PEMBANGUNAN DESA MULAI DARI BELAKANG
(Robert Chambers)
Kajian Literatur
Oleh: Purwowibowo
Dalam buku ini Robert Chambers berterus terang melakukan
otokritik, bahwa apa yang ditulisnya sebagai bagian orang luar dalam melihat
permasalahan kemiskinan dan pembangunan perdesaan di negara berkembang pada
umumnya.
Sebagai orang luar tentu melihat permasalahan demikian dari segi
profesionalnya saja, yang tidak lepas dari kelemahan-kelemahan dengan melihat
kondisi perdesaan dalam bentuk dikotomis, misalnya, kota-desa,
industri-pertanian, padat-karya padat-modal, modern-tradisional, dan
seterusnya.
Dikotomi demikian memang mengandung bias, apalagi jika melihat
perkembangan dan perubahan masyarakat sekarang ini sulit untuk membedakan lagi
antara desa dan kota.
Sebagai orang luar, Chambers mengakui juga adanya
keterbatasan dalam dirinya, yang selalu membayangi pemikirannya. Meskipun dia
melihat permasalahan kemiskinan di perdesaan dengan kepala dingin, namun tidak
berhasil, karena dia tidak bisa mengingkari dirinya sebagai orang luar
(Inggris) dalam mengamati komunitas perdesaan yang ditelitinya.
Namun demikian, sebagai seorang profesional, dia
berusaha keras untuk menemukan fakta, gagasan, dan argumen yang orisinal dari
apa yang telah dilihatnya dan pengalaman yang dialaminya. Hanya saja, sebagai
orang luar, dalam mengamati kemiskinan atau kondisi perdesaan didasarkan atas
prasangka-prasangka sebagai orang luar, yang belum tentu benar sesuai
kenyataan.
Sebagai seorang ilmuwan, Chamber mengakui, bahwa kebanyakan
ilmuwan memang terlatih untuk kritis, beradu pendapat, dan menemukan kesalahan
dari suatu kebijakan. Sikap kritis semacam ini dapat membantu meningkatkan
pengertian dan pemahamannya tentang kondisi dan situasi masyarakat perdesaan.
Chambers melihat kemiskinan yang luar biasa di desa-desa Dunia Ketiga, menurut
Chamber, sebagai suatu penghinaan, hal ini bukan hanya karena tidak
dibenarkannya suatu tindakan perampasan, penderitaan dan kematian, yang
sebetulnya dapat dicegah, melainkan kondisi demikian berdampingan dengan
kemakmuran yang dialami oleh segelintir orang.
Ratusan juta orang mengalami
kemiskinan sebagai sesama penduduk bumi, yang harus bergulat setiap hari dengan
usaha keras untuk mendapatkan sesuap nasi, tidak berdaya dengan serangan
penyakit, dan harus merelakan kematian anak-anak mereka.
Sedangkan di lain
pihak, sedikit orang mengalami kemakmuran dengan menguasai berbagai sumber
daya, baik sumber daya alam, sumber daya ekonomi, sumber daya politik, sumber
daya sosial. Jika orang makmur (kaya) masa depanya bisa terang benderang, maka
kondisi sebaliknya bagi orang miskin.
Masa depannya gelap gulita, nasibnya
belum jelas, dan penanggulangan untuk mengentaskan kemiskinannya masih kelabu,
bahkan banyak yang belum tersentuh dari program kegiatan, baik yang dilakukan
oleh pemerintah maupun organisasi non-formal lainnya.
Untuk membantu mereka keluar dari kemiskinannya,
sesungguhnya tergantung mereka sendiri. Namun demikian, bagaimana mereka bisa
memulainya, tentu peran orang luar sangat diperlukan.
Bisa birokrat, relawan,
ilmuwan, tenaga profesional, dan lainnya, untuk melakukan prakarsa, karena
orang luar tersebut memiliki kekuatan, kemampuan, sumber daya yang lebih dan
dapat digunakan untuk memobilisir dalam memberdayakan orang miskin di
perdesaan. Orang-orang luar tersebut dapat melakukan sesuatu sesuai dengan
forsi dan kemampuannya untuk membantu masyarakat miskin di berbagai wilayah
perdesaan.
Ada banyak penyebab terjadinya kemiskinan di masyarakat
perdesaan, misalnya dari lemahnya kekuatan ekonomi, hubungan sosial yang
renggang, hak atas kekayaan dan kekuasaan tidak merata, kerusakan lingkungan,
ketrampilan rendah, pendidikan rendah, penguasaan aset terbatas, bencana alam,
perampasan, cuaca buruk, birokratis, distribusi terhambat, kepadatan penduduk,
gagal meningkatkan hasil panen, dan lain sebagainya.
Kondisi-kondisi demikian
membelit masyarakat perdesaan sehingga mereka dalam kondisi kemiskinan, dan
sebagian besar sulit keluar dari jeratan kemiskinan, bahkan hidup dalam
lingkaran kemiskinan (cycle of poverty). Jika orang tuanya miskin,
generasi berikutnya menjadi miskin, karena dengan kemiskinannya itu, anak orang
miskin tidak mendapatkan akses pendidikan yang cukup, ketrampilan yang memadai,
sehingga kawin di usia dini, tanpa pekerjaan, dan akhirnya berada dalam
kubangan kemiskinan.
Menurut Chambers, masyarakat perdesaan yang miskin mempunyai
tipologi sebagai berikut: (1) rumah tangga yang miskin. Dalam rumah tangga
demikian tidak mempunyai sedikitpun kekayaan, tempat tinggalnya terbuat dari
bambu, tanah liat, jerami, alang-alang, dilengkapi dengan sedikit perabot rumah
tangga, ranjangnya tikar, dan kondisi sanitasinya sangat minim. (2) Rumah
tangga yang lemah jasmani.
Di dalam rumah tangga demikian tanggungan
keluarganya sangat banyak sedangkan pencari nafkahnya seorang kepala rumah
tangga saja.
Selain itu, anggota keluarganya ada yang sakit kronis, menahun,
dan tua yang tidak produktif sama seklai. (3) rumah tangga yang tersisih dari
kehidupan. Dalam kelompok ini adalah rumah tangga yang terisolasi dari dunia
luar, terpencil, di pinggir hutan, terkadang buta huruf. (4) rumah tangga yang
rentan. Adalah rumah tangga yang tidak memilki penyangga untuk memenuhi
kebutuhan yang tiba-tiba. Misalnya keluarganya jatuh sakit, kena musibah, gagal
panen, kecelakaan, kematian, dan lain sebagainya. (5) Rumah tangga tidak
berdaya. Dalam kelompok ini rumah tangga rentan mendapatkan perlakuan yang
tidak adil, diperas, diintimidasi, dan tindakan kriminal lainnya.
Paling tidak menurut Chambers, ada 5 perangkap kemiskinan
yang ada di masyarakat perdesaan di negara Dunia Ketiga, yakni: (1) kemiskinan
jasmani dan rokhani; (2) kelemahan fisik; (3) Isolasi; (4) Kerawanan; (5)
Ketidak berdayaan. Kelima perangkap kemiskinan ini saling kait-mengkait satu
dengan yang lain sebagai suatu keseluruhan.
Sebagai orang luar, yang hanya bisa
menawarkan suatu resep yang mungkin belum tentu cocok, bahwa untuk
menghilangkan perangkap kemiskinan masyarakat perdesaan, harus diurai dan
dicarikan jalan keluarnya. Oleh karena itu, perlu prioritas dan strategi
pembangunan yang membela dan berpihak terhadap orang miskin.
Orang luar, hanya bisa membantu membuat rencana-rencana
pembangunan perdesaan yang didasarkan atas masalah yang muncul dan keberadaan
potensi yang ada di wilayah yang bersangkutan. Karena pada umumnya suatu proyek
pembangunan yang direncanakan oleh suatu pemerintah bertujuan untuk
meningkatkan kemakmuran masyarakat, dan secara tidak langsung mengentaskan
kemiskinan.
Selain itu, orang luar dapat membantu menemukan dan menciptakan
peluang berdasarkan potensi masyarakat dan sumber daya yang ada di lingkungan
sekitarnya. Misalnya, pemanfaatan sumberdaya milik bersama (hutan, bantaran
sungai, sungai, dan lainnya); memperbaiki alat-alat untuk proses produksi;
membuka lapangan kerja musiman; membantu rumah tangga miskin dengan modal yang
kecil; membangun prasarana dan sarana pertanian di perdesaan; memanfaatkan budi
daya air; mengembangkan varitas tanaman yang lebih produkti, dan lainnya.
Agar kita dapat memahami kondisi kemiskinan masyarakat
perdesaan perlu dikembangkan sikap positif, terutama bagi para profesional dan
ilmuwan yang berkecimpung di dalam pembangunan desa. Misalnya, (1) harus menghilangkan sikap anti kemikinan,
artinya kita harus berusaha membantu orang miskin keluar dari jerat
kemiskinannya; (2) tinggal bersama lebih lama. Dengan tinggal lebih lama pada
kehidupan masyarakat miskin, maka dapat merasakan dan memahami kondisi
kemiskinan mereka; (3) Berlakulah seperti orang kecil atau miskin. Jangan
menjaga jarak dengan mereka, cara berpakaian, cara makan, berbicara, dan lain
sebagainya.
Selain itu juga perlu sikap mendahulukan yang terakhir,
mengisyaratkan suatu proses belajar yang terbalik. Jargon, “kita harus mendidik
petani”, “memberantas kemiskinan masyarakat desa”, “membantu memberikan modal”,
“memberdayakan mereka”, sesungguhnya merupakan konsep orang luar dalam
melakukan pemberdayaan dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang dialaminya.
Namun, kita harus berfikir ulang dengan jargon
yang pernah kita dengungkan tersebut, sebaliknya kita harus merendah dan belajar dari
bawah. Belajar dari bawah adalah cara belajar yang langsung dari orang
desa, dengan mencoba memahami sistem pengetahuan yang dimilikinya dan menggali
ketrampilan teknisnya. Selain itu, belajar dari bawah mengandung makna
bahwa orang luar harus belajar menghayati kehidupan orang miskin di perdesaan,
mencoba merasakan kehidupan dari sisi orang yang menderita.
Banyak cara untuk dapat menerapkan proses belajar dari bawah,
misalnya: (1) duduk bersama mereka, bertanya dan mendengarkan. Hindari
menggurui mereka, karena kemungkinan masyarakat perdesaan mempunyai pandangan
tertentu yang merupakan kearifan lokal (local
genius), yang barangkali anda tidak ketahui; (2) belajar dari orang yang
paling miskin. Pada umumnya orang miskin memang bodoh, tetapi kita perlu tahu
bagaimana mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang, tentu mempunyai strategi
yang mungkin tidak kita ketahui; (3) mempelajari pengetahuan teknis mereka.
Tentu orang perdesaan lebih paham dengan kondisi dan situasi lingkungan
sekitarnya, sehingga mempunyai teknologi tersendiri dalam mensikapi kondisi
lingkungannya: (4) melakukan penelitian dan pengembangan bersama masyarakat
miskin. Hal ini secara sengaja memindahkan laboratorium kita, terutama yang
melakukan penelitian sosial, di tengah kehidupan masyarakat perdesaan yang
miskin. Dengan demikian akan banyak masukan yang diperoleh untuk mendapatkan
pengetahuan yang kita perlukan; (5) Belajar sambil bekerja.
Maksudnya adalah
kita sebagai orang luar harus terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari
mereka, di sawah, di rumah, di kandang, dan di tempat yang mereka gunakan untuk
bekerja; (6) mengadakan simulasi. Cara ini terkadang juga baik untuk
mempelajari kehidupan orang desa, misalnya, mengenai hubungan sosialnya dengan
tetangga, dengan pemimpin formal, maupun informal, bahkan hubungannya dengan
masyarakat sekitarnya.
Dengan cara demikian akan diperoleh umpan balik, yang
merupakan kondisi aktual dari keberadaan mereka. Umpan balik itulah yang dapat
digunakan oleh perencana pembangunan perdesaan untuk membuat semacam “blue
print” mengenai pembangunan perdesaan, mulai dari tingkat pusat,
tingkat daerah, sampai di tingkat perdesaan.
Model pembangunan perdesaan
demikian bisa disebut dengan suatu model pembangunan dari bawah (bottom-up) atau pembangunan yang
didasarkan atas proses belajar dari bawah. Model ini memang memerlukan waktu
yang panjang dan tenaga yang banyak, tetapi bisa dianggap sebagai model yang
ramah bagi masyarakat miskin perdesaan, karena strateginya didapatkan dari
kehidupan masyarkat perdesaan.
Jika dibandingkan dengan model pembangunan
perdesaan yang (top-down), yang
dirancang dari atas, memang lebih efektif, tetapi banyak kasus mengalami
kegagalan. Mudah-mudahan model belajar dari bawah (bottom-up) yang digagas oleh Chambers ini ada manfaatnya, terutama
bagi pembangunan desa di Negara Dunia Ketiga, meskipun ide atau pemikiran itu
telah lama dikemukakan.
Semoga!!!
Bandung, 31 Maret 2012
Purwowibowo
Disarikan dari buku : Pembangunan
Desa Mulai dari Belakang, Oleh Robert Chambers, 1987. Jakarta LP3ES.
0 Comments