ROBOT (ARTIFICIAL INTELEGENCE) DAN LEMBAGA KELUARGA
Oleh: Purwowibowo
PENDAHULUAN
Robot sudah dikenal sejak lama, tatkala Karel Capek dari Ceko memperkenalkan temuannya awal abad XX, yakni di tahun 1920, berupa pengganti tenaga manusia. Teknologi robot terus mengalami perkembangan dan memasuki semua sisi kehidupan manusia. Bahkan, robot bukan hanya menggantikan tenaga manusia, namun telah menyerupai manusia dan perilakunya.
Di negara-negara yang telah maju, seperti di Jepang, perkembangan teknologi pembuatan robot terus dikembangkan. Hal tersebut terkait dengan tugas khusus dan bahkan sangat berbahaya manakala dikerjakan manusia. Oleh karena itu, agar risiko tidak terjadi pada tenaga manusia, kemudian terus dikembangkan kapasitas dan kemampuan robot. Misalnya, robot digunakan untuk industri, militer, kesehatan, pertanian, perikanan, antariksa, pertambangan, dan bidang-bidang pekerjaan lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
Robot, sekarang ini bukan hanya ada di pabrik, namun juga ada di layanan publik. Salah satunya, robot yang menyerupai boneka cantik, pemuda gagah dan tampan, sehingga mampu berperan sebagai penerima tamu di hotel, rumah sakit, dan layanan publik lainnya.
Beberapa tahun terakhir ini, perkembangan robotika sudah melampaui kemampuan manusia. Robot, ditambahkan suatu kecerdasan tertentu sebagaimana kecerdasan manusia, dalam sistem robot tersebut, kemudian disebut sebagai artificial intelegence. Artinya, robot diharapkan mampu melakukan pekerjaan apa saja, selayaknya manusia.
Meskipun, robot telah mampu bekerja sebagaimana manusia, tetapi robot tidak disertai ‘sense’, hati, kemauan, kesedihan, minat, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan unsur dasar dari kemanusiaan sebagai manusia. Dengan penggunaan teknologi tinggi dan disertai kemampun lainnya. Namun, robot sama saja, tidak akan mampu merasa sebagaimana manusia. Itulah sebabnya, artificial intelegence, di masa depan bukan hanya mampu membantu, meringankan, menggantikan tenaga manusia. Sebaliknya, artificial intelegence dapat mengancam eksistensi kemanusiaan manusia.
Dengan adanya artificial intelegence, dapat menggantikan tenaga manusia, sehingga banyak bidang pekerjaan berat, berbahaya, atau pekerjaan yang berulang dan sama, maka dapat tergantikan. Akibatnya, pekerjaan banyak digantikan robot sehingga muncul dan bertambahnya jumlah pengangguran.
ROBOT DAN LEMBAGA KELUARGA
Robot, yang diberi kecerdasan buatan, telah banyak menggantikan peran manusia. Meskipun demikian, ada kelemahan yang dimiliki robot sebagaimana dijelaskan di atas. Robot tidak akan persis sebagaimana manusia.
Manusia, bisa disebut manusia robot tatkala bekerja atau melakukan pekerjaan sebagimana robot melampaui kemampuan manusia. Sedangkan manusia, mempunyai dan mampu melakukan hubungan sosial. Suatu tata hubungan yang sangat kompleks. Karena manusia sebagai makhluk sosial, selalu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Namun, robot tetaplah robot dan manusia tetaplah manusia.
Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lain, sedangkan sebuah robot dapat melakukan pekerjaan berulang tanpa harus dibantu robot lain. Di sini berarti dapat di setting, bekerja dengan robot lain atau bekerja secara mandiri.
Sedangkan manusia memerlukan orang lain. Anak-anak memerlukan orang tua, kecil memerlukan besar, perempuan memerlukan laki-laki atau sebaliknya. Dalam hal ini, kemudian dikenal dengan lembaga keluarga.
Lembaga keluarga, dibentuk tatkala seorang wanita membutuhkan laki-laki, dalam hubungan struktural fungsional. Dalam keluarga, laki-laki berperan sebagai suami, kepala keluarga, bapak dari anak-anak mereka. Sedangkan perempuan berperan sebagai isteri, ibu rumah tangga, dan ibu dari anak-anak mereka. Begitulah manusia, memerlukan manusia lainnya dalam hubungan sosial, namun robot tidak memerlukan fungsi sosial semacam itu.
Sekarang ini di negara maju, misalnya di Jerman, Perancis, Inggris, Jepang, dan negara barat lainnya, banyak masyarakatnya tidak memerlukan lembaga sosial, berupa lembaga keluarga. Berkeluarga dianggap kuno, kemudian fungsinya sudah banyak ditinggalkan dan digantikan robot. Berkeluarga, justru terbebani secara ekonomi dan sosial. Untungnya di negara Timur, lembaga keluarga masih eksis dan dibutuhkan.
Pada umumnya, mereka mengatakan bahwa membentuk keluarga hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis semata. Itulah sebabnya, banyak masyarakat yang, meskipun menikah tidak ingin punya anak. Menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Kalau kebutuhan biologis dapat dipenuhi oleh robot (artificial intelegence), maka banyak dari mereka tidak menikah.
Berbeda dengan masyarakat Timur, menikah merupakan lembaga sacral. Di dalamnya terdapat ikatan keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan biologis semata, melainkan, menikah lebih dari itu. Yakni memenuhi kebutuhan biologis dan sosial. Dengan prinsip tersebut kemudian, menikah, bagi orang timur selain terpenuhi kebutuhan biologis harus disertai hadirnya anak-keturunnya mereka. Oleh sebab itu, jika menikah tidak memiliki keturunan, diakhiri dengan perceraian. Sebaliknya, orang Barat, menikah, hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja.
Ketika, mereka terpenuhi kebutuhan biologisnya dengan tidak menikah, misalnya istrinya robot (artificial intelegence),terkeadang lebih dari satu robot di rumahnya, yang cantik, molek, aduhai, layaknya manusia. Maka, kemudian mereka mengabaikan dan tidak ingin melakukan pernikahan. Sebagaimana di atas, tatkala kebutuhan biologis terpenuhi dengan robot (artificial intelegence) yang dimiliki, dianggapnya sudah sejahtera.
Bahkan, ada kecenderungan hidup jomblo, tidak menikah, asal kebutuhan biologis terpenuhi dengan kehadiran, keberadaan, dan berfungsinya robot (artificial intelegence) menggantikan seseorang baik, sebagai suami dan isteri. Robot-robot tersebut telah sukses berperan dengan baik dan sempurna sebagai bagian dari hubungan laki-laki dan perempuan.
Mudah-mudahan, artificial intelegence yang telah berkembang pesat sebagaimana kita ketahui sekarang, masih jauh dari fungsi suami atau isteri di masyarakat kita, bangsa kita, dan agama kita.
Semoga!
Jember, 20 – 08 – 2022
Purwowibowo




0 Comments