
DAYA BELI MASYARAKAT DALAM NEW NORMAL
Oleh:
Purwowibowo
PENDAHULUAN
Virus corona bermula dari daratan Cina, khususnya di
propinsi Wuhan. Wabah tersebut muncul di akhir tahun 2019. Kemudian, dinamai ‘corona virus desease, 2019’, yang dikenal dengan ‘covid-19’ saja. Covid-19 menyebar ke
seluruh dunia dengan cepat tanpa terkendali.
Masyarakat dunia mulai terinfeksi covid-19, empat
bulan terakhir. Agar tidak terus menyebar, Pemerintah di seluruh dunia dan WHO,
membuat protokal, agar masyarakat berada di rumah (stay at home). Sampai tulisan ini dibuat, jumlah
kasus orang terinfeksi telah lebih dari
7,3 juta, yang sembuh 3,5 juta lebih, dan meninggal lebih dari 412.000
orang.
Meskipun, ada Negara yang menyatakan tidak ada
penambahan kasus baru dan pertambahan mendatar. Namun, di seluruh dunia,
jumlahnya terus bertambah.
Usaha menghentikan wabah berpacu dengan bertambahnya
kasus baru, yakni menemukan antivirus atau vaksin penangkal virus, terus
dilakukan. Lembaga penelitian farmasi, berlomba untuk menemukan anti virus
dengan biaya besar. Dan, belum kunjung ditemukan. Bahkan, para ahli, memperkirakan di akhir tahun 2021, mereka baru
yakin obat anti virus, akan ditemukan.
Disamping menunggu hasil, berupa anti virus atau
vaksin covid-19, beberapa Negara Eropa, Amerika, Amerika Latin, Jepang, Cina,
Korea Selatan, Indonesia, dan negara yang terdampak virus, mulai melonggarkan ‘lockdown’,
dengan menerapkan kehidupan ‘kenormalan baru’ atau ‘new normal’.
NEW NORMAL
New normal atau normal baru adalah sebuah istilah
yang lagi populer belakangan ini. Istilah teresbut terkait dengan usaha untuk memulai hidup baru
berdampingan dengan mewabahnya virus corona. Hal ini, karena covid-19 belum
hilang, sedangkan kehidupan normal baru harus segera dimulai kembali. Hidup, tidak hanya, stay at home, namun kehidupan sosial-ekonomi harus segera dimulai
dan berjalan kembali.
Sesungguhnya,
istilah normal baru diambil dari istilah ‘Bisnis’ dalam bidang ekonomi, yang
digunakan untuk memulai kondisi baru setelah adanya resisi ekonomi. Normal
baru, terkait dengan kondisi keuangan dimasa krisis keuangan dunia pada tahun
2007-2008, dan resesi global tahun 2008-2012.
Normal
baru, sekarang terkait dengan pandemik virus covid-19, sehingga agak berbeda
konteknya dan menjadi semakin luas maknanya.
New
normal dalam bidang bisnis, terkait
dengan sektor riil dalam berbagai dunia usaha: misalnya, perbankan, industri,
ritel, pasar, dan perdagangan dalam kehidupan masyarakat biasa, dan berbagai
kehidupan masyarakat, untuk melakukan aktivitas barunya, sehingga sektor ekonomi
berjalan kembali secara normal.
Sedangkan
new normal, terkait dengan wabah covid-19 dilakukan sebagai upaya mempersiapkan
suatu kehidupan masyarakat baru. Hal tersebut, tidak hanya bidang usaha atau
bisnis, melainkan kesiapan perilaku ekonomi, sosial-budaya berdampingan dengan
proses pencegahan mewabahnya covid-19.
Misalnya, menjaga jarak dalam berkomunikasi dengan orang lain atau social distancing.
New
normal, juga mengharuskan orang selalu mencuci tangan menggunakan sabun,
memakai masker jika keluar rumah, etika batuk dan bersin, jaga jarak, menjaga
kesehatan, dan masih banyak lagi, yang harus dilakukan. Ini semua, dimaksudkan agar
dapat memangkas penyebaran covid-19, dan kehidupan baru dapat diwujudkan.
DAYA BELI MASYARAKAT
Dampak
negatif, dari wabah covid-19, sangat luar biasa dirasakan masyarakat. Hal ini,
bukan hanya masyarakat Indonesia, melainkan masyarakat dunia. Bisnis terganggu,
perusahan dan pabrik tidak beroperasi, penerbangan diparkir, angkutan
darat-laut distop, kegiatan di luar rumah harus dilakukan dari rumah.
Bagi
orang yang bekerja, menggunakan media internet, sudah bisa dipastikan mereka
bisa kerja dari rumah. Namun, bagi pekerja bangunan, pedagang kecil keliling,
pekerja yang menggunakan jasa-raga, mereka keliling dengan menyusuri gang dan
jalan, rasanya sulit menggunakan logika, bekerja dari rumah.
Mereka,
keluar rumah, menyusuri jalan, gang, untuk menemukan rejeki, berupa pekerjaan,
yang mungkin diberikan Tuhan, melalui orang kepadanya.
Kondisi
ini, belum normal sepenuhnya sehingga pendapatan masyarakat kecil menurun
drastis. Dampak ikutannya, daya beli mereka juga menurun. Merekalah, sekarang
ini, menjadi front-line terdampak
covid-19.
Perekonomian
masyarakat kecil berjalan lambat, bahkan ada yang berhenti. Roda kehidupan
masyarakat tersendat, gerak sosial-ekonomi melemah. Akhirnya daya beli menurun
tajam.
Para
pedangang kecil, mengeluh, sepi pembeli, kurang laku. Pekerja bangunan
menganggur, entah sampai kapan. Proyek pembangunan, dialihkan anggarannya untuk
menangani covid-19.
Pekerja
migran tidak bisa kembali. Surat jalan, berupa surat bebas covid-19 mahal. Di
tempat tinggal mereka tidak ada pekerjaan, dan apabila kembali di tempat kerja lagi,
belum tentu ada pekerjaan tersedia.
SAMPAI KAPAN COVID-19?
Sejak,
munculnya covid-19, di Wuhan-Cina, akhir tahun lalu, wabah ini belum ada tanda-tandanya
akan segera berakhir. Meskipun di Cina, sudah dinyatakan wabah covid-19, dapat
dikendalikan, namun kehidupan pekerja di pabrik, orang di kantor, dan di tempat
fasilitas umum, masih menggunakan alat pelindung diri, berupa masker.
Hal
ini, menunjukkan bahwa wabah masih belum terkendali sepenuhnya dan di seluruh
dunia, jumlah kasus terinfeksi masih terus bertambah.
Di
Indonesia sendiri, kasus terinfeksi masih terus bertambah dan belum ada
tanda-tanda akan segera berakhir. Hari ini pertambahan kasus, lebih dari 1.200 orang.
Masyarakat
saling bertanya, kapan covid-19 ini, berakhir ya? Begitu pertanyaan yang muncul
dalam perbincangan kecil di antara mereka.
Dan,
tidak ada yang berani dan bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Para
pakar, menjelaskan covid-19 akan bisa dikendalikan akhir tahun 2021, tatkala
vaksinnya ditemukan. Namun, itu baru perkiraan dan waktunya masih membutuhkan
1,5 tahun lagi. Suatu waktu yang cukup lama.
Selain
menunggu usaha medis, para pakar kesehatan menemukan vaksin.
Mari
kita memulai kehidupan normal baru, bukan hanya melaksanakan protokol kesehatan,
namun, usaha lain dengan mengembalikan kehidupan keagamaan, seperti membuka
masjid, dan tempat ibadah lain, juga harus dimulai.
Di Amerika, beberapa waktu lalu, melakulan hari berdoa nasional terkait dengan wabah virus corona. Di sana, ada hari berdo'a nasional. Yakni, 'pray-day'.
Barangkali, di Indonesia, juga perlu menggalakkan, dan menghidupkan hari berdo'a, di berbagai tempat ibadah secara nasional.
Mantan
Wapres, Yusuf Kalla, mengatakan, masjid dan kegiatan keagamaan adalah ‘roh’
kehidupan manusia. Jika, kita tetap jauh darinya, bisa jadi, kehidupan normal
baru sulit diwujudkan dan vaksin akan semakin lama waktunya untuk ditemukan.
Tempat
ibadah, adalah media untuk mendekatkan makhluk manusia kepada PenciptaNya. Berdoa,
berdzikir, lebih mustajab, di tempat tersebut.
Oleh
karena itu, new normal perlu juga didukung normalnya tempat ibadah sebagai tempat peribadatan umat manusia.
Jember,
10 – 06 – 2020
Purwowibowo
0 Comments