KARANGSEMI

KARANGSEMI

oleh: Purwowibowo

Karangsemi, secara etimologi, berarti pekarangan, tegalan yang tanamannya tumbuh atau bersemi. Dulu, para pendahulu, menyebut suatu tempat, berdasarkan kearifan lokal, dan kontekstual. Apa yang menjadi ikon tempat itu, kemudian dijadikan nama dusun, kampung, dan desa.

Hampir semua desa yang saya kenal, namanya terkait dengan kondisi atau tanda yang menonjol saat itu. Misalnya dukuhan saya, Mojorejo. Menurut kakek saya, nama dusun ini diambil, karena di tempat tersebut banyak pohon mojo. Kemudian ditebang dijadikan tempat permukiman, dengan nama Mojorejo. Harapannya, di jaman now, menjadi tempat rejo atau ramai.

Desa dan dusun lain, misalnya Desa Kecubung, berarti banyak bunga kecubungnya. Desa Warujayeng, konon, desa ini ditandai dengan pohon waru yang doyong atau tidak tegak lurus, sebagaimana pohon pada umumnya. Warujayeng.

Demikian pula, topik tulisan ini Karangsemi, atau Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Tentu, konon, pembuka desa ini, juga menemukan pekarangan atau tegal yang luas, kemudian banyak pohon yang bertunas baru, bersemi. Kemudian para pendahulu, menamai tempat ini menjadi Karangsemi, yang sekarang dikenal dengan Desa Karangsemi.

Saya menulis cerita pendek ini, karena beberapa hari lalu mengirim tulisan kepada teman-teman SMP, yang salah satu siswanya dari Desa Karangsemi. Kami dulu, masuk SMP Negeri Warujayeng, tahun 1972. Kemudian, lulus tahun 1974. Satu-satunya SMP Negeri di Wilayah Karesidenan Warujayeng. SMP Negeri itu, sekarang menjadi SMP Tanjunganon 1.

Tempat ini selalu saya kenang, dan saya ceritakan kepada isteri dan anak-anak, manakala pulang kampung ke Dusun Mojorejo, Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace Nganjuk. Kami selalu melewati SMP Negeri yang legendaris itu. Menurut cerita, Bangunan Gedung SMP Warujayeng, konon menggunakan bekas pabrik gula. Disampingnya baratnya, ada sumur bor besar, yang digunakan memelihara ikan. Di timurnya, ada stadion olahraga, Stadion Warujayeng, sekarang menjadi Stadion Tanjunganom. Tanjunganom, juga ikon wilayahnya, ditandai pohon tanjung yang masih muda.

Salah satu kenangan, yang tidak bisa saya lupakan, teman-ku, yakni mas Tarmi. Dia, mulai kelas 1 sampai 3, di kelas yang sama dengan ku. Sangat kenal betul dengan beliau. Namanya singkat Tarmi. Dia menjadi ‘inspirator diam’, bagi perjalanan hidupnya selama ini. Mungkin, teman-teman SMP-ku, hanya melihat, sebagai sosok teman biasa, sebagai teman sekolah. Aku, berbeda. Dia menjadi contoh-ku sebagai siswa SMP kala itu, dan bisa menjadi contoh anak SMP di jam now.

Ketika Bapak guru kami, mengenal mas Tarmi, dengan nama yang pendek. Kemudian berinisiatif menambah atau merubah nama itu. Kesan dari nama itu, feminim, bukan maskulin. Padahal, anaknya laki-laki, gagah, elegan, dan sangat smart. Itulah sebabnya, Pak Suparlin, menambahkan atau melengkapi nama itu dengan ‘Tarminto’. Jelas ini, idea cermelang. Hingga nama itu terkesan maskulin. Yang saya tahu, sampai sekarang, nama itu, melekat pada diri temanku yang berasal dari Desa Demangan, yang bersebelahan, dengan desa  Karangsemi itu.

Saya kagum, kepada mas Tarminto. Kalau tidak salah, ketika ujian nasional SMP seluruh Nganjuk, beliau no. 2 nilainya. Atau juara 2. Kemudian masuklah ke SMA Pembangunan, kemudian melanjutkan ke ITS. Karena berbeda, SMA dan Perguruan Tinggi, saya tidak banyak mendapatkan cerita. Sampai reuni, beberapa tahun lalu, ketemu. Beliau di SMP Gondang, sebagai guru, saya ada di Jember, menjadi dosen.

Pengalamanku bersama dia, itulah yang saya tulis ini. Dan kemudian saya share, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi anak-anak dan cucu kita dikelak kemudian hari.

Ketika aku mengenalnya, tahun 1972, mulai kuartal 1 kelas satu sampai kelas 3 akhir, mas Tarmi, menjadi murid teladan, yang nilainya sempurna. Banyak yang 10 atau 100. Matematika, dulu Aljabar 100. Dan pelajaran lain kurang lebih itu nilainya. Saya melihat juga, kemampuan bahasa Inggris beliau. Saya duduk disampingnya, belajar bersama, dia telah mampu menterjemahkan pelajaran bahasa Inggris kepada saya dan teman lain.

Inilah, awal mula, mas Tarmi, menjadi inspiratorku sampai sekarang. Anak SMP, dari desa Karangsemi, tidak mengenal les bahasa Inggris, seperti sekarang, mampu menterjemahkan materi bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia. Kok bisa begitu?, pikiran saya kala itu. Saya ingin tahu, bagaimana dia belajar di rumahnya.

Kemudian, saya berinisitif ingin berkunjung ke rumahnya, desa Demangan - Karangsemi. Dengan persetujuannya, aku diperbolehkan datang di rumahnya. Saya naik sepeda okel, melewati jalan-jalan desa, jalan yang kiri-kanannya sawah, dari dukuhku Mojorejo menuju tempat tersebut. Jaraknya kuranglebih 17 km. Setelah sampai di desa Karangsemi, saya bertanya kepada orang tengah baya.

‘Pak, di mana rumah temanku yang namanya mas Tarmi?

Begitu tanyaku kepada orang tengah baya. Kemudian dia menunjuk, salah satu rumah yang dimaksud.

‘Itu mas, rumah mas Tarmi’.

Rumah jaman dulu, yang cukup luas halamannya sebagaimana tetangga lain, untuk digunakan menjemur hasil panen.

Saya permisi, mengetuk rumah, kemudian seorang ibu keluar dan saya tanya.

 Ass. Wr. Wb. Apakah ini rumahnya mas Tarmi yang sekolah di SMP Warujayeng?

Jawabnya, ya! Betul ini rumahnya. Ada keperluan apa mencari mas Tarmi? Tanyanya. Kemudian, saya menjawab, ingin ketemu, sudah janjian hari ini saya ingin main di rumah ini.

Hari itu, hari Minggu, kami semua tidak pergi sekolah. Setelah bertanya lagi, apakah mas Tarmi ada di rumah, jawabnya, sekarang ada di sawah membantu bapaknya kerja di sawah.

Saya langsung menuju ke sawah, dan menemui dia sedang membantu orang tuanya kerja. Saya saling bersapa, kemudian diajak dia ke gubuk kecil. Dia mengajakku beristirahat sambil cerita. Namun, aku terbelalak, di gubuk sawah mas Tarmi banyak buku pelajaran sekolah yang dibawa. Dia cerita, kalau istirahat, belajar di gubuk, ini. Itulah, kebiasaan mas Tarmi dalam kesehariannya, belajar dan belajar, meskipun ada di sawah.

Begitulah, kebiasaan mas Tarmi di desa Karangsemi sewaktu SMP, dengan kerja membantu orang tuanya kerja di sawah, juga membawa buku pelajaran, belajar. Menurutnya, belajar jangan melihat tempat Pur, supaya kita tidak ketinggalan pelajaran, begitu ungkapnya, kala itu.

Mas Tarmi, telah jauh, menerapkan prinsipku sekarang ini, yakni di mana saja, adalah kampus. Bisa di kampus beneran, rumah, warung kopi, sawah, di manapun kita bertempat. Kampus adalah tempat menimba, mencari, dan memperdalam ilmu.

Kebiasaan mas Tarmi selalu belajar dan setelah itu, saya jadikan ‘prinsip’. Mulai saat itu, saya terapkan, setelah mendapatkan inspirasi dari apa yang dilakukan mas Tarminto, dari Desa Demangan, yang bersebelahan dengan Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, 50 tahun yang lalu. Belajar dan belajar.

Kalau sekarang, dikenal, Indonesia Belajar, Indonesia Mengajar, dan istilah lainnya. Di Kampus ku Universitas Jember, mulai tahun 2019 ada program: ‘Tegalboto Memanggil’. Yakni program alumni datang ke kampus kembali, mengajar dan mengajak belajar. Maka, mas Tarminto, telah lebih dulu memulainya, dari Desa Karangsemi.

‘Salam hangat tuk mas Tarmi, semoga sehat selalu, aamiin’

Pun juga Aljupat SMP Warujayng, di seluruh Indonesia.

Jember, 17 Januari 2020

Purwowibowo

 



 

Post a Comment

2 Comments

  1. Pak dosen ada ralat dalam cerpen. Yg. nambah namaku menjadi Tarminto adalah wali kelas kita dulu, yaitu Bpk. JL SUPARLIN. Saya tidak tinggal di Desa Karangsemi tapi Desa Demangan, Kec. Tanjunganom. Memang kami bertetangga dengan Desa Karangsemi yang dipisahkan Kali Widas. Kemudian yang benar Kawedanan Warujayeng, bukan Karesidenan Wafujayeng. Terima kasih Pak Dosen telah membuat cerita, yang menokohkan saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun, mas Tarmi, insyaAlloh saya perbaiki, ngapunten ingkah kathah.

      Delete