
ORANG KECIL / WONG CILIK
Oleh: Purwowibowo
"Carilah
keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian
diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara
kalian," (HR Abu Dawud).
Yang
aku maksud dalam tulisan ini dengan orang kecil bukan orang yang badannya
kecil. Orang kecil adalah orang-orang marjinal (dalam konsep sosiologi).
Kebanyakan orang faham tentang konsep orang kecil ini. Bu Megawati, manten
Presiden RI itu sering menggunakan istilah dengan “wong cilik” sebagai
konstituennya. Di dalam konsep Islam kita mengenal dengan sebutan “kaum
dhuhafa”.
Tulisan
ini muncul lantaran dua hari ini aku sengaja berjalan melihat lingkungan yang
sekarang ini aku menjadi bagiannya, yakni lingkungan Haur Mekar. Selama
berkeliling aku mendapatkan pemahaman tentang lingkunganku, terutama lingkungan
sosial budaya. Tentu yang berkaitan dengan orang kecil atau kaum dhuhafa tadi.
Orang
kecil yang aku temui banyak jenisnya, mulai dari tukang sol sepatu, tukang mie,
penjual tahu tek-tek, penjual bakso keliling, penjual jamu gendong, dan berbagai
jenis pekerjaan orang kecil yang aku tidak bisa menyebutnya satu-persatu.
Mereka semua aku sebut orang kecil, kaum dhuhafa, yang secara ekonomi
penghasilannya tidak tentu. Mungkin dapat atau mungkin tidak. Ketika aku
membayangkan bagaimana mereka memanage keuangannya, yang memang tidak perlu
di-manage, tiba-tiba pikiranku ngelantur membayangkan kehidupan orang-orang
kaya.
Di dalam lamunan itu, orang-orang kaya itu tentu tidak bisa membayangkan
kehidupan orang kecil atau kaum dhuhafa. Karena memang mereka tidak pernah
melihatnya. Mereka hidup di dalam alam surga dunia, yang serba tercukupi dan
terlayani dan tidak mungkin berjumpa atau menjumpai orang kecil di sekitarnya.
Orang
kaya itu, bisa presiden, menteri, mantan-mantan presiden, wakil presiden,
pengusaha kaya raya, artis, politikus DPR, MPR, dan pejabat tinggi negara
lainnya. Orang-orang yang disebutkan di atas tentu tidak pernah bertemu dengan
orang kecil, karena memang tidak pernah berjalan melihat kehidupan orang kecil.
Kalau mereka pergi, ada mobil, pesawat, jet pribadi, dan sejenisnya sehingga
mereka tidak pernah bersinggungan dengan orang kecil.
Dengan tidak memahami
orang kecil, sehingga wajar jika mereka tidak pernah memperjuangkan orang
kecil. Yang mereka perjuangkan hanyalah kepentingan mereka sendiri. Orang kaya
tidak mungkin menyusuri gang-gang kecil seperti yang aku lakukan dua hari ini
melihat kehidupan orang kecil, yang kebanyakan mereka berdiam di rumah-rumah
sempit dengan fasilitas seadanya ditambah orang-orang kecil yang selalu
berkeliling mencari rezeki Allah di sekitar mereka.
Aku
kemudian terperanjat memikirkan kehidupan orang kecil itu, karena aku
membayangkan seandainya aku menjadi seperti mereka, orang-orang kecil itu,
apakah aku juga bisa sabar seperti mereka?
Jawabnya tentu, belum tentu. Aku
kagum pada mereka semua, meskipun belum tentu penghasilannya, mereka mempunyai
keyakinan bahwa Tuhan akan selalu memberi rezeki kepada umatNya. Mereka
orang-orang kecil itu, tidak pantang menyerah menyusuri lorong-lorong dan gang
–gang sempit untuk menawarkan jasanya, barangkali di antara yang mereka temui
akan memberikan pekerjaan ataupun membeli dagangannya.
Prinsip
orang kecil di dalam menyusuri gang bagaikan burung yang keluar dari sarangnya
menghampiri setiap pohon, ranting, dahan, dan daun, dari satu tempat ke tempat yang lain. Burung-burung itu
mempunyai keyakinan bahwa di antara pohon dan dahan, ranting, daun akan ada
makanan yang diberikan Allah kepada makhluknya yang namannya burung itu.
Keyakinan
demikian rupanya diterapkan para orang-orang kecil itu. aku yakin bahwa
orang-orang kecil itu tidak atau belum membaca hadist Nabi Muhammad SAW. Nabi dalam hadistnya, mengatakan “keluarlah dari rumahmu, nantinya kamu akan mendapat rezeki dan
kesehatan”. Namun, mereka langsung menerapkan hadist itu, yakni keluar dari
rumahnya dan kemudian menyusuri gang dan lorong kecil untuk mendapatkan rezeki
dan kesehatan.
Itulah
orang kecil, kaum dhuhafa, orang pinggiran, orang yang tidak beruntung, dengan
keyakinannya bahwa Tuhan Allah, maha pengasih lagi maha penyayang, akan
memberikan rezeki yang tiada diketahui arah munculnya.
Bandung,
16 September 2011
0 Comments