FILOSOFI GAMELAN DAN HARMONI MASYARAKAT
NEW NORMAL
Oleh: Purwowibowo
Ing Ngarso Sung Tulodo: menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan atau contoh yang baik. Ing Madyo Mbangun Karso: seseorang ditengah harus
juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani,
seseorang bawahan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari
belakang.
PENDAHULUAN
Gamelan, dikenal luas
oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Konon, seperangkat musik gamelan tersebut
telah ada sejak 230 Masehi. Ada gamelan Jawa, Sunda, dan Bali. Gamelan Jawa, misalnya,
paling sedikit, terdiri dari 13 (tigabelas) instrumen atau peralatan. Seperti
misalnya, kendang, bonang, gender, kenong, peking, saron, slentem, gambang,
siter, kemanak, seruling, rebab, dan gong.
Gamelan juga disebut
sebagai perangkat musik tradisional, karena digunakan tatkala, masyarakat
menyelenggarakan acara tradisi-tradisi tertentu. Tim penabuh yang membunyikan
gamelan, biasanya disebut ‘yogo’ atau tim karawitan.
Dulu, di berbagai kota,
kecamatan, dan desa-desa, ada kelompok-kelompok kesenian, berupa kelompok
karawitan. Tim karawitan tersebut, mengiringi berbagai acara adat. Misalnya,
upacara ‘temu manten’, upacara ‘bersih desa’, dan masih banyak lagi yang
lainnya, yang hiburannya, berupa karawitan atau pertunjukkan wayang kulit. Sound-track-nya,
adalah suara pesinden yang mendayu-dayu dan diiringi bunyi dari gamelan.
Sekarang, di jaman yang
serba ber-HP, orang ‘modern’ mulai cuek terhadap alat musik gamelan. Bahkan,
gamelan mulai jarang dibunyikan, digunakan, dan mulai ditinggalkan. Beberapa
tokoh, misalnya, almarhun Manthus dan Didi Kempot, mengembangkan seni karawitan
menjadi ‘campursari’. Yakni menggabungkan beberapa alat gamelan digabung dengan
alat musik modern, misalnya, organ dan drum, dibunyikan bersama. Banyak penggemarnya.
Anak
muda, sekarang telah jauh dari musik tradisional, gamelan. Bahkan, tatkala ada
orang yang masih senang dan ingin melestarikan gamelan atau karawitan dengan
mendengarkan pesinden (artis dan aktor lokal, tradisional) dan diiringi suara
gamelan, melalui you-tube atau media lainnya, dianggapnya
sebagai ‘orang jaman dulu atau jadul’.
FILOSOFI GAMELAN JAWA
Berbagai
instrumen Gamelan Jawa, bukan hanya berbeda ciri fisiknya saja, misalnya
besar-kecilnya, bentuknya, melainkan juga suaranya atau bunyinya. Tata letak,
sewaktu ditabuh atau dibunyikan berbagai alat gamelan, ditata rapi. Selain itu,
masing-masing peralatan gamelan tersebut, ternyata mempunyai filosofi yang
sangat dalam. Terutama, terkait dengan kehidupan masyarakat, yakni kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Tulisan
ini tidak membahas secara luas dan mendalam dari keseluruhan gamelan, melainkan
beberapa instrumen gamelan terkait dengan filosofi dalam hidup dan kehidupan
masyarakat.
1) Kendhang
Instrumen gamelan yang satu ini,
menjadi pemimpin dari keseluruhan instrumen gamelan. Berperan sebagai pemimpin,
kendang dapat mengatur dalam permainan musik gamelan.
Suaranya lantang, tak,tak,tak,
berfungsi sebagai pengendali irama gamelan. Cepat atau lambatnya, irama gamelan
dikendalikan oleh bunyi kendang.
Kapan gamelan dimulai dan diakhiri,
ditentukan oleh kendang. Semua instrumen gamelan tunduk dan patuh, atas
perintah kendang.
2) Bonang Barung dan Penerus
Selanjutnya, bonang, yang memiliki
bunyi ‘nang’, saat dimainkan. Nang, dalam bahasa Jawa, merujuk pada panggilan
terhadap anak lanang atau laki-laki. Instrumen ini, mempunyai filosofi bahwa
anak laki-laki, mulai dilahirkan sebagai anak, remaja, dewasa, sampai tua,
harus mampu berfikir jernih. Kemudian, dapat mengambil kebijakan atau keputusan
dalam penuh kesadaran.
3) Saron
Bahasa Jawa-nya sero, yang
artinya keras. Instrumen gamelan ini, bahan bakunya besi. Bentuknya lesung
kecil. Besi representasi dari filosofi usaha keras untuk mencapai tujuan. Tantangan
dan masalah apapun harus dihadapi,
dicari cara atau solusinya dan bukan dihindari. Selain itu, saron juga tajam. Berbagai
peralatan hidup, seperti, pisau, sabit, keris, rencong, dan lainnya dibuat dari
besi.
4) Gender
Berasal dari kata gendera. Gender,
menjadi simbol dari permulaan. Gamelan, sebelum kendang memberi aba-aba untuk memulai,
didahului oleh bunyi gender ini.
5) Gambang
Gambang, yang mempunyai suara khas dan
terbuat dari kayu. Instrumen ini, mempunyai filosofi seimbang. Seimbang antara
kehidupan dunia dan akhirat. Seimbang
antara nafsu dan qalbu, angan-angan dan kenyataan, dan seterusnya. Kapan saja
dan dimanapun kita berada, harus seimbang.
6) Suling
Semua orang, termasuk anak kecil,
mengenal suling ini. Instrumen gamelan ini, dibuat dari bambu. Agar bisa
berbungi, suling harus ditiup. Filosofinya, suling diartikan sebagai eling. Dalam bahasa
Jawa mempunyai arti ingat. Maknanya, suling memberi isyarat bahwa manusia harus
selalu ingat atau eling semua kuajiban dan hak-haknya. Kuajiban dirinya terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan juga kuajiban kepada orang lain serta terhadap
lingkungan sekitarnya.
7) Siter
Siter asalnya dari siteran dan cara
memainkannya alat musik ini, dengan dipetik. Makna filosofinya adalah manusia
harus mampu mengantarkan atau membimbing orang lain, bisa suami, isteri, anak,
cucu, dan orang lain disekitarnya pada suatu tujuan baik. Baik menurut aturan
agama dan masyarakat.
8) Rebab
Rebab ini,
dibunyikan bergantian dengan gender. Kalau gender berbunyi, rebab berhenti,
begitu sebaliknya. Rebab, mengandung arti, bahwa manusia agar dalam
melakukan kegiatan memiliki tujuan dan tidak menyimpang dari yang sudah
digariskan.
9)
Kethuk
Instrumen gamelan ini, manakala
ditabuh dengan memukul dengan akan berbunyi ‘thuk’. Filosofinya, bahwa thuk, mempunyai makna ‘manthuk’ atau setuju. Diartikan
sebagai manthuk yaitu setuju. Artinya, sebagai manusia dari makhluk
Tuhan dan anggota masyarakat manusia haruslah setuju dengan semua perintah dan
larangan Sang Pencipta.
10) Kempul
Instrumen gamelan ini, mirip gong. Namun,
berukuran lebih kecil. Kempul, dalam bahasa Jawa, diartikan sebagai kumpul. Selalu
berjamaah dalam melakukan beribadah. Berkumpul dengan manusia lain, toleran, saling
menghargai, dan tidak egois.
11) Gong
Gong merupakan instrumen gamelan yang
paling besar dan suaranya menggelegar. Merupakan penutup suatu irama tertentu. Manknanya
bahwa manusia di dalam mengakiri hidup di dunia ini harus sempurna. Syarat masuk
surga, amalan baiknya banyak dan dosanya sedikit.
GAMELAN DAN NEW NORMAL
Instrumen
gamelan memiliki filosofi yang luar biasa terkait dengan kehidupan. Masing-masing
instrumen, dapat dimainkan sendiri dan juga bersamaan. Sendiri dapat berbunyi
indah, misalnya gambang, suling, atau siter.
Demikian
pula, bunyi kendang sampai gong, memang tidak ada yang sama, namun manakala saling
berbunyi bergantian dan dipimpin oleh kendang, menjadi serempak dan harmonis.
Gamelan,
manakala berbagai instrumen tersebut, dimainkan atau dibunyikan secara simultan,
maka menghasilkan suatu irama yang menarik dan indah. Bunyinya berbeda-beda,
tetapi saling mendukung antara bunyi suara satu dengan yang lainnya. Tidak ada
yang konflik, namun, merdu dan indah, bagi yang mendengarkan.
Dalam
kehidupan transisi new normal, sekarang ini, banyak instrumen kehidupan yang akan
dibuka. Namun, berbagai instrumen tersebut masih berjalan dan berbunyi sendiri
sendiri.
Pemerintah,
mulai dari pusat, propinsi, kabupaten, kota, kecamatan, desa, RW/RT, terutama
para pemimpinnya, tidak boleh saling bertentangan dan berselisih pendapat. Apalagi,
di depan kalayak, menunjukkan taringnya masing-masing, saling menyalahkan dan mencari
benarnya masing-masing.
Seharusnya,
pemimpin bangsa ini, harus memahami dan mengimplementasikan filosofi gamelan.
Walaupun
bunyinya berbeda, namun saling sinergis, sehingga menghasilkan suara yang
sangat indah.
Terutama
mengahadapi pandemi covid-19, di masa new normal.
Selamat
menjalani hidup harmonis, sesuai simfoni dan harmonisnya gamelan.
Indah
dan merdu sekali.
Wassalam
Jember,
20 – 06 – 2020
Purwowibowo




0 Comments