Oleh: Purwowibowo
‘Wahai kau burung dalam sangkar, Sungguh nasibmu malang benar; Tak
seorangpun ambil tahu; Duka dan lara dihatimu’; ‘Wahai kau burung dalam sangkar,
Dapatkah kau menahan siksa, Dari kekejaman dunia, Yang tak tahu menimbang rasa’;
‘Batinmu nangis hati patah, Riwayat tertulis penuh dengan, Tetesan air mata’ ...................................
(syair lagu: May Sumarna).
BURUNG DALAM
SANGKAR
Syair lagu,
burung dalam sangkar, viral, tahun 1970-an. Lagu pop Indonesia tersebut, dinyanyikan
kelompok band legendaris, ‘Madesya Group’. Kala itu, semua
orang, laki-laki dan perempuan, hafal, syair lagu tersebut. Lagu, dengan syair
ringan, yang menunjukkan kesedihan, burung dalam sangkar itu, berdengung
seantero Indonesia. Radio dan televisi, berulang kali, memutar lagu yang
syairnya mudah dihafal dan legendaris tersebut.
Pengarang syairnya ingin menyampaikan pesan, bahwa hidup dalam sangkar, merupakan hidup yang malang dan menderita. Hatinya duka dan lara. Tetapi, tidak seorang-pun peduli dan ambil tahu. Terhadap, siksa dan kesedihan si burung dalam sangkar itu.
Burung dalam sangkar, diminta untuk sabar, menahan siksa, dari kekejaman hidup di dunia. Yang pemilik burung dalam sangkar, tidak pernah menimbang rasa.
Kalau saja, pemilik burung dalam sangkar menimbang rasa, mengibaratkan dirinya seperti burung dalam sangkar, maka dia tidak memelihara burung dalam sangkar. Karena, burung dalam sangkar, sesungguhnya menangis, tersiksa dari kekejaman dunia. Kesenangan manusia dalam menikmati kicau burung.
Dan manusia, tidak pernah mendengar tangisan itu. Mereka mengira, berkicau, menunjukkan kegembiraan si burung. Padahal, berkicaunya burung dalam sangkar adalah kesedihan, siksaan, ratapan, penderitaan, yang tidak pernah manusia bisa rasakan.
Burung dalam sangkar, ingin terbang, bebas, dari dahan ke dahan, ranting ke ranting, daun ke daun, atau dari pohon ke pohon, untuk mendapatkan rezeki. Bebas berkicau, berteman, dan hidup sebagaimana manusia, pemiliknya. Bebas ke mana saja, mereka mau pergi. Tetapi, burung dalam sangkar, tidak mungkin melakukan itu, dia menahan siksa, dari kekejaman pemiliknya.
Sungguh, nasibnya, malang benar, karena tidak bisa menikmati kebebasan di dunia. Mereka hidup sekali saja, tetapi kondisinya terkungkung, tidak bebas, ada di dalam sangkar. Sempit dan tidak bisa terbang bebas, menikmati kebebasan, yang diberikan Tuhan kepadanya.
DALAM SANGKAR VIRUS CORONA WUHAN-CHINA
Burung dalam sangkar, dapat dianalogikan sebagaimana masyarakat di Wuhan dan masyarakat China pada umumnya. Sejak 23 Januari 2020 kota-kotanya ditutup. Orang tidak boleh bebas pergi, mereka diisolasi. Kantor, pabrik, dan fasilitas umum ditutup. Sekolah dan kampus, diliburkan.
Pengarang syairnya ingin menyampaikan pesan, bahwa hidup dalam sangkar, merupakan hidup yang malang dan menderita. Hatinya duka dan lara. Tetapi, tidak seorang-pun peduli dan ambil tahu. Terhadap, siksa dan kesedihan si burung dalam sangkar itu.
Burung dalam sangkar, diminta untuk sabar, menahan siksa, dari kekejaman hidup di dunia. Yang pemilik burung dalam sangkar, tidak pernah menimbang rasa.
Kalau saja, pemilik burung dalam sangkar menimbang rasa, mengibaratkan dirinya seperti burung dalam sangkar, maka dia tidak memelihara burung dalam sangkar. Karena, burung dalam sangkar, sesungguhnya menangis, tersiksa dari kekejaman dunia. Kesenangan manusia dalam menikmati kicau burung.
Dan manusia, tidak pernah mendengar tangisan itu. Mereka mengira, berkicau, menunjukkan kegembiraan si burung. Padahal, berkicaunya burung dalam sangkar adalah kesedihan, siksaan, ratapan, penderitaan, yang tidak pernah manusia bisa rasakan.
Burung dalam sangkar, ingin terbang, bebas, dari dahan ke dahan, ranting ke ranting, daun ke daun, atau dari pohon ke pohon, untuk mendapatkan rezeki. Bebas berkicau, berteman, dan hidup sebagaimana manusia, pemiliknya. Bebas ke mana saja, mereka mau pergi. Tetapi, burung dalam sangkar, tidak mungkin melakukan itu, dia menahan siksa, dari kekejaman pemiliknya.
Sungguh, nasibnya, malang benar, karena tidak bisa menikmati kebebasan di dunia. Mereka hidup sekali saja, tetapi kondisinya terkungkung, tidak bebas, ada di dalam sangkar. Sempit dan tidak bisa terbang bebas, menikmati kebebasan, yang diberikan Tuhan kepadanya.
DALAM SANGKAR VIRUS CORONA WUHAN-CHINA
Burung dalam sangkar, dapat dianalogikan sebagaimana masyarakat di Wuhan dan masyarakat China pada umumnya. Sejak 23 Januari 2020 kota-kotanya ditutup. Orang tidak boleh bebas pergi, mereka diisolasi. Kantor, pabrik, dan fasilitas umum ditutup. Sekolah dan kampus, diliburkan.
Transportasi, kereta api, perahu, pesawat, dan semua moda pengangkut orang,
dihentikan. Disebabkan, virus corona. Kejadian ini, telah berlangsung lebih
satu bulan. Belum ada informasi, kapan kota Wuhan dan kota lainnya dibuka
kembali.
Virus corona, telah menjadi sosok, yang mengerikan dan menakutkan. Meskipun
sudah menurun jumlah terinfeksi, yakni hanya 200 orang per hari dari sebelumnya
500 orang, tetapi perkembangannya terus berlanjut dan menyebar ke seantero
dunia. Di Korea, jumlah terinfeksi terus meningkat dan jumlah korban meninggal,
juga bertambah.
Dibalik, keberhasilan pemerintah menyembuhkan orang yang terinfeksi dari
virus corona, data orang meninggal masih terus bertambah. Sampai saat ini,
jumlah korban, telah lebih dari 3.000 orang. Terinfeksi lebih dari 88.000 orang,
di seluruh dunia.
Orang-orang Wuhan dan masyarakat China, mengalami seperti, burung dalam
sangkar. Tersiksa, menderita, dan terkungkung dalam sangkar kota. Mereka tidak
bisa menikmati lagi suasana, kebebasan dan keceriaan, sebagaimana waktu sebelum
virus corona datang. Mereka bebas, sebagaimana burung liar di alam bebas. Beterbangan
ke seluruh dunia.
Memenuhi kebutuhan hidup, dari hari ke hari, bertambah sulit. Pertolongan kesehatan,
terbatas. Denyut kota Wuhan, terhenti. Kita semua tidak tahu, semua itu, kapan akan
berlalu.
Meskipun, semua orang tahu, mereka tidak bisa berbuat apapun. Mereka dicengkeram,
kondisi kota, penuh virus corona. Virus yang mengerikan dan mematikan, semua
orang.
Sampai saat ini, mereka semua, dipaksa masuk rumah mereka di dalam sangkar
kota Wuhan. Karena, hanya di dalam rumah dan kota mereka, dianggap tempat
paling aman dari serbuan virus corona.
Sekarang, mereka di dalam sangkar besar, yakni sangkar kota. Bukan hanya,
di kota-kota seluruh daratan China. Sangkar kota itu, telah berkembang dan
terjadi di seluruh dunia.
Wahai manusia di dalam sangkar kota di seluruh dunia, kita merasakan apa
yang dialami, burung dalam sangkar.
Seperti syair lagu, burung dalam sangkar (kota), Gubahan, May Sumarna.
Wahai, manusia dalam sangkar kota,
sungguh nasibmu malang benar,
tak seorangpun ambil tahu,
duka dan lara dihatimu.
Wahai manusia dalam sangkar kota,
dapatkah kau menahan siksa,
dari kekejaman virus corona,
Yang tak tahu menimbang rasa.
Batinmu nangis hati patah,
Riwayat tertulis penuh dengan,
Penderitaan dan tetesan air mata ...................................
Seluruh masyarakat dunia.........
Jember, 02 – 03 – 2020
Purwowibowo




0 Comments