KAMBING HITAM BANJIR JAKARTA



KAMBING HITAM BANJIR JAKARTA
Oleh: Purwowibowo
PERKAMPUNGAN JAKARTA
Jakarta, kampung besar, kota besar, kota internasional, ibu kota negara Indonesia, pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat kebudayaan, dan masih banyak lagi sebutannya.
Pemimpin negara, DPR, pengusaha, artis-aktor, orang kaya-miskin, dan berbagai tipologi orang, ada di Jakarta. Jakarta disebut juga sebagai wilayah multi-etnik, karena, semua suku yang ada di Indonesia, dan bangsa lain, sebagai duta besar, dapat ditemukan di kota Jakarta. Moda transportasi apa saja ada, pesawat, kereta api, bus, KRL, jalan tol, sampai jalan tikus, juga ada di Jakarta.
Semua profesi, bisa ditemukan di Kota Besar ini. Seperti misalnya, cendekiawan atau ilmuwan, orang alim-ulama, koruptor, pencuri, penjambret, dan berbagai jenis profesi dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini, ada di Jakarta. Jakarta, apa saja ada.
Sejarah kampung besar, Jakarta ini, mungkin belum banyak dikenal oleh generasi muda dan sudah dilupakan orang tua. Terutama sejarah dan perkembangannya menuju kota modern bertaraf internasional. Sesungguhnya, Jakarta adalah perkampungan di tengah air. Jakarta dikelilingi air. Jakarta selalu banjir.
Tat kala, pemerintah Belanda datang ke Indonesia, di awal abad ke-17, mereka melihat kota Jakarta, dikelilingi wilayah-wilayah berair dan selalu banjir. Banyak tempat yang digunakan untuk menampung air hujan, dalam bentuk rawa dan empang.
Sekarang tempat seperti itu, berganti dengan perumahan elit dan mewah. Sebut saja, kawasan Rawa-Mangun, Rawa-Lele, Rawa-Bunga, dan Rawa-Badak, telah direklamasi, kesemuanya telah menjadi tempat permukiman orang berduit di Jakarta. Tempat air hujan dan banjir, ditampung di rawa-rawa itu.
Hujan dan banjir, sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dengan kota Jakarta. Mulai jaman, pemerintahan Belanda, sampai sekarang. Tidak seorang mantan gubernur dan gubernur yang masih aktif, tidak dihadapkan dengan masalah Banjir Jakarta. Misalnya, gubernur Ali Sadikin, Tjokropranolo, Sutiyoso, Fauzi, Joko Widodo, Ahok, dan Anies menghadapi masalah banjir Jakarta.
PENYEBAB BANJIR JAKARTA
Tidak ada satu alasan apapun bersifat ilmiah dan logis, yang bisa membenarkan bahwa banjir Jakarta, disebabkan oleh gubernurnya.
Banjir Jakarta sesungguhnya banyak faktor penyebabnya, misalnya saluran air macet, banyak sindemen dan sampah. Semua wilayah kampung Jakarta, dilapisi semen dan beton, menghalangi air hujan masuk dalam tanah, reklamasi rawa menjadi perumahan, banyaknya sampah menutup pintu air, permukiman dan bangunan di bibir sungai, dan masih banyak lagi. Faktor-faktor tersebut, menyumbang terjadinya banjir Jakarta.
Kalau membahas dari sisi ekosistem, misalnya, banjir Jakarta, bukan disebabkan hanya wilayah Jakarta saja. Wilayah Depok dan Bogor, sudah pasti mempunyai kontribusi besar, banjir Jakarta.
Wilayah Depok dan Bogor sebagai daerah penangkap hujan atau resapan air hujan, telah berubah menjadi perumahan-perumahan juga. Mengapa banjir Jakarta, tidak pernah menyalahkan Walikota Depok atau Bupati dan Walikota Bogor?
Banjir Jakarta, bukan masalah wilayah Jakarta saja. Kalau kita, berfikir ekosistem, harusnya berfikir secara menyeluruh. Mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari daerah tangkapan hujan di wilayah Bogor sampai tempat penampung air, berupa rawa atau empang, di Jakarta.
Kebijakan nasional, daerah, tentang beralih fungsinya daerah tangkapan air di daerah hulu, gunung-gunung dan perkebunan di Bogor, Sukabumi, dan Depok serta berubahnya fungsi rawa, untuk menampung air hujan dan banjir, mempunyai kontribusi besar, banjir Jakarta.
KAMBING HITAM BANJIR JAKARTA
Arti ungkapan ‘Kambing Hitam’ adalah orang atau sesuatu yang dipersalahkan atas suatu kejadian tertentu. Biasanya dikaitkan dengan perbuatan atau kesalahan yang bersifat sistem atau kelembagaan. Padahal, orang sebagai kambing hitam itu, mungkin, dirinya tidak terbukti bersalah.
Dalam makna lain, ‘Kambing Hitam’ adalah orang yang dijadikan tumpuan kesalahan atas suatu peristiwa, misalnya terjadinya banjir, tanah longsor, gedung ambruk, dan lain sebagainya. Makna yang tidak benar.
Di awal orde baru, ada istilah, kambing hitam itu. Bukan kambing berwarna hitam, melainkan suatu istilah yang digunakan untuk mencari sumber penyebab terjadinya masalah. Kambing hitam, kala itu, digunakan untuk mengalihkan kesalahan yang bersifat kelembagaan. Kemudian dicarikan orang atau seseorang yang bisa ‘dibuat logis’, menerima kesalahan.
Saya masih ingat betul, ketika kejadian besar terjadi, yakni kecelakaan pesawat, kereta api, dan lain sebagainya, disebutkan, sebagai ‘human error’. Berarti kesalahan pada manusianya, bukan pembuat pesawatnya, bukan perusahaannya, atau institusinya. Hal ini, dimaksudkan untuk melindungi institusi, sehingga dicari kambing hitamnya.
Di wilayah atau propinsi lain, di Indonesia, belum ada, sumber banjir merupakan kesalahan pemimpin daerahnya. Yakni banjir disebabkan salah urus, dari bupatinya atau gubernurnya.
Kita sekalian disuguhi, berbagai informasi, bahwa penyebab banjir Jakarta, adalah gubernurnya, bukan keseluruhan sistem pengelolaan lingkungan.
Sekarang ini, Gubernur Anies, dijadikan kambing hitam, banjir Jakarta.
Mari berfikir logis dan rasional.
Sebagai wujud jati diri bangsa Indonesia, selalu memegang teguh, berwawasan, dari nilai-nilai dan butir-butir Pancasila. Yakni, Ketuhanan, Kemanusian, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan. 

Dan jangan.....!!!!!!!
Selaluuuuuuuuuuu....................., mencari kambing hitam!!!!
Jember, 05 – 03 – 2020
Purwowibowo

Post a Comment

2 Comments

  1. Jakarta dan segala Permasalahannya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, komentarnya. Itulah Kampung Besar, Jakarta.

      Delete