Oleh: Purwowibowo
Pendahuluan
Definisi pembangunan sosial seperti yang telah dijelaskan dalam materi sebelumnya, hanya salah satu dari banyak definisi yang dipergunakan. Guna untuk lebih memahami perbedaan konsep yang telah digunakan, maka di bawah ini dikemukakan definisi pembangunan sosial sesuai bidang ilmu yang terkait. Hal ini digunakan sebagai pemahaman dari perspektif tertentu dan untuk memperkaya konsep dan definisi pembangunan sosial.
Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para akademisi dari berbagai disiplin yang berbeda juga memberikan sumbangan dalam merumuskan definisi pembangunan sosial.
Pendekatan ekonomi politik, merupakan salah satu bidang ilmu yang telah memberikan inspirasi tentang pemikiran pembangunan sosial. Selain itu, dikemukakan juga tentang kerangka ilmiah yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan bidang ekonomi dan proses pembangunan sosial.
Hal tersebut dimaksudkan untuk mempertinggi usaha kesejahteraan sosial. Selain itu, berbagai karakteristik interdisiplin juga memberikan wawasan yang lebih luas tentang pembangunan sosial.
KONSEP PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM DISIPLIN ILMU SOSIAL
1. PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Dalam psikologi, istilah pembangunan sosial secara umum digunakan untuk menggambarkan tentang perkembangan anak dan khususnya mengenai ketrampilan tertentu yang telah dikuasai anak. Ahli dan ilmuwan psikologi serta psikolog yang mengkhususkan diri dalam bidang ini menyebutnya dengan ’psikologi perkembangan’.
Pekerja sosial yakin, dalam pemikiran psikologi, pembangunan sosial merupakan suatu proses positif dari perkembangan kepribadian yang mendorong individu dan juga masyarakat secara kolektif menuju pada terwujudnya kesejahteraan sosial.
Selain itu, pekerja sosial yakin, manakala individu berkembang secara psikologis melalui pengalaman pribadi dan proses belajar bersama (social learning). Dengan keduanya, maka seorang individu mengalami perkembangan sosial yang oleh Henry Maas (1984), disebut berkembang secara sosial atau social development dari kacamata atau perspektif psikologi.
2. PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM SOSIOLOGIKonsep pembangunan sosial tidak secara tegas dikemukakan dalam konsep sosiologi. Namun, para sosiolog sekarang ini, memperkenalkan konsep pembangunan sosial di awal abad XX. Pertama kali digunakan dalam konteks studi sosilogi, terkait dengan perubahan sosial, yang merupakan kajian penting sosiologis.
Perubahan sosial merupakan transformasi kecil, sederhana, dan kemudian menjadi masyarakat besar, kompleks, heterogen, dan meningkatnya modernisasi di semua kehidupan. Kesemuanya disebabkan oleh perubahan sosial, yang dirancang pemerintah atau pihak yang berwenang.
Sosiolog Herbert Spencer, menentang intervensi pemerintah terhadap masalah sosial yang muncul di masyarakat, dalam bentuk pemberian bantuan dan amal (charity dan philanthropy). Selain itu, keterlibatan individu dan masyarakat dalam proses perubahan sosial terjadi secara alami. Jika ada intervensi dapat mengganggu terjadinya proses perubahan sosial.
Sosiolog lainnya berpendapat, bahwa suatu perubahan sosial dipengaruhi oleh intervensi pihak pemerintah. Mereka berpendapat bahwa perubahan sosial dapat dirancang dan kemudian diterapkan. Oleh karena itu, mereka menggunakan istilah sosiologi terapan, yang dikaitkan dengan peningkatan kondisi sosial masyarakat.
Sosiolog Inggris Leornard Bobhouse (1924), menjelaskan bahwa tingkah laku manusia bersifat rasional yang dapat dikendalikan melalui perubahan sosial yang dirancang dan diintervensikan. Berdasarkan pendapat ini, kemudian intervensi pihak lain dan juga pemerintah, merupakan hal penting dan dapat diimplementasikan, agar perubahan sosial lebih cepat dan dapat dikendalikan.
Auguste Comte, bapak sosiologi, menyatakan bahwa pembangunan sosial sebagai proses, yang pemerintah dapat mengambil peran dengan melakukan perencanaan logis guna mendorong integrasi sosial dalam mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat.
Konsep pembangunan sosial menjelaskan bahwa pemerintah dapat mengendalikan dan mempengaruhi pembangunan sosial manakala dirancang, diintegrasikan, diimplementasikan melalui perencanaan ekonomi dan sosial secara holistic.
Berdasarkan hal tersebut Bobhouse, telah meletakan dasar intervensi sosial sampai akhir abad dua puluh lalu, tentang pembangunan sosial dirancang secara integrasi dan tergabung dalam pembuatan kebijakan secara terpadu. Kemudian, ada istilah perencanaan sosial yang dipopulerkan oleh Charles North (1932) dan diterima oleh sosiolog lainnya dan juga pekerja sosial.
Para pendukung konsep intervensi, didukung juga oleh Wonen Bennis dan kawan-kawannya yang telah menerbitkan bukunya yang berjudul ’Perubahan Sosial Melalui Perencanaan’ tahun 1961. Ditambah penulis lain, yakni Symon Chadal. bukunya berjudul ’Pembangunan Masyarakat, terbit tahun 1973.
Dengan penjelasan di atas, kemudian para sosiolog sepakat mendefinisikan pembangunan sosial sebagai proses perencanaan. Di dalamnya berisi petunjuk perubahan dan perencanaan, serta penerapan teknologi sosial yang logis. Selain suatu perubahan sosial harus dilandasi nilai demokrasi, kebebasan, dan terbuka luas kesempatan berusaha.
Keberadaan definisi pembangunan sosial dari perspektif sosiologis seperti diuraikan di atas, dapat memperkaya kasanah konsep tentang pembangunan sosial. Paling tidak dengan bantuan konsep dari sosiologi, konsep pembangunan sosial kemudian dikenal masyarakat luas di seluruh dunia.
3. PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Sesungguhnya, konsep pembangunan sosial menjadi populer setelah masuk dalam kasanah ilmu sosial, khususnya ilmu kesejahteraan sosial dan bidang pekerjaan sosial, di awal tahun 1980-an. Hal ini atas usaha keras dari kelompok kecil pekerja sosial di Amerika yang tergabung dalam Lembaga Sosial Internasional. Mereka banyak bekerja di negara berkembang.
Cikal bakal konsep pembangunan sosial dikemukakan oleh Frank Faiva (1977), John Jones dan Rama Pandey (1981) serta Daniel Sander (1982). Tulisan mereka sangat berpengaruh karena mampu mendorong pengembangan pendekatan pembangunan sosial di ilmu kesejahteraan sosial dan bidang pekerjaan sosial.
Pekerja sosial dan ilmuwan kesejahteraan sosial berusaha untuk memperkenalkan perspektif pembangunan sosial. Dengan membuat definisi tentang pembangunan sosial yang dapat diterima masyarakat luas.
Mereka menawarkan langkah ideal khusus, yakni adanya intervensi, guna mewujudkan kesejahteraan sosial. Namun, banyak definisi yang ditawarkan terlalu luas, sehingga kurang bermakna. Akibatnya, definisinya tidak jelas dan tidak sesuai dengan pemikiran para pekerja sosial.
Salah satu contoh kesulitan merumuskan pembangunan sosial dari perspektif Ilmu Kesejahteraan Sosial diungkapkan oleh Salima Umar (1979). Dia membuat definisi pembangunan sosial sebagai suatu proses kepedulian pencapaian kemampuan yang terintegrasi, seimbang, dan gabungan dari sosial dan ekonomi pembangunan di masyarakat. Selain itu, juga ditambahkan juga dengan pemberian penghargaan berupa nilai, martabat kemanusiaan, kesamaan, dan keadilan sosial.
Pembangunan sosial adalah menyeluruh (holistik), interdisiplin, antar sektor dan antar wilayah. Menurut catatannya pembangunan sosial membentuk masyarakat yang humanistik untuk mencapai kedamaian hidup di dunia, dan peningkatan kesejahteraan bagi semua orang.
Definisi demikian merupakan model yang ideal dan mulia, yang Omar, hal itu tidak hanya membawa pembangunan sosial sebagai suatu kegiatan profesional. Melainkan juga, membawa definisi pembangunan sosial mencapai tujuannya yakni mewujudkan atau memberikan peran pekerja sosial dalam proses pembangunan sosial.
Banyak definisi lainnya tentang pembangunan sosial yang para ilmuwan bidang kesejahteraan sosial dan bidang pekerjaan sosial justru membuatnya terlalu luas, ideal, dan tidak jelas dan terkait masalah praktis.
Kritik semacam itu datang dari Gary Lloyd (1982), yang menggambarkan dengan jelas bagaimana definisi pembangunan sosial dibuat samar-samar oleh para ilmuwan di bidang kesejahteraan sosial dan pekerja sosial. Lloyd, memperhatikan kebanyakan definisi yang dibuat gagal dalam menawarkan teori yang cocok untuk pembangunan sosial atau merupakan pedoman praktis mengenai bagaimana suatu pembangunan sosial ideal dapat diwujudkan.
Walaupun demikian, Lloyd banyak membaca literatur tentang bidang pekerjaan sosial dan bidang kesejahteraan sosial, nilai, aspirasi, dan kemuliaan Tuhan. Hal demikian hanya sebagai angan-angan daripada perspektif yang bisa diimplementasikan. Akibatnya, definisi pembangunan sosial mengalami perdebatan dan bahkan gagal di dalam mewujudkan perannya dalam mengimplementasikan pembangunan sosial secara nyata.
Meskipun kritik Lloyd sangat nyata, hal itu kemudian disadari oleh ilmuwan bidang kesejahteran sosial dan para pekerja sosial yang kemudian berusaha membuat definisi pembangunan sosial yang lebih khusus, dan praktis.
Di antaranya ada yang membuat definisi pembangunan sosial sebagai perspektif psiko-sosial yaitu suatu proses pertumbuhan individu atau aktualisasi diri. Para ilmuwan mencatat bahwa proses merupakan upaya memperkuat fungsi individu dan menghasilkan kemampuan diri dan kemampuan masayarakat. Jadi pembangunan sosial berorientasi pada individu, tetapi dapat sukses atau berhasil di dalam peningkatan kehidupan masyarakat.
Seperti diuraikan sebelumnya, pendahulu pendekatan ini adalah Henry Maas (1984) yang telah membuat definisi pembangunan sosial sebagai suatu proses yang manusia dapat menjadi bertambah kemampuannya dalam berinteraksi sesuai dengan kemampuannya dan tanggung jawabnya. Maas, menekankan interaksi sosial yang dapat digunakan untuk memperkuat diri individu, kelompok, dan masyarakat agar mereka dapat mengatasi masalah yang dihadapi.
Kelompok kedua, para ilmuwan bidang kesejahteraan sosial dan pekerja sosial, mendefinisikan pembangunan sosial dalam praktek yang di Amerika disebut dengan praktek pekerjaan sosial tidak langsung atau praktek pekerjaan sosial makro.
Praktek pekerjaan sosial demikian meliputi community organization, social planning dan administrasi pekerjaan sosial (social work administration). Pendekatan sistematis tentang pekerjaan sosial makro tersebut disampaikan oleh Irving Spergel (1978) yang membuat definisi pembangunan sosial sebagai praktek struktural makro yang peduli terhadap peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat.
Di dalam publikasinya Spergel menjelaskan secara rinci sejumlah kegiatan suatu lembaga yang diberi nama Enforcement Directorate (ED) merupakan lembaga yang bertugas merancang, melaksanakan, dan mengendalikan suatu proyek terbaik bagi pemuda yang berperilaku menyimpang. Dengan menggunakan proyek ini sebagai studi kasus Spergel menjelaskan bahwa kegiatan ED termasuk ke dalam peran pembangunan sosial.
Meskipun demikan, praktek individu dan praktek tidak langsung, keduanya merupakan pendekatan pembangunan sosial yang berusaha untuk memperkenalkan peranan praktek nyata bagi pekerja sosial. Hal tersebut tidak berbeda dan tidak menyimpang dengan praktek pekerja sosial sekarang ini. Bahkan, merupakan bentuk intervensi konvensional yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Di dalam pendekatan Maas, pembangunan sosial agak berbeda jauh dengan kegiatan pekerjaan sosial yang sudah lazim itu yang caseworker (CW) dan groupworker (GW) membantu pengembangan pribadi dan membantu mewujudkan aktualisasi diri melalui bimbingan dan pengalaman dari kelompoknya. Suatu pendekatan agak berbeda, yakni suatu intervensi yang disertai atau melibatkan organisasi masyarakat, kegiatan ketetanggaan, dan administrasi pekerjaan sosial.
Namun demikian, para ilmuwan bidang kesejahteraan dan bidang pekerjaan sosial terus berusaha untuk mendefinisikan pembangunan sosial sebagai model baru dari intervensi sosial. Salah satunya, membuat definisi pembangunan sosial lebih sederhana dan luwes.
Kelompok ilmuwan lainnya di bidang kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial, berusaha merumuskan pembangunan sosial yang bisa diterapkan dengan menyandarkan pada berbagai pendekatan yang melibatkan antar bidang ilmu dari studi pembangunan. Banyak pembangunan sosial sebelumnya telah diterapkan di dunia ketiga, yang telah diterima sebagai suatu jalan terbaik untuk melaksanakan pembangunan di negara berkembang tersebut.
Contohnya publikasi oleh Frank Faiva (1977, 1982) John Jones dan Rama Pandey (1981), serta Daniel Sander (1982) dan lainnya. Walaupun berbagai usaha itu kesemuanya berusaha untuk mengembangkan pembangunan sosial melalui penelitian berikutnya. Namun, mereka belum bisa menerima perspektif pembangunan sosial di dalam bidang pekerjaan sosial dan masih merupakan perspektif ilmu kesejahteraan sosial.
Usaha membuat definisi pembangunan sosial lainnya, yakni pembangunan sosial didefinisikan sebagai suatu pendekatan unik dan maju. Selain itu, menggabungkan isu praktis pembangunan sosial dan peduli terhadap program pembangunan nasional. Secara khusus, definisi pembangunan sosial menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan melekat pada perspektif intervensi ilmu kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial
4. PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM STUDI PEMBANGUNAN
Istilah pembangunan sosial sudah digunakan secara luas di dalam berbagai bidang ilmu di kawasan studi pembangunan. Awalnya digunakan untuk menyediakan berbagai layanan sosial di negara berkembang. Khususnya di dunia ketiga, yang pembangunan sosial mempunyai banyak arti terkait dengan definisi yang digunakan
Pembangunan sosial telah diperkenalkan oleh pemerintah pemimpin Kolonial Inggris di negara berkembang. Hal tersebut dikaitkan antara pemberian layanan kesejahteraan sosial dengan usaha pembangunan ekonomi. Kala itu, pembangunan ekonomi merupakan tujuan utama pemerintah kolonial dan para pendiri negara di berbagai negara, yang baru merdeka.
Konsep yang digunakan adalah negara kesejahteraan (welfare state), yang mana negera memperkenalkan program-program yang berhubungan dengan pemberian layanan sosial bagi orang yang dianggap mengalami masalah sosial. Kemudian muncul pemberian layanan sosial yang bersifat remedial dengan maksud memberikan sumbangsih positif negara terhadap pembangunan ekonomi.
Pemberian layanan sosial tradisional yang bersifat residual selama ini hanya menyediakan layanan bagi pengemis, remaja nakal, orang disabilitas dan berbagai kelompok penyandang masalah sosial lainnya. Kesemuanya memberikan keyakinan bahwa pembangunan sosial dapat memberikan kontribusi program pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
Pembangunan sosial terus dikembangkan, di Amerika dan kemudian menyebar ke seluruh dunia di tahun 50 an dan 60-an. Istilah pembangunan sosial tidak bisa diterima banyak pemerintah di dunia ketiga karena wujudnya berupa organisasi non pemerintah yang sering disebut dengan Non Government Organization (NGO).
Kemudian di Amerika dan Inggris mengkombinasikan pekerjaan sosial remedial dan pembangunan masyarakat. Di tahun 1960-an, ketika pertama kali pembangunan sosial menyebar ke seluruh dunia, pemerintah Amerika menawarkan definisi pembangunan sosial seperti itu.
Pemerintah Amerika mendesak bahwa konsep pembangunan sosial harus dibatasi pengertiannya untuk difokuskan pada pekerjaan sosial dan pembangunan masyarakat. Hal tersebut bertujuan untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, pembangunan sosial harus ada dan disertai peningkatkan partisipasi masyarakat dan integrasi pembangunan ekonomi dan perencanaan sosial.
Sekarang istilah pembangunan sosial digunakan di dalam konteks pembangunan di dunia ketiga, yang agak berbeda dengan sebelumnya. Banyak ahli menggunakan istilah pembangunan sosial lebih spesifik yang merupakan penyediaan pemberian layanan sosial oleh pemerintah yang dilaksanakan oleh menteri atau departemen sosial di negara berkembang.
Sebagaimana dijelaskan di depan, realisasi dari pembangunan sosial seringkali digunakan sebagai bentuk tanggung jawab dari suatu usaha dari lembaga pemerintah (ED). Tujuannya agar mampu merumuskan program-program pembangunan yang sesuai dan lebih tepat dengan kebutuhan atau keadaan negara yang bersangkutan.
Konsep demikian, digunakan sebagai alasan untuk memberikan justifikasi bahwa lembaga sosial di banyak negara berbeda dengan negara maju. Kondisi demikian mendorong pemimpin suatu derpartemen merubahnya yang terkadang merubahnya dengan menteri negara pembangunan sosial.
Dalam kaitannya dengan pembangunan sosial akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa pembangunan sosial meliputi pemberian layanan tradisional. Misalnya pekerjaan sosial residual casework, probation, social casework, social group work, dan program pembangunan masyarkat, pemberdayaan perempuan, pelayanan remaja, gizi dan penampungan anak.
Para ilmuan lainnya menggunakan istilah pembangunan sosial lebih luas yakni meliputi seluruh pemberian layanan sosial. Terkadang dalam istilah pemberian layanan kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial. Selain itu, mencakup juga pemberian layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan berbagai bidang sosial lainnya.
Dalam pendekatan ini, pembangunan sosial merupakan bentuk pemberian layanan sektor sosial umum, dan sering digunakan dalam konteks perencanaan nasional yang berkonotasi perencanaan dan pengkoordinasian berbagai layanan sosial.
Pembangunan sosial juga dimaknai atau bersinonim dengan perencanaan sektor sosial dan menteri negara di bidang sosial. Yakni suatu departemen yang menyediakan layanan sosial. Sebagai contoh, dalam pendekatan ini dikemukakan Hardiman dan Midley (1981 dan 1989), kebijakan sosial di dalam negara berkembang meliputi pembahasan isu kebijakan yang dapat mempengaruhi pelayanan sosial menyeluruh di negara dunia ketiga.
Pihak yang berwenang lain memperluas lingkup pembangunan sosial yang mencakup pemberian layanan sosial dan juga kebijakan sosial secara luas serta program-program yang langsung dapat mempengaruhi kesejahteraan sosial seluruh masyarakat di negara berkembang.
Dalam definisi ini, pembangunan sosial merupakan payung yang meliputi pemberian layanan sosial umum, perundangan kepemilikan tanah di pedesaan, partisipasi masyarakat, keluarga berencana dan kependudukan, serta strategi nasional untuk memperbaiki kondisi orang miskin dan juga usaha mempertinggi derajad kehidupan masyarakat. Definisi yang luas ini berhimpitan dengan pendekatan ekonomi politik.
5. PEMBANGUNAN SOSIAL DALAM EKONOMI POLITIK
Ekonomi politik adalah suatu pendekatan yang mengkombinasikan pengetahuan ekonomi, ilmu politik dan teori sosial yang peduli terhadap kepentingan nasional dan internasional.
Pembangunan sosial pertama kali digunakan abad ke 17 yang merupakan pengendalian masalah-masalah ekonomi di suatu negara berkembang, tetapi di akhir abad 20 lalu telah digantikan dengan ekonomi di jaman modern sekarang ini.
Pada awal abad 20 istilah ekonomi politik telah banyak digunakan untuk menjelaskan teori ekonomi klasik dari Adam Smith, David Ricardo, dan Karl Marx. Dengan bangkitnya ilmu sosial Marxist tahun 1960-an, ekonomi politik menjadi suatu ilmu yang sedang digemari dan digandrungi para ilmuwan sebagai suatu pendekatan pembangunan dan banyak digunakan ilmuwan sosial untuk dipertimbangkan dalam membuat semua keputusan politik.
Ekonomi politik tidak merupakan bidang studi tersendiri, namun hanya sedikit universitas telah memisahkan jurusan ekonomi politik. Walaupun ekonomi politik berhubungan dengan ilmu ekonomi sesungguhnya ilmu ekonomi politik merupakan pendekatan antar disiplin di dalam ilmu sosial yang berusaha mengintegrasikan berbagai pengetahuan umum ilmu sosial.
Ekonomi politik bukan hanya sekedar perspektif, atau model pemikiran ilmu sosial. Melainkan sebagai disiplin tertentu atau bagian disiplin ilmu sosial tertentu. Ekonomi politik langsung berfokus pada tema-tema sosial dan pertanyaan ekonomi. Persoalan ekonomi dikaitkan dengan nilai dan ideologi yang bisa mendorong dan mengembangkan perspektif makro dan dengan mudah dapat meletakkan suatu masalah ekonomi bersifat nasional atau internasional dari perspektif ilmu sosial.
Dalam ekonomi politik, pembangunan sosial merupakan diawali dengan adanya lembaga internasional. Khususnya, di Amerika ekonomi politik merupakan bagian integral dari usaha mengembangkan peningkatan ekonomi dan sosial di negara-negara yang baru merdeka.
Sebagaimana yang akan dibahas sebelumnya, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerima definisi dari Inggris tentang pembangunan sosial yang merupakan kombinasi antara pekerjaan sosial remedial dan program pembangunan masyarakat.
Walaupun demikian, di tahun 60-an PBB mulai menyarankan pendekatan yang lebih luas yaitu suatu pendekatan yang lebih luas. Pembangunan sosial didefinisikan sebagai kebijakan dan program yang melekat dengan ekonomi pembangunan dan mempertinggi standart hidup semua warga negaranya.
Pembangunan sosial menempatkan masalah yang bersifat tradisional ke dalam bidang ekonomi politik. Ekonomi politik peduli terhadap kehidupan masyarakat karena sebagai basis aktivitas ekonomi, dan juga kesejahteraan sosial, kemiskinan, kekayaan, kesempatan untuk berkembang dan berusaha.
Pembangunan sosial peduli terhadap masalah-masalah seperti tersebut di atas. Karena ekonomi politik berisikan konsep atau paradigma dan pandangan ilmu sosial yang berbeda-beda, kemudian digunakan dalam menganalisis masalah kemanusiaan dan mengusulkan berbagai strategi untuk mengatasi masalah-masalah di atas.
Ekonomi politik juga peduli terhadap peranan negara dan lembaga sosial serta lembaga masyarakat lainnya untuk berperan dalam menyediakan kebutuhan sosial masyarakat. Selain itu, juga menekankan nilai dan keyakinan. Pembahasan mengenai nilai dan keyakinan seringkali menjadi suatu perdebatan yang tidak pernah terselesaikan sampai saat ini.
Pengetahuan ekonomi politik sekarang ini telah secara luas diterima dalam pemikiran pembangunan sosial. Konsep, idea, pendekatan, dan masalah sosial yang disarankan bisa diterima dan dapat mempengaruhi konsep ekonomi politik. Walaupun ekonomi politik, tidak mengalami perkembangan mengenai definisi tentang pembangunan sosial, namun sumbangan ekonomi politik terhadap keberadaan pembangunan sosial tidak bisa diabaikan.
Jember, 23 – 09 – 2022
Purwowibowo




0 Comments