CINTA
DAN SLEEPING ALONE*)
Oleh:
Purwowibowo**)
Kamar indekosku hanyalah kecil, berukuran
hanya 2x2.5 meter saja. Di samping masjid Al-Munthasir letaknya. Kamarkulah
yang paling dekat dengan pintu depan masjid. Dikelilingi kamar-kamar adik-2
mahasiswa S1 dan petak-petak rumah permukiman padat menjadi selimutnya. Suara
Adzan dan orang-orang yang datang ke masjid menjadi denyut nadinya.
Orang kaya dan rumahnya besar mungkin tidak
pernah bisa membayangkannya. Tetapi, setelah aku berada di kamar kecil ini,
lebih dari tujuh bulan, hati-pun lama kelamaan tertambat juga.
Oleh keramahan penghuninya. Oleh ketulusan
mereka. Oleh ketenangan dan kedamaian hidup mereka. Jiwa lingkungan yang
menyemaikan akhlak dan budi pekerti luhur. Semangatnya adalah kebersamaan.
Nafasnya adalah kerukunan. Ruhnya adalah kebenaran. Bajunya adalah
keserderhanaan. Jubahnya adalah kepasrahan. Sahabatnya adalah kesabaran.
Rembulan memburatkan sinarnya dengan
malu-malu, awan putih di angkasa malam haur-mekar bergerak perlahan, membuat
angkasa malam bagaikan arak-arakan pasukan Amerika menyerbu Afghanistan.
Genting-genting rumah tampak remang-remang, bagaikan gajah-gajah yang sedang
menikmati tidur malam.
Angin sepoi, berhembus pelan turun dari
bukit Dago. Menerpa atap-atap rumah, mendesis lirih di samping kiri-kanan
tubuhku, dan bertiup ke arah kota Bandung. Aku nikmati malam itu, dengan
kesendirian.
Aku tengah duduk sendirian, duduk di kursi
plastik, reyot, berwarna hijau, di tempat jemuran, di samping kamar indekosku. Tidak
ada orang yang tahu, di lantai dua. Aku menatap langit, beribu bintang ada di
sana. Aku memandang ke segala penjuru langit, mencari bintang yang mana mungkin
akan jatuh kepadaku.
Ya Allah, tuhanku, betapa Agung Dzat-Mu.
Telah engkau bentangkan malam dengan prajurit-prajuritnya. Menghiasi langit
dengan bintang-bintangnya, menitahkan matahari untuk memberikan cahanya kepada
rembulan. Dan memerintahkan rembulan untuk mensucikan bumi dengan sinarnya.
Engkau perintahkan burung-burung malam untuk berjaga, berkeliaran, menemukan
rezekiMu dan binatang siang untuk istirahat.
Dengan kondisi dan situasi seadanya, di
kamar indekosku, tanpa televisi dan radio,tanpa surat kabar (koran). Tanpa ada
makanan kecil, tanpa teman bicara, tanpa anak dan isteriku. Aku sendiri, dan
sendiri. Kurasakan hari-hariku berlalu, seakan tanpa kesan. Aku hanya bisa
mempersiapkan apa yang seharusnya kulakukan tuk esok hari dan hari depan.
Aku bersyukur kepadaNya. Alhamdulillah.
Barangsiapa bersyukur akan ditambah oleh Tuhan kenikmatannya itu. Sesungguhnya
bersyukuritu adalah untuk dirinya sendiri. Dan bila manusia tidak bersyukur
akan nikmat yang diberikanNya, sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya lagi Maha
Terpuji.
Kemudian aku teringat pesan ini: “Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan
cegahlah mereka mengerjakan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa dirimu. Sesungguhnya hal-hal demikian itu yang diwajibkan oleh Allah.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia lain karena sombong dan
janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang
yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah serta lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah
suara keledai, jadilah orang yang rendah hati, dimanapun engkau berada. Jadikan
keadilan, kebenaran, dan kejujuran sebagai pakaian jiwamu.
Junjung tinggi cinta kepada Allah di atas
cintamu kepada manusia, pun cintamu kepada isteri dan anak-anakmu. Jangan
turuti hawa nafsumu. Jangan biarkan dia menguasaimu. Meskipun engkau jauh dari
orang-orang yang mencintaimu, semoga langkah-langkahmu dan jerih payahmu
diridhoi oleh penguasa alam semesta”, begitulah pesan orang tuaku, beberapa
waktu lalu.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan
cinta. Durinya adalah nafsu dan mawarnya adalah kesucian. Berapa banyak manusia
yang terjebak dalam cinta nafsu. Dia mengira telah mencium aroma mawar, padahal
mereka telah tertusuk duri-duri cinta terlebih dulu. Cinta sesaat adalah cinta
nafsu. Cinta nafsu adalah palsu. Menyesakkan kalbu. Dan akan mudah layu, cepat
berlalu.
Dan Cinta sejati adalah cinta abadi, lekat
dalam sanubari, tak mudah luntur dari hujan dan panasnya matahari. Meskipun
jauh, dia tetap mengabdi. Cinta suci akan mengantarkan tangan-tangan jiwa
meraih setangkai mawar tanpa merusak dan tanpa tertusuk duri. Oleh karena itu,
ya Allah, jauhkanlah aku dari cinta nafsu, karena sesungguhnya cinta nafsu
bagaikan sembilu yang menyayat kalbu. Cinta nafsu adalah cinta syetan dan
janganlah aku sekali-kali menurutinya.
Meskipun malam ini aku berusaha tidur,
tetaplah mata sulit diajaknya. Pikiranku masih melayang, membayang, dan terus
membayang. Hingga larut. Hingga aku sulit memejamkan mata. Aku berusaha keras
untuk tidur sendiri malam ini. Sulit nyatanya. Dan Sleeping alone demikian
bukan kali ini saja aku alami dan kurasakan.
Sudah lebih beratus kali malam ku lewati
dan alami, bahkan lebih dari setengah tahun aku mengalaminya, dan mungkin ada
orang lain yang mengalami lebih dari itu. Tapi demi cintaku kepada anak dan
istriku, kuberusaha memajamkan mataku di kamar yang sempit itu. Aku pandangi
buku-buku, tas, tumpukan baju, laptop, baju dan celana yang tergantung, dan jam
dinding yang selalu setia menemaniku.
Dengan detak-detaknya, dia menandai
pergantian waktu. Manusia bisa menggunakan waktu, tetapi tidak akan mungkin
menyimpan waktu. Karena dia terus berlalu, menghampiri dan meninggalkan kita
semua. Dan justru demikian itulah bayang-bayang isteriku selalu menghampiriku.
Semoga engkau yang di sana, yang slalu kubayangkan, juga mengalami perasaan
begitu.
Jika cinta suci bersemi, lengketnya seperti
perangko. Syahdunya bagai lagu dangdut. Senyumnya seperti setumpuk uang gambar
pak Suharto. Hangatnya bagai mentari pagi. Cahayanya dapat menyinari hati. Daya
tariknya bagi gravitasi bumi. Dahsyatnya seperti tsunami. Tinggi dan panasnya
bagai gunung Merapi (meletus). Sejuknya bagai embun pagi. Dan ramahnya seperti
angin laut sepoi-poi.
Meskipun berjauhan, cinta suci adalah cinta
sejati. Jika terbang tinggi, dia kembali ke bumi. Jika dia pergi jauh, akan
kembali menemui. Jika sedang membara tidak peduli. Berbagai halangan dan
rintangan dia lalui. Jika telah menderu, bagaikan peluru, menuju landasan untuk
berpacu. Menggapai cinta yang telah lama menunggu. Bila telah sampai akan
mencurahkan rindu sebesar gunung Merbabu dan Semeru.
Tiada orang yang mengharu-biru, karena
memang itulah yang dituju. Sampai terengah, lupa waktu, dan waktupun berlalu.
Tidur nyenyak. Nyenyak sekali. Dia bangun ketika adzan subuh bertalu-talu
memanggilnya dengan sendu. Membangunkan orang untuk bertemu, di masjid khusu’
dan syahdu, menuju kehariba’anMu.
Demi cintaku kepadaMu ya Robbi. Ya AllAH
Tuhanku berilah aku slalu rahmat. Engkau Maha Rahman dan Rahhim. Jadikan jiwa
dan ragaku slalu tawadu’ kepadaMu. Menuju hidayahMu. Jadikan pikiranku cair
bagai air mengalir menerima takdirMu, yang slalu berpikir DzatMu, kebesaranMu,
Kasih-sayangMu. Jadikan mataku setajam mata elang, yang mampu membedakan yang
hak dan bathil.
Jauhkan pandangan mataku untuk tertuju pada
yang haram, dan tolonglah aku untuk selalu memandang yang halal yang Engkau
ridho’i. Jadikanlah mulutku tuk slalu berdzikir kepadaMu, Jadikanlah hidungku
untuk mampu mencium bau surgaMu. Jadikanlah telingaku untuk selalu mendengar
seruanMu. Jadikanlah tangan-tanganku untuk memegang teguh amanahMu. Jadikanlah
kaki-kakiku untuk dapat membawa diriku ke dalam rumahMu. Amin3 ya robbal
alamin.
Bandung,
Haur-Mekar C 44, 20 April 2012.
**)
Purwowibowo, sejak Juli 2011 - sekarang masih menjalani tugas belajar (S3) di
Universitas Padjadjaran Bandung.
*) sleeping-alone, home-alone,
eating-alone, doing-alone, dating-alone, loving-alone, dst. Tulisan pendek ini
diilhami atas artikel “social capital”
: oleh Robert Putnam, dengan judul “Bowling Alone




0 Comments