(Habermas)
Oleh : Purwowibowo
Menurut Habermas, sistem kapitalisme, masyarakat modern
akan terus menyingkirkan solidaritas sosial sebagai aspek terpenting kehidupan
bersama. Imperatif pasar kapitalis dan patologi sosial yang diakibatkannya
dapat diatasi dengan penguatan solidaritas sosial melalui praksis komunikasi.
Mengingat krisis solidaritas sosial terus berlangsung bahkan dalam skala lebih
besar dalam globalisasi pasar dewasa ini, mendapat kritikan yang sangat tajam
dari Habermas.
Pemikiran Habermas sesungguhnya berkaitan dengan para
pemikir postmodern, yang merupakan aliran filsafat kontemporer, yang
beranggapan bahwa proyek modernitas menuju masyarakat rasional adalah
perwujudan dari kekuasaan dalam bentuk sistem ekonomi dan administrasi
birokratis. Aliran ini mengkritik rasionalisme Barat yang mendasari praktik
totalitarianisme modern.
Habermas tidak menolak kritik postmodern ini, tetapi
berbeda pendapat dari mereka. Dia justru tidak meninggalkan modernitas dan
proyek sejarahnya. Cacat modernisasi dalam bentuk totalitarianisme, hilangnya makna,
anomie, penyakit jiwa, aliansi, dan sebagainya, merupakan akibat pemiskinan
rasionalisme Barat.
Cacat ini hanya bisa diatasi dengan pencerahan
lebih lanjut, yakni melanjutkan proyek modernitas dalam wawasan rasio komunikatif.
Sebagaimana rasio menyembunyikan kekuasaan itu, simtomnya juga bisa disingkirkan
dengan apa yang disebutnya tindakan komunikatif.
Habermas menyatakan dengan jelas teori kritisnya
ditengah-tengah filsafat ilmu-ilmu sosial yakni, neo-positivisme, fenomenologi,
hermeneutik, teori kritis ( dan neo-Marxisme), dan postmodernisme. Teori kritis
atau disebut dengan teori tindakan komunikatif mengambil sikap kritis baik
terhadap ilmu-ilmu sosial dewasa ini maupun kenyataan sosial yang dilukiskan.
Kritis terhadap masyarakat maju sejauh mereka tidak sepenuhnya memanfaatkan
kemampuan belajar kebudayaan yang tersedia bagi mereka, melainkan membenamkan
diri ke dalam sebuah pertumbuhan kompleksitas yang tidak terkendali.
Juga
kritik terhadap pendekatan ilmiah yang tidak mampu menjelaskan paradoks
rasionalisasi kemasyarakatan karena pendekatan tersebut membuat sistem sosial
yang kompleks sebagai objek mereka hanya dari salah satu sudut pandang abstrak,
tanpa memperhitungkan asal-usul historis bidang objek mereka. Kedua hal
tersebut ditempuh untuk mengarahkan perkembangan politik, ilmu pengetahuan, masyarakat,
dan kebudayaan, menuju sebuah cita-cita universal yang melandasi segala praksis
sosial yang rasional.
Titik tolak teori kritis adalah masalah positivisme dalam
ilmu-ilmu sosial, yang beranggapan bahwa ilmu-ilmu sosial itu bebas nilai,
terlepas dari praktik sosial dan moralitas, dapat digunakan sebagai alat untuk
memprediksi, bersifat objektif, dan sebagainya. Sehingga menjadi kepercayaan
umum bahwa satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan
ilmiah, dengan menggunakan metode ilmu alam, yang menyembunyikan dukungan
status quo masyarakat dibaik kedok objektivitas. Sehingga perlu teori kritis
yang memihak emansipatoris masyarakat.
Habermas melakukan penelitian dengan memusatkan
perhatiannya pada pengembangan teori komunikasi dengan mengintegrasikan
linguistic-analysis ke dalam teori kritis. Hal itu ditandai dengan karyanya yang berjudul
“The Theory of Communicative Action” yang disebut dengan “Teori Tindakan
Komunikatif” dengan tradisi besar ilmu-ilmu sosial modern.
Dengan titik tolak
komunikasi Habermas dapat mengatasi kemacetan Teori Kritis para pendahulunya,
yakni mengubah paradigma kerja menjadi paradigma komunikasi. Masyarakat
yang komunikatif adalah tujuan universal masyarakat, yakni konsensus universal
dan bebas dari dominasi merupakan kehendak fundamental dalam setiap hubungan
sosial.
Kebebasan nilai dalam ilmu-ilmu sosial itu keliru dan
berbahaya, tapi juga memperlihatkan bahwa tujuan ilmu-ilmu kritis, dengan
kepentingan emansipatorisnya, adalah membantu masyarakat untuk mencapai otonomi
dan kedewasaan, dan bebas dominasi.
Dalam The Theory of
Communication Action ada 4 klaim yakni (1) kebenaran, (2) ketepatan, (3)
kejujuran, dan (4) komprehensibilitas. Masyarakat komunikatif bukanlah
masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi dan kekerasan, melainkan
lewat argumentasi, yakni perbincangan (diskursus) dan kritik. Dengan demikian
teori kritis mendorong masyarakat menuju masyarakat yang komunikatif.
Teori Perkembangan Masyarakat dengan Paradigma Komunikasi
Teori kritis mampu membawa kemajuan menuju masyarakat
komunikatif, terutama mengenai perubahan sosial dan modernisasi. Teori ini
memberikan kritik terhadap modernisasi yang diproyeksikan oleh masyarakat
kapitalis mengarah pada totalita vianisme birokratis dan teknologis demi
akumulasi modal. Habermas menunjukkan bahwa sejak semula proyek modernitas
telah menyingkirkan dan menindas unsur komunikatiff masyarakat yang disebutnya
“kerangka kerja institutional” dan rasionalitas etis-praktis”. Oleh karena itu
dia menawarkan model nonselektif, dengan memperlihatkan bagaimana sektor lain
harus dicerahi untuk menuju masyarakat yang komunikatif. Masyarakat pada hakekatnya adalah
komunikatif, dan yang menentukan perubahan sosial itu bukan semata-mata
perkembangan kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar dalam
dimensi praktis-etis.
Masyarakat kapitalis dewasa ini disebut sebagai “kapitalis
lanjut”, karena kekuasaan semestinya tidak hanya dilegitimasi, melainkan juga
dirasionalisasikan dalam paradigma komunikatif. Kekuasaan harus dicerahi dengan
diskusi rasional yang bersifat publik agar para anggota masyarakat dapat
berpartisipasi aktif dalam menentukan perkembangan politis, termasuk
mengarahkan kemajuan teknis masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat jangan
hanya dilihat hanya sebagai sistem administrasi dan ekonomi, melainkan juga
sebagai solidaritas budaya dan komunitas.
The Theory of
Communication Action
memusatkan pada ilmu-ilmu sosial dewasa ini, yang melakukan kritik terhadap “para guru postmodernisme”. Habermas
berpegang teguh pada pendiriannya bahwa modernitas kapitalis adalah modernitas yang terdistorsi, sebuah
dialektika pencerahan, dan cacat ini hanya bisa diatasi dengan pencerahan lebih
lanjut atau tindakan komunikatif.
Beberapa Kritik Habermas
1. Semakin pertumbuhan dan
perubahan masyarakat ditentukan oleh rasionalitas proses-proses riset ilmiah,
kebudayaan masyarakat itu (yang sekarang menjadi semakin ilmiah) semain kurang
berakar dalam pengetahuan dan kesadaran para warganya.
2. Rasio yang dalam jaman Pencerahan
memiliki kesadaran sosial, sekarang menjadi kesadaran subjektif untuk menguji
hipotesis ilmiah secara empiris. Kepentingan kecenderungan, spontanitas,
harapan, tanggapan terhadap penderitaan dan penindasan, hasrat untuk meraih
otonomi yang dewasa, kehendak emansipasi dan kebahagiaan karena menemukan diri
– semua disingkirkan dari kepentingan rasio, dan dituduh sebagai faktor
subjektif.
3. Kritiknya terhadap
positivisme adalah naturalisme, yaitu penerapan metode ilmu-ilmu alam pada
ilmu-ilmu sosial. Positivisme merupakan
cara berfikir, cara memandang dunia dan kehidupan yang dianut oleh masyarakat
modern.
4. Habermas yakin tentang
prinsip universal yang dalam komunikasi,
karena dalam setiap komunikasi, para partisipan ingin mencapai konsensus
rasional bebas dominasi, merupakan
prinsip yang bisa menjadi semacam standar normalitas, yakni menuju
masyarakat semakin komunikatif dan rasional.
5. Saat ini menurut Habermas
terjadi kapitalisme lanjut, yakni (1) basis ekonomi menentukan superstruktur
kesadaran menjadi tidak relevan; (2) perkembangan standar kehidupan sudah
sangat jauh; (3) kaum proletar tidak bisa lagi dijadikan tumpuan agen
perubahan; (4) Marxisme sudah kehilangan daya tariknya sebagai ilmu.
6. Habermas membedakan dua
dimensi dalam praksis hidup manusia, dan yang satu tidak bisa dikesampingan
dari yang lain, yakni dimensi kerja dan interaksi atau komunikasi, keduanya
merupakan tindakan sosial.
7. Modernisasi disebabkan
oleh sebuah kombinasi dari faktor eksternal, seperti sistem ekonomi pasar dan
aparat negara yang menyokongnya, dan struktur kesadaran yang muncul dari
sintesis tradisi Yahudi, Kristen, Islam, dan Yunani yang mendorong
rasionalisasi kultural.
8. Habermas tidak setuju
dengan anggapan bahwa ekonomi dan teknologi merupakan faktor penentu perubahan
sosial. Dalam masyarakat kapitalis
ekonomi dan teknologi menentukan cara produksi, tetapi tidak berarti menjadi penentu
perubahan sosial. Keduanya hanyalah faktor pendorong, yang hakiki adalah
interaksi atau komunikasi sosial itu sendiri.
9. Habermas mengatakan bahwa
peran politisi di atas para ahli. Sebaliknya para ahli sendiri semakin
tergantung kepada politisi, sehingga pertimbangan ilmiah tidak banyak digunakan
di dalam pengambilan keputusan.
10. Perubahan sosial sebagai
evolusi sosial yang mencakup 3 dimensi yakni, (1) dimensi pengetahuan teknis yang ditandai dengan
perkembangan kekuatan produksi; (2) kesadaran praktis-moral, yakni perubahan
sistem nilai, moralitas, hukum, dll; (3) dimensi kekuasaan, bertumbuhnya
otonomi.
Bandung, 22 Oktober 2011




0 Comments