dari komunitas yang dipimpinnya.
 
Organisasi dan lembaga lokal muncul sesungguhnya berfungsi untuk membantu dalam memperkokoh hubungan yang  terjadi antara lembaga-lembaga itu dengan partisipasi masyarakat serta hubungannya dengan lembaga-lembaga non pemerintah lainnya. Proses pengembangan organisasi lokal akan dapat lebih efektif jikalau difasilitasi oleh proyek-proyek khusus pemerintah yang sukses, yang pada gilirannya memberikan kegiatan yang lebih banyak di masa yang akan datang.
 
Walaupun kegiatan masyaraka atau komunitas sesungguhnya merupakan kegiatan yang bersifat semu dan seringkali disebut dengan anti kemapanan, hal itu sesungguhnya merupakan keberhasilan dari lembaga internasional dan banyak pemerintah di negara dunia ketiga memberikan bantuannya juga. Sebagaimana diuraikan di dalam bab sebelumnya, perserikatan bangsa-bangsa (PBB) merupakan lembaga internasional yang memberikan dukungan secara aktif dalam rangka mendorong munculnya partisipasi masyarakat di dalam komunitas dengan menggabungkan ke dalam perencanaan sosial, yang banyak mendapatkan kritik di tahun 1970-an. 
 
UNICEF, merupakan lembaga yang pertama kali memberikan bantuan terhadap masalah kesehatan ibu dan anak di berbagai negara berkembang, dengan model partisipasi masyarakat. Hal demikian menjadi kunci dari berbagai program yang dilaksanakan di banyak negara. Keberhasilan program tersebut telah ditunjukkan adanya suatu sistem pendekatan kegiatan komunitas, terutama dalam membantu dan mengorganisir berbagai kegiatan yang melibatkan kaum perempuan dalam upaya mewujudkan kesehatan ibu dan anak di seluruh dunia (UNICEF, 1982).
 
Para penganjur pendekatan yang menggunakan kegiatan komunitas mengharapkan bahwa komunitas lokal dapat bekerja lebih efektif dalam mengorganisir kegiatan dan mengidentifikasi kebutuhan yang ada di masyarakat tersebut. Program kegiatannya dapat memperkuat kondisi ekonomi mereka dan kesejahteraannya. 
 
Ketika kegiatan komunitas seringkali tumpang tindih antara proyek kegiatan di bidang  ekonomi dan kegiatan di bidang sosial seperti yang terjadi di berbagai tempat, maka para penganjur masih mempunyai keyakinan bahwa kegiatan komunitas yang dapat berjalan efktif akan dapat mencapai tujuan pembangunan sosial. 
 
Oleh karena itu, ketika pembangunan sosial dituntut keberhasilannya seperti diuraikan di atas, maka diperlukan bantuan dari pemerintah mengenai sumberdaya yang diperlukan di dalam kegiatan komunitas tersebut. Kepemilikan bersama atas aset yang ada di komunitas tersebut akan sangat membantu keberhasilan pembangunan sosial, karena setiap kegiatan akan mendorong terjadinya perubahan sosial. 
 
Keyakinan keberhasilan dari kegiatan komunitas ini juga disampaikan oleh Midgley dan Sahabatnya (1986) bahwa keberhasilan dengan menggunakan kegiatan komunitas tidak hanya sebuah retorika dan ideolog belaka, tetapi di dalam masyarakat terjadi adanya komitmen yang tinggi dengan disertai analisis yang hati-hati tentang keefekifan semua kegiatan yang ada di masyarakat dengan segala perangkat sistem sosialnya.
 
PEREMPUAN, GENDER DAN PEMBANGUNAN
 
Para ahli ilmu sosial telah lama tertarik mempelajari peran-peran yang berbeda antara perempuan dan laki-laki di dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan konsep gender telah digunakan secara luas di dalam kasanah ilmu pengetahuan sosial untuk menunjukkan peran-peran yang berbeda antara perempuan dan laki-laki secara kultural. 
 
Gender sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan ciri-ciri seksual, tetapi gender lebih didasarkan pada perbedaan ciri sosial budaya. Sebagaimana antropolog dan juga sosiolog telah banyak mengemukakan bahwa peran yang bervariasi bagi perempuan dan laki-laki di berbagai masyarakat (Mead, 1992). Perbedaan peran itu menjadi bukti adanya tanda-tanda tertentu dengan melihat bentuk pekerjaan perempuan dan laki-laki pada masyarakat tertentu.
 
Meskipun banyak jenisnya peran yang dimainkan oleh perempuan dan laki-laki, tetapi peran dari segi gender ternyata memang mengandung berbagai perbedaan. Beberapa perkecualian, yang para ilmuwan menganalisis tentang pembagian kerja yang didasarkan atas gender memang berbeda dan sulit untuk disamakan. Di banyak masyarakat, pembagian kerja dihubungkan dengan keadaan rumah tangga.
 
Sebagimana Barbara Roger (1980) kemukakan bahwa dominasi ideologi terhadap laki-laki di banyak masyarakat mengakibatkan perempuan memegang peran gender sebagai ibu dari anak-anaknya, ibu rumah tangga, dan pengasuh. Peranan demikian tidak hanya membosankan, berulang-ulang dan jauh dari kepuasan kerja, tetapi Roger menjelaskan bahwa peranan laki-laki di berbagai masyarakat lebih tinggi daripada perempuan. 
 
Walaupun pekerjaan kerumahtanggan (domestik) sesungguhnya disertai dengan diskriminasi di dalam keluarga, tetapi hal demikian terus terjadi sampai sekarang di masyarakat. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi perempuan selalu tertinggal, oleh karena itu, perempuan selalu terpinggirkan, mereka harus mengasuh anak dan harus menyediakan berbagai keperluan bagi seluruh anggota rumahtangganya.
 
Serupa dengan di atas, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di luar rumah (publik) juga sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena kebanyakan perempuan memang tidak ingin mencari pekerjaan di pasar kerja. Beberapa wanita yang mendapatkan kesempatan kerja di sektor publik seringkali juga mengalami perlakukan yang tidak adil, lebih rendah pendapatannya, seringkali dalam situasi tereksploitasi. Secara budaya juga hampir sama, perempuan selalu dibatasi ruang geraknya, banyak kuwajibannya, dan sedikit hak-haknya. Di banyak masyarakat masyarakat sekarang ini, perempuan terkekang kebebasannya, terdiskriminasi, dan tertindas.
 
Dalam pandangan lembaga, perempuan memang terdeskriminasi, hal demikian memang tidak mengherankan karena perempuan telah lama disia-siakan dalam proses pembangunan. Sebagaimana Roger tunjukkan bahwa wanita amat jarang dapat bekerja di lembaga-lembaga pemerintah atau organisasi internasional yang menangani masalah pembangunan. 
 
Kebijakan pembangunan, dan perencanaan proyek pembangunan pada umumnya dikonstruksi oleh kaum laki-laki dan berupaya untuk memenuhi kepentingan laki-laki, amat sedikit perempuan dihargai keberadaannya, kebutuhannya, dan pemikirannya. Di dalam struktur patriakal yang ada di berbagai kebudayaan pembangunan selalu didukunga oleh berbagai strategi. Kelalaian memunculkan kepentingan perempuan, menyia-nyiakannya semakin membuat lebih buruk kondisi dan standart hidup perempuan. 
 
Julia Cleves Mosse (1993) melaporkan bahwa pengaruh resisi ekonomi global dapat mempengaruhi kebijakan yang harus diambil oleh suatu pemerintah dan secara struktural dapat menimbulkan pengaruh terhadap pendapatan perempuan miskin dan seluruh keluarganya. Sebagaimana telah diuarikan sebelumnya, dengan mengsampingkan posisi dan peran perempuan, di banyak masyarakat dan komunitas sekarang ini, dianggap sebagai bentuk dari destorsi pembangunan atau Vandana Shiva (1989) katakan sebagai kegagalan dan kesalahan pembangunan.
 
Upaya untuk menempatkan posisi perempuan dalam konteks pembangunan merupakan momentum yang baik di akhir abad lalu dan awal abad sekarang. Salah satu orang yang membahas issu perempuan adalah Ester Boserup (1970) merupakan tokoh yang selalu memperhatikan kondisi yang paradoks mengenai perempuan, khususnya perempuan di pedesaan, yang mereka menyumbang sangat besar proses pembangunan. Ketika perempuan tersebut hanya sedikit menerima keuntungan dari usaha pembangunan. 
 
Dibandingan dengan keyakinan mengenai perempuan yang merupakan tenaga kerja aktif di bidang pertanian dan selalu berhubungan dengan pekerjaan pertanian. Namun, dalam kenyataannya perempuan selalu dilupakan oleh ahli-ahli pembangunan, yang mereka hanya merumuskan model pembangunan ekonomi dan berfokus pada tenaga kerja laki-laki dan proyek pembangunan itu memang dikonstruksi untuk menguntungkan laki-laki.
 
Kritik Bosserup telah menimbulkan pengaruh luar biasa besar dalam menjelaskan perhatian untuk selalu memperhatikan peran perempuan di dalam pembangunan. Tulisan Bosserup telah memberikan sumbangan langsung terhadap keputusan yang menyatakan bahwa tahun 1975 sebagai tahun perempuan dan pada tahun 1975 – 1980-an dianggap sebagai dekade atau tahun bangkitnya perempuan di seluruh dunia. Meskipun selama masa itu, belum mampu menumbuhkan kesadaran bagi semua orang tentang pentingnya perempuan dalam pembangunan, paling tidak telah membawa angin segar yang mensejajarkan posisi perempuan dan laki-laki.
 
Caroline Moser ( 1989) telah membahas ulang berbagai pendekatan mengenai peran perempuan dalam pembangunan di beberapa tahun belakangan, yang telah menempatkan masalah gender di dalam pembangunan yang dirumuskan.
 
Pertama
 
Disebut dengan pendekatan kesejahteraan sosial. Di dalam pendekatan ini perempuan dipandang sebagai penerima pembangunan secara pasif yang pembangunan itu dikonstruksi untuk memenuhi kebutuah perempuan sebagai ibu dari anak-anaknya dan ibu rumah tangga. Di banyak negara berkembang, menteri yang menangani bidang kesejahteraan sosial telah menempatkan program pembangunan untuk perempuan, khususnya berbagai kegiatan untuk meningkatkan kegiatan di dalam rumah tangga serta menyediakan layanan kesejahteraan sosial bagi ibu hamil, melahirkan, ibu menyusui bayinya dan berbagai keperluan yang dibutuhkan.
 
Kedua
 
Disebut dengan pendekatan pemerataan. Dalam pendekatan ini pembangunan berupaya untuk memperkuat status dan peran perempuan serta berupaya mensejajarkan posisi perempuan dengan laki-laki sampai hak-haknya mendapatkan kerja, sama penghasilannya, dan sama besar kesempatan di dalam mendapatkan pekerjaan. Namun, pendekatan kesetaraan ini kurang berhasil di banyak negara berkembang, karena negara-negara tersebut ada faham bahwa kesetaraan antara perempuan dan laki-laki merupakan konsep kultural dari negara maju.
 
Ketiga
 
Pendekatan ini disebut dengan anti kemiskinan. Di dalam pendekatan ini disebut demikian karena pendekatan ini berupaya untuk mendorong agar supaya perempuan lebih produktif secara mandiri, khususnya perempuan yang berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. 
 
Pendekatan ini dimaksudkan agar perempuan yang mempunyai kedudukan rendah konsekuensinya mempunyai penghasilan sangat rendah pula dan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dengan memberikan proyek yang berupaya untuk meningkatkan penghasilan usaha kecil di antara perempuan miskin tersebut, perempuan akan dapat memperkua posisinya di dalam pembangunan ekonomi.
 
Keempat
 
Disebut dengan pendekatan efisiensi. Disebut demikian karena pendekatan ini berupaya untuk memperkuat hal-hal yang berkaitan dengan perempuan di dalam pembangunan mulai dari proses dasar. Perempuan sesungguhnya merupakan sumberdaya yang produktif guna meningkatkan pembangunan ekonomi.
 
Kelima
 
Disebut dengan pendekatan pemberdayaan. Pendekatan ini berupaya memberdayakan perempuan itu sendiri. Pendekatan ini merupakan suatu tanda bahwa perempuan selalu direndahkan posisinya di dalam pembangunan yang fahamnya patriakal, tetapi juga imperalisasi dan kolonialisasi bagi perempuan.
 
Isi pendekatan ini adalah berupaya agar supaya posisi perempuan dapat meningkat ketika perempuan tersebut menjadi bagian sangat penting dan selalu diri serta penuh ketrampilan dalam mengendalikan keputusannya sendiri, yang hal ini dapat mempengaruhi kehidupannya. 
 
Untuk dapat mewujudkan tujuan-tujuan di atas, perempuan harus memobilisasi diri mulai dari strategi dasar sampai puncak untuk mempromosikan dan mengorganisir yang ada pada perempuan. Untuk memberdayakan secara penuh berbagai organisasi perempuan harus melakukan perlawanan yang menjadi penghalang dari keberdayaan mereka.
 
Demi mewujudkan pendekatan terakhir diperlukan beberapa seruan kepada berbagai kelompok dan organisasi perempuan agar terus berupaya untuk meningkatkan posisi wanita di dalam kehidupan bersama laki-laki. Satu kelompok atau organisasi wanita yang telah menarik perhatian lembaga internasional dengan melakukan pemberdayaan adalah DAWN (Development Alternatif with Women for New Era).
 
Lembaga ini telah ditetapkan melalui konferensi Internasional perempuan dunia yang diselenggarakan di Nairobi pada tahun 1985. sebagaimana yang dilaporkan Moser, DAWN telah diadopsi ke dalam berbagai program pembangunan baik jangka panjang maupun jangka pendek. 
 
Strategi jangka panjangnya adalah melakukan perubahan norma, hukum dan peraturan lainnya yang berdampak negatif kepada perempuan, merubah perlakuan diskriminasi kepemilikan harta benda, merubah lembaga-lembaga yang ada berdasarkan kebudayaan untuk dapat mengurangi dominasi laki-laki di dalam kehidupan masyarakat. 
 
Dalam strategi jangka pendek organisasi tersebut berupaya untuk meningkatkan peran perempuan dalam kegiatan ekonomi produktif melalui kegiatan mandiri maupun bersama-sama, memberikan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dan luas, meningkatkan kapasitas atau kemampuan perempuan yang selama ini banyak menggantungkan hidupnya kepada laki-laki terutama dari sektor pertanian dan sangat sedikit dari sektor yang lain.
 
Pendekatan pemberdayaan sebagaimana disarankan oleh DAWN telah diadopsi ke dalam berbagai organisasi perempuan lokal dan organisasi internasional ke seluruh dunia. Sebagaimana diungkapkan oleh Moser, kelompok-kelompok perempuan menggunakan berbagai strategi untuk mencapai suatu tujuan, namun kegiatan yang merupakan organisasi yang mengusung kegiatan sosial lebih dikenal. 
 
Moser melaporkan bahwa Gabriella, membentuk perserikatan perempuan di Fhilipina yang sukses dalam memberikan pemberdayaan kepada perempuan sehingga mencuri perhatian seluruh masyarakat karena mampu meningkatkan hak azasi perempuan di negara tersebut. 
 
Di Bombay, kelompok-kelompok perempuan dapat mengorganisir diri secara efektif sehingga mampu meningkatkan dan memperbaiki kondisi rumah tangga, mengubah hukum adat dan mengubah keyakinan pemerintah melawan pemerkosaan dan melakukan pembakaran jembatan. 
 
Sedangkan di Ahmadabad, kelompok perempuan yang  berpenghasilan rendah yang bekerja secara mandiri telah berhasil mengorganisir diri dalam menghadapi gangguan dan eksploitasi yang dilakukan oleh makelar atau tengkulak, dan mereka mampu mendirikan bank, koperasi, melakukan peningkatan ketrampilan, dan mendirikan penjamin (asuransi) sosial secara informal. 
 
Sebagaimana disampaikan oleh Arline Prigoff (1992) yang menyatakan bahwa kelompok perempuan di banyak negara mengalami keberhasilan dalam meningkatkan kesejahteraannya di dalam konteks pendekatan gender pembangunan sosial.
 
Tidak bisa dihitung  jumlahnya organisasi perempuan di seluruh dunia yang telah melakukan kegiatan secara efektif bersama dengan pendekatan komunitas di dalam rangka pembangunan sosial. 
 
Banyak organisasi perempuan telah mengadopsi dua pendekatan yaitu pembangunan masyarakat dan teknikmelakukan pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan apa yang diinginkan dan dengan kegiatan demikian kelompok perempuan tersebut dapat memperkuat solidaritas di antara perempuan. Namun, ketika perhatian perempuan di dalam memberdayakan dirinya ternyata berasal dari masyarakat yang ide itu bermula dari status gender secara umum, sehingga tujuannya menjadi meluas. 
 
Sebagimana yang dilakukan oleh DAWN, organisasi ini berupaya untuk menciptakan suatu dunia antara perempuan dan laki-laki yang tidak didasari atas perbedaan kelas, gender, dan ras, yang kesemuanya diharapkan hilang di semua negara dan hubungan antar negara. Khususnya perempuan mungkin menggunakan pendekatan yang didasarkan atas gender dalam pendekatan pembangunan sosial yang bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sungguh-sungguh secara total adanya kesamaan disegala hal antara perempuan dan laki-laki.
 
 
jember, 28 - 09 2022
Dr. Purwowibowo, M.Si
 
 
 

Post a Comment

0 Comments