HUBUNGAN PEMBANGUNAN SOSIAL DAN PEKERJAAN SOSIALOleh: Purwowibowo
Pendahuluan
Konsep pembangunan sosial mencapai kepopulerannya di lingkungan praktik pekerjaan sosial di awal tahun 1980-an. Hal itu disebabkan atas usaha kelompok kecil pekerja sosial di Amerika yang tergabung di dalam lembaga Internasional atau mereka yang bekerja di negara berkembang.
Publikasi pertama di bidang ini ditulis oleh Frank Faiva (1977), John Jones dan Rama Pandey (1981) serta Daniel Sander (1982), tulisannya sangat berpengaruh karena mampu mendorong pengembangan pendekatan pembangunan sosial di bidang pekerjaan sosial atau usaha kesejahteraan sosial.
Meskipun para ahli di bidang pekerjaan sosial berusaha untuk memperkenalkan perspektif pembangunan sosial, banyak definisi pembangunan sosial dapat ditemukan di dalam abstrak atau artikel tentang praktik pekerjaan sosial.
Intinya menawarkan langkah ideal, yakni mewujudkan kesejahteraan dengan suatu bentuk intervensi. Banyak definisi pembangunan sosial dirumuskan oleh pekerja sosial terlalu luas, sehingga kurang bermakna. Akibatnya definisi tersebut tidak jelas seperti apa yang dimaksudkan oleh para ahli di bidang pekerjaan sosial itu ketika merumuskan pembangunan sosial.
KELOMPOK SATU
Salah satu contoh kesulitan merumuskan pembangunan sosial diungkapkan oleh Salima Umar (1979) yang membuat definisi pembangunan sosial sebagai suatu proses kepedulian pencapaian kemampuan yang terintegrasi, seimbang, dan gabungan dari sosial dan ekonomi pembangunan di masyarakat, dengan memberikan penghargaan berupa nilai, martabat kemanusiaan, kesamaan, dan keadilan sosial.
Dia mengatakan bahwa pembangunan sosial adalah menyeluruh (holistik), interdisiplin, antar sektor dan antar wilayah. Menurut catatannya, pembangunan sosial membentuk masyarakat yang humanistik untuk mencapai kedamaian di dunia, dan peningkatan kesejahteraan bagi semua orang.
Definisi demikian merupakan model yang ideal dan mulia, yang Omar mendefinisikan tidak hanya membawa pembangunan sosial sebagai suatu kegiatan profesional, tetapi sampai membawa pembangunan sosial mencapai tujuannya yakni mewujudkan atau memberikan peran pekerja sosial dalam proses pembangunan sosial.
Banyak definisi lainnya tentang pembangunan sosial yang para pekerja sosial justru membuatnya terlalu luas, ideal, dan tidak jelas tentang masalah praktis.
Kritik semacam itu datang dari Gary Lloyd (1982) sangatlah jelas menggambarkan bagaimana definisi itu dibuat samar-samar oleh para pekerja sosial.
Lloyd memperhatikan kebanyakan definisi gagal dalam menawarkan teori yang cocok untuk pembangunan sosial atau merupakan pedoman praktis mengenai bagaimana suatu pembangunan sosial ideal dapat diwujudkan.
Walaupun Lloyd banyak membaca literatur tentang pekerjaan sosial, nilai, aspirasi, dan kemuliaan tuhan, hal demikian hanya sebagai angan-angan daripada perspektif.
Menurutnya, istilah pembangunan sosial muncul ketika literatur pekerjaan sosial berusaha untuk mewujudkan pekerjaan sosial sebagai profesi individual di bidang itu, kemudian banyak definisi gagal mewujudkan perannya di dalam pembangunan sosial secara nyata.
Meskipun kritik Lloyd sangat nyata, hal itu kemudian disadari oleh pekerja sosial yang kemudian berusaha membuat definisi pembangunan sosial yang lebih khusus, dan praktis.
Di antaranya ada yang membuat definisi pembangunan sosial sebagai perspektif psiko-sosial yaitu suatu proses pertumbuhan individu atau aktualisasi diri.
Para penulis mencatat bahwa proses merupakan upaya memperkuat fungsi individu dan menghasilkan kemampuan diri dan juga masayarakat. Jadi pembangunan sosial berorientasi pada individu, tetapi dapat sukses atau berhasil di dalam peningkatan kehidupan masyarakat.
Seperti diuraikan sebelumnya, pendahulu pendekatan ini adalah Henry Maas (1984) yang telah membuat batasan pembangunan sosial sebagai suatu proses yang manusia dapat menjadi bertambah kemampuannya untuk berinteraksi sesuai dengan kemampuannya dan tanggung jawabnya.
Maas, menekankan bahwa seringkali istilah itu digunakan dalam interaksi sosial yang lebih membantu membuat perhatian dan kebersamaan di dalam masyarakat.
KELOMPOK KEDUA
Para ilmuwan di bidang pekerjaan sosial mendefinisikan pembangunan sosial dalam praktek yang di Amerika disebut dengan praktek pekerjaan sosial tidak langsung atau praktek pekerjaan sosial makro.
Praktek pekerjaan sosial meliputi community organization, social planning dan administrasi pekerjaan sosial. Pendekatan sistematis tentang pekerjaan sosial makro tersebut disampaikan oleh Irving Spergel (1978) yang membuat definisi pembangunan sosial sebagai praktek struktural makro yang peduli terhadap peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat.
Di dalam publikasinya Spergel menjelaskan secara rinci sejumlah kegiatan suatu lembaga yang diberi nama ED yang bertugas merancang, melaksanakan, dan mengendalikan suatu proyek bagi pemuda yang menyimpang.
Dengan menggunakan proyek ini sebagai studi kasus Spergel menjelaskan bahwa kegiatan ED termasuk ke dalam peran pembangunan sosial.
Meskipun demikan, praktek individu dan praktek tidak langsung, keduanya merupakan pendekatan pembangunan sosial yang berusaha untuk memperkenalkan peranan praktek nyata bagi pekerja sosial, yang tidak berbeda dengan praktek pekerja sosial sekarang ini, dan merupakan bentuk intervensi konvensional yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Di dalam pendekatan Maas, pembangunan sosial agak berbeda jauh dengan kegiatan pekerjaan sosial yang sudah lazim itu yang caseworker dan groupworker membantu pengembangan pribadi dan membantu mewujudkan aktualisasi diri melalui bimbingan atau pengalaman dari kelompoknya.
Hampir sama dengan pendekatan Spergel, suatu pendekatan agak berbeda dari tanggung jawab pekerja sosial yakni dengan menggantungkan pada organisasi masyarakat, kegiatan ketetanggan, dan administrasi pekerjaan sosial. Walaupun permintaan pembangunan sosial sebagai model baru pekerjaan sosial, berbagai kegiatannya masih merupakan bagian dari pekerjaan sosial seperti beberapa tahun lalu.
Guna mendefinisikan pembangunan sosial agar lebih sederhana daripada memberikan warna baru dan masih dalam konsep pembangunan sosial sebagai padan kata dimaksudkan untuk mempertahankan keberadaan pekerja sosial itu sendiri.
KELOMPOK KE TIGA
Kelompok ketiga, ilmuwan di bidang pekerjaan sosial berusaha merumuskan pembangunan sosial yang bisa diterapkan dengan menyandarkan pada kemajuan pendekatan yang melibatkan antar bidang ilmu dari studi pembangunan.
Banyak pembangunan sebelumnya telah diterapkan di dunia ketiga, yang telah diterima sebagai suatu jalan terbaik untuk melaksanakan pembangunan di negara berkembang tersebut.
Contohnya publikasii oleh Frank Faiva (1977, 1982) John Jones dan Rama Pandey (1981), serta Daniel Sander (1982) dan lainnya. Walaupun berbagai usaha itu kesemuanya berusaha untuk mengembangkan pembangunan sosial melalui penelitian berikutnya, namun mereka belum bisa menerima perspektif pembangunan sosial di dalam bidang pekerjaan sosial.
Bisa dikatakan sebagai perspektif pekerjaan sosial unik jika telah banyak yang sudah dilaksanakan. Juga sangat penting bahwa pekerjaan sosial tidak hanya suatu idealismme dan pendekatan serampangan yang telah digunakan di masa lalu.
Kemudian para ahli di bidang pekerjaan sosial juga tertarik pada pembangunan sosial dan menjadi bagian dari pembangunan di masa lalu. Usaha pekerja sosial untuk merumuskan definisi pembangunan sosial sebagai pendekatan unik merupakan langkah maju.
Di lain pihak, sumbangan ilmuwan di bidang pekerjaan sosial untuk pembangunan sosial patut juga dihargai. Ilmuwan di bidang pekerjaan sosial telah memperkenalkan pembangunan sosial di negara maju dan juga pekerja sosial telah menjadi bagian dari pendekatan pembangunan sosial.
Selain itu, para ahli dibidang pekerjaan sosial yang mengkhususkan pada isu praktis telah memperkuat inti pembangunan sosial dan sangat peduli terhadap program-program pembangunan sosial.
Di masa depan, mereka mungkin dan mudah-mudahan akan dapat mendorong keberadaan pendekatan pembangunan sosial untuk melekat di dalam perspektif intervensi di bidang pekerjaan sosial.
Semoga!
Jember, 15 – 09 – 2022
Purwowibowo




0 Comments