BERAS CAIR
(Beras + Kencur = Beras-Kencur)
Oleh: Purwowibowo
Beras dalam bahasa Inggris adalah ‘rice’. Bahkan, gabah,
tanaman padi, beras, dan nasi tidak ada bedanya bagi mereka, menyebutnya dengan
‘rice’.
Mereka tidak mempunyai kosa kata
sebanyak orang Jawa (Indonesia) untuk menyebut makanan pokok orang Indonesia
yang disebut nasi dari beras tersebut. Pohon atau tanamannya disebut, padi.
Buahnya disebut, gabah. Setelah dikuliti disebut beras, dan setelah dimasak
disebut nasi. Jenis masakan dari nasi juga beragam, ada lontong, liwet, dan
masih banyak lagi.
Beras, memang bahan pangan utama orang Indonesia. Bagi orang
Indonesia, khususnya orang Jawa, meskipun sudah sarapan roti atau bahan makan
lain, selain beras dan bukan makanan yang berujud nasi dari beras, misalnya ketela, talas, dan lainnya,
mereka merasa belum makan.
Makan itu berarti makan nasi, jadi seseorang manakala
mereka belum makan nasi, meskipun sudah kenyang dengan makanan lain, mereka
menganggap belum makan. Itulah sebabnya, bagi orang Indonesia tidak bisa
dipisahkan dengan beras.
Beras yang diolah menjadi nasi, merupakan makanan khas yang
tidak memerlukan teknologi atau budidaya yang rumit. Hampir semua orang,
ibu-ibu, remaja putri, dan bahkan orang laki-laki bisa menanak beras menjadi
nasi.
Keluarga Indonesia, juga merasa aman, manakala di rumahnya
sudah tersedia nasi. Lauk-pauk, perkara gampang. Apapun bisa, nasi bisa dimakan
dengan sambal saja. Nasi dengan pecelan disebut nasi pecel. Nasi rawon, nasi
soto, dan seterusnya. Semua jenis makanan tadi bahan utamanya, nasi.
Orang Jawa dan Indonesia, pada umumnya, merupakan suatu bangsa
yang kreatif. Betapa tidak, nasi bisa digabung dengan berbagai lauk dan
kemudian menghasilkan jenis masakan tertentu.
Aku menolak dan tidak setuju, bila dikatakan dengan menuduh
atau menuding bahwa orang Jawa dan Indonesia, tidak kreatif. Selama ini,
pemahaman mereka salah besar – manakala mengatakan orang Jawa dan Indonesia,
tidak kreatif.
Ketela pohon saja, bisa dibuat berbagai aneka makanan. Ada
getuk, keripik, nasi tiwul yang bahan utamanya ketela pohon.Hal ini menunjukkan
kita sebagai bangsa cerdas dan kreatif.
Ketela pohon di wilayah Jawa pesisir
selatan, dikenal juga sego gaplek, krupuk, nyamilan khas Jawa Tengah dengan
nama selondok. Bahkan, manakala diidentifikasi jenis makanan dan jajanan yang
berasal dari ketela pohon, jumlahnya sangat banyak.
Di Universitas Jember, pakar makanan ‘Prof A. Subagio, Ph.D,
mengubah ketela pohon dengan tepung ‘mocaf’ yang disebutnya ‘beras cerdas’.
Hebat kan!!, Dia mengubah image, makan sego gaplek atau tiwul dengan makan
beras cerdas. Yaitu beras yang berasal dari ketela pohon. Mocaf bisa dimasak
layaknya beras, dibuat mie, dan lain sebagainya.
Terlepas dari itu semua, kreatifitas orang Jawa dan Indonesia,
mampu membuat ‘beras cair’. Di Cina dan juga Thailand, orang membuat beras dari
‘plastik’, yang jenis beras ini hanya sebagai kreativitas saja, tetapi tidak
bisa dikonsumsi. Orang Jawa lebih hebat dan kreatif, dengan membuat ‘beras cair’.
Hampir semua orang Jawa dan Indonesia suka dengan beras cair ini.
Lho kok beras cair?
Barangkali, konsep beras cair sulit dipahami oleh semua kita.
Namun, kreativitas ini menunjukkan bahwa kita kaya akan konsep makanan atau
menu makanan.
Beras cair itu, sesungguhnya dapat ditemui setiap saat dengan
mudah. Beras cair adalah beras yang dihaluskan kemudian dimasak dan dicampur
dengan ‘kencur’ yang dihaluskan.
Penjual jamu gendong, yang anda temui,di seantero Indonesia,
di Kota dan Desa, tentu menyediakan beras cair tersebut, yakni ‘beras kencur’
Itulah, kreativitas orang Jawa dalam mengolah bahan makanan
dari beras yang disebut dengan ‘beras cair’ atau ‘beras kencur’, merupakan
budidaya masyarakat di dalam membuat aneka makanan dan minuman.
Tegalboto Jember, 11 Nopember 2019
Purwowibowo
0 Comments