FILSAFAT 'JAMU'


FILSAFAT ‘JAMU’
Oleh: Purwowibowo

Hampir semua orang Indonesia dan masyarakat dunia, mengenal ‘jamu’. Bagi anak kecil, jamu tidak disukai karena rasanya pahit. Mereka dipaksa orang tuanya untuk meminum jamu agar badannya sehat atau sakitnya sembuh. Orang dewasa, jamu merupakan obat, bisa menjaga kesehatan dan dapat menyembuhkan.
Sebelum kita mengenal obat modern sekarang ini, jamu menjadi obat penting bagi orang Indonesia. Bahkan, sekarang ini jamu disempurnakan terus sehingga menjadi alternatif pengobatan, karena dibuat dengan bahan herbal.
Jamu dan kata benda lain mempunyai makna dan filosofis tersendiri. Misalnya, ‘batu kecil’ disebut ‘kerikil’. Kerikil kependekan dari ‘Keri ing sikil’. Jadi batu kecil yang ada di jalan disebut kerikil, yang apabila orang berjalan tanpa memakai alas kaki, sepatu atau sandal, dia akan merasakan geli di sikil atau kakinya. Masih banyak lagi, berbagai kata benda yang mempunyai makna demikian.
Jamu, berasal dari dua kata yakni ‘Jaga-mulut’. Secara filosofis, orang yang ingin terjaga kesehatan maupun ingin sembuh dari sakitnya, harus minum jamu. Hal ini tentu terkait dengan kondisi kesehatan kita.
Orang sakit itu sering kali tidak bisa menjaga mulut. Misalnya makan terlalu banyak dan makanannya tidak memenuhi standar kesehatan. Kolesterol tinggi, sudah dapat dipastikan, dia tidak bisa menjaga makanan yang diasupnya.
Sumber penyakit ada di perut. Perut ditentukan oleh mulut. Jadi agar tidak terkena penyakit kita harus menjaga apa yang dimasukkan ke dalam mulut. Dengan kata lain, orang yang bisa menjaga mulut untuk tidak makan sembarangan dan juga tidak terlalu banyak, dia akan sehat. Artinya dia telah minum ‘jamu’ atau ‘menjaga mulutnya’.
Jamu, menjaga mulut bukan hanya terkait dengan apa yang dimasukkan ke dalam perut melalui mulut. Menjaga mulut, juga berarti apa yang kita keluarkan dari mulut harus, yang baik-baik.
Kata atau ucapan yang keluar dari mulut harus baik, karena mulut yang ada lidahnya itu sering kesleo. Berbicara tidak baik, tidak selayaknya, terkadang bisa menyakiti orang lain.
Kalau, kata-kata tidak baik itu keluar dari mulut kita, berarti kita tidak bisa menjaga mulut. Orang sakit, dari banyak penelitian adalah mereka yang tidak bisa menjaga ucapannya. Kata kotor, akan kembali ke dalam diri sendiri dan dapat menjadi benih dan berkembangnya penyakit.
Agar kita terjaga kesehatan dari penyakit, mari kita minum jamu.
Pertama, makan atau memasukkan makanan melalui mulut, makanan yang baik dan tidak terlalu banyak.
Kedua, berkata yang baik karena apa yang kita keluarkan dari mulut kita akan kembali ke dalam diri kita sendiri. Jaga mulut karena mulutmu adalah harimau-mu. .
Mari minum ‘Jamu’ atau ‘Menjaga Mulut’. ‘Agar hidup kita sehat’.
IsnyaAlloh,  aamiiin

Jember, 01 Januari 2020
Purwowibowo


Post a Comment

0 Comments