Bandung Kota Kembang?
Sebutan
ini sesungguhnya menjadi klise bagi kota yang satu ini. Disebut kota kembang
itu seharusnya di berbagai sudut kota diwarnai dengan berwarna-warni kembang
atau bunga. Namun, sepengatahuan saya selama tinggal di kota ini tanda-tanda
itu tidak ada sama sekali. Oleh karena itu sebutan kota kembang saya katakan
sebagai klise.
Demikian
juga kota Bandung disebut dengan Bandung lautan api. Meskipun ini tidak
menunjukkan makna yang klise seperti sebutan kota kembang, tetapi tanda-tanda
dari lautan api itu tidak tampak sama sekali. Berbeda dengan Surabaya kota
pahlawan, tanda-tanda atau simbol-simbol perjuangan itu masih bisa ditemui di
banyak tempat. Bagi kota Bandung mendapat dua sebutan itu sesungguhnya menjadi
kebanggaan bukan saja masyarakat Bandung sendiri, tetapi juga masyarakat lain sebagai
bagian masyarakat Indonesia.
Kenyataan
saat ini yang saya dapatkan adalah Bandung menjadi kota macet setelah Jakarta.
Disebut sebagai kota macet, karena pada hari Jum’at sore, sepanjang Sabtu, dan
Minggu, kota Bandung hampir semua jalan-jalannya dipenuhi mobil dari berbagai
wilayah lain. Kota Bandung menjadi kota kedua penduduk Jakarta, karena banyak
dari mereka yang pada hari Jum’at, Sabtu dan Minggu bemukim di Bandung. Dengan
tambahan penduduk yang sangat banyak dan disertai dengan tambahnya kendaraan
yang masuk kota, kepadatan merayap dan kemcetan tidak terhindarkan.
Selain
kota macet, kota Bandung sampai hari ini, menurut penglihatan saya masih
termasuk kota yang kotor. Di sudut-sudut kota sampah masih berserakan
menggantikan “kembang atau bunga” yang menjadi slogan Bandung sebagai kota
kembang. Jika sampah itu menjadi bunga, mungkin sebutan Bandung menjadi kota
Kembang akan pulih kembali. Saya tidak mengerti bagaimana perasaan orang
Bandung dengan sebutan kota macet dan sampah. Saya sebagai warga baru yang
hanya numpang tinggal dalam rangka melanjutkan studi, sesungguhnya merasa
prihatin dengan keadaan kota Bandung sekarang ini.
Bandung, 16 Agustus 2011.




0 Comments