MITOS ‘AWET MUDA’ DARI AIR TERJUN SEDUDO



MITOS ‘AWET MUDA’ DARI AIR TERJUN SEDUDO
Oleh: Purwowibowo
SEDUDO
Air Terjun ‘Sedudo’ merupakan obyek wisata alam, berupa air terjun. Posisinya terletak di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Jarak dari kota Nganjuk sekitar 30 km. Berada di ketinggian 1.438 meter di atas permukaan laut. Berada di lereng gunung Wilis. Air terjun-nya, ‘sangat dingin’ dan terjun sekitar 105 meter. Sekarang menjadi destinasi unggulan wisata alam, di Kabupaten Nganjuk dan Jawa Timur.
Menelusuri sejarah, nama tempat wisata ini, sulit ditemukan. Baik dalam kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Paling tidak, ‘Sedudo’, secara etimologi, berasal dari ‘se’ dan ‘dudo’.  Se artinya seorang diri dan dudo orang yang mengalami perceraian dengan isterinya. Sehingga kalau digabung maknanya, seorang diri yang telah bercerai.
Air terjun ‘Sedudo’, mempunyai pasangan, yakni ‘Air Terjun Coban Rondo’. Coban Rondo, ada di wilayah Pujon, Kabupaten Malang. Sebagaimana Sedudo, Coban Rondo juga menunjukkan kondisi wanita yang telah cerai dengan suaminya.

COBAN RONDO.
Mitos yang ada di air terjun ‘Coban Rondo', dimulai dari keinginan pasangan suami istri. Mereka adalah pengantin baru, yakni bernama Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo. Dewi Anjarwati berasal dari wilayah Gunung Kawi. Sekarang tempat itu, menjadi tempat wisata religi. Sedangkan Raden Baron Kusumo berasal dari kawasan Gunung Anjasmara.
Kedua suami isteri itu, menikah di kawasan Gunung Kawi di tempat Dewi Anjarwati. Setelah sebulan pernikahannya, mereka mengisi bulan madunya, dan ingin berkunjung ke wilayah Gunung Anjasmara, tempat suaminya berada. Kedua orang tuanya, sebetulnya, melarang. Namun, keduanya nekat pergi untuk bisa menikmati ‘bulan madu’ di tempat suaminya.
Di tengah perjalanan, pasangan suami isteri itu, ketemu pemuda gagah perkasa, yakni Joko Lelono. Joko Lelono, berarti bujangan yang meninggalkan rumah dan pergi ke sana-sini. Mungkin juga mencari calon isteri. Kemudian Joko Lelono, tertarik dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Dengan terus terang, dia ingin memperisterinya. Padahal sudah menjadi isteri Raden Baron. Karena, menjadi seorang suami, Raden Baron Kusumo, tidak menyetujuinya. Keinginan Joko Lelono, ditolak.
Perselisihan itu kemudian berkembang, menjadi perang dua orang laki-laki gagah perkasa, yakni Raden Baron mempertahankan isterinya dan Joko Lelono ingin merebutnya. Dewi Anjarwati, diminta pergi meninggalkan tempat itu. Dia pergi dan bersembunyi di 'air terjun’
Perkelaian, kedua orang laki-laki perkasa tersebut, berlangsung sampai 3 hari. Dan tidak diketahui siapa yang kalah maupun yang menang. Namun, secara logika, pasti ada yang menang dan kalah. Yang menang, kemudian mencari Dewi Anjarwati. Keduanya tidak pernah ketemu.
Pencarian itu, terus dilakukan dan sampailah di air terjun, yang wilayahnya berbeda, yakni air terjun di wilayah gunung Wilis, yakni air terjun Sedudo. Sedangkan Dewi Anjarwati di air terjun COBAN RONDO yang ada di wilayah gunung Arjuno.
Dengan nama SEDUDO, menunjukkan seorang laki-laki, tentu dia adalah Raden Baron. Karena, Sedudo mempunyai arti seorang laki-laki yang sudah menikah dan bercerai. Sedangkan Coban Rondo juga menunjukkan wanita cantik, yang sekarang digunakan sebagai nama air terjun. Tentu, wanita itu adalah Dewi Anjarwati.

MITOS AWET MUDA DAN TRADISI MANDI DI SEDUDO
Ketika saya masih anak-anak dan bersekolah di SMP, dulu, mitos mengenai Air Terjun Sedudo sudah menyebar di tengah masyarakat. Sampai hari ini, mitos itu, masih dipercaya sebagian masyarakat. Konon, mitos tersebut ada sejak jaman Majapahid.
Sedudo, secara bebas dapat diartikan orang yang kedinginan. Tentu, Pangeran Baron, yang baru menikah, dan kemudian bercerai merasakan, dingin itu. Biasanya tidur berdua, bercengkerama, dan apa saja, di bulan madu, dilakukan berdua. Dunia, milik mereka berdua.
Suasana indah itu, hilang begitu saja. Berganti dengan kesendirian, yakni seorang duda. Di daerah pegunungan, yang ada air terjunnya, pasti, dia kedinginan.
Air Terjun Sedudo, memang di atas pegunungan sehingga airnya sangat dingin.
Mitos yang berkembang, adalah: ‘barang siapa yang mandi di air terjun sedudo, akan awet muda, dan diberkahi’.
Pada awalnya, hanya digunakan untuk ‘memandikan’ arca dalam upacara Parna Prahista, khususnya di awal tahun Jawa, yakni Bulan Suro.
Tradisi ini, kemudian diikuti sebagian besar masyarakat dengan mandi di tempat air terjun tersebut, di bulan Suro. Mereka berharap, barang siapa yang ‘mandi akan awet muda’, dan ‘berkahnya’ ditambah, oleh yang Maha Kuasa.
Sekarang, di bulan-bulan Suro setiap tahun, banyak rombongan dari berbagai daerah pergi ke Sedudo, untuk sekedar wisata mandi, agar awet muda dan mendapat berkah.
Bulan Suro, merupakan awal tahun, sehingga dengan mandi di Sedudo, harapannya selama setahun ke depan mendapatkan berkah, kebaikan, keuntungan, dan lain sebagainya.
Suatu Mitos, yang sampai sekarang, dilakukan dan dikerjakan oleh masyarakat Nganjuk dan sekitarnya.
Catatan:
Menurut logika, siapapun yang mandi di Air Terjun Sedudo, badanya pasti sehat dan muda. Karena untuk mencapai tempat itu, bagi orang-orang tua sudah tidak mungkin. Hanya pemuda-pemudi, yang tenaganya dan kesehatannya terjaga, mampu pergi ke Sedudo dan mandi. Orang tua, yang kondisi fisiknya ‘tidak muda’, berfikir dua kali, untuk pergi ke Sedudo.
Jadi yang mandi di Sedudo, bisa ‘awet muda’, karena hanya yang muda-mudalah, bisa dan mampu datang serta mandi di Sedudo, di ketinggian 1400 di atas permukaan laut.
Diiiiingiiiiiiiiiiiiiiin sekali!
Nganjuk, 16 – 02 - 2020

Post a Comment

5 Comments

  1. Artikel di atas sangat bermanfaat bagi pembaca karena dengan adanya artikel ini pembaca dapat mengetahui mitos-mitos yang menjadi isu dikalangan masyarakat modern saat ini. Semangat untuk terus menulis dan menjadi pelopor kepenulisan.

    ReplyDelete
  2. Artikel yang bagus, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi yang lain dan dapat menjadi acuan penulisan mengenai warisan budaya bagi pemula-pemula yang ingin menulis artikel serupa.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Artikel yang sangat informatif dan menarik untuk dikunjungi, bahasa dan kalimat yang mudah untuk dicermati membuat pembaca lebih penuh gairah dalam membaca

    ReplyDelete
  5. Terima kasih komentarnya, konstruktif, matur nuwun!!!

    ReplyDelete