Review Literatur
Oleh: Purwowibowo
PENDAHULUAN
Di dalam era industrialisasi merupakan suatu periode yang
tidak pararel antara pencapaian di bidang teknologi dan bidang ekonomi bagi
kehidupan masyarakat. Jadi secara substansial keduanya mencapai keberhasilan di
dalam membawa pengaruh yang sangat besar dan luas bagi penduduk di negara
industri barat yang telah memberikan inspirasi mengenai visi global tentang
satu dunia yang mungkin memimpikan suatu dunia tanpa adanya kemiskinan.
Kesuksesan yang tidak bisa disangkal lagi mengenai “Marshall Plan” telah mampu mempercepat rekonstruksi kembali
Eropa setelah perang dunia kedua dengan mendorong suatu pencapaian tujuan yang
dapat dicapai. Visi tersebut menyebar dengan cepat mempengaruhi jutaan orang di
berbagai bangsa dengan berbagai tahapan pembangunan ekonomi.
Rahasia
keberhasilan itu diperkiraan, sebagai artikulasi dari penerapan teori
pembangunan saat itu, dengan disertai dengan tingkat pertumbuhan yang
dihasilkan dari ekonomi melalui investasi besar-besaran di bidang
industrialisasi.
Teori tersebut memperkirakan
bahwa negara yang dengan setia mengejar pertumbuhan dengan suatu resep
kebijakan yang secara perlahan
mengembangkan sektor ekonomi modern sampai seluruh penduduk menjadi bagiannya
dan akhirnya dapat mengakses keuntungan dari masyarakat konsumen modern.
Strategi pembangunan tersebut berasal dari teori yang disebut dengan
mengkonsentrasikan perhatian dan sumber daya dalam mencapai kemungkinan
pertumbuhan maksimun di dalam produksi. Berbagai peralatan
managemen dikembangkan untuk membantu menentukan keputusan pengalokasian sumber
daya dengan konsisten sebagai prioritasnya.
Ketika semuanya didasarkan atas maksud untuk mendapatkan
keuntungan bagi manusia, strategi dan metodologi demikian awalnya disebut
dengan suatu pembangunan“berpusat pada produksi”. Mereka
memperkirakan bahwa penekanan terhadap satu pemikiran di dalam produksi secara
otomatis akan mengubah ke dalam peningkatan keuntungan bagi semua orang.
Dengan
kondisi indikator dan kebijakan yang menjadi kriterianya pada periode tertentu
yang biasanya diukur dengan produksi yang dihasilkan oleh orang-orang. Di sana,
tentu, disebut dengan investasi untuk pembangunan sumber daya manusia, tetapi
secara rutin bisa dibenarkan pada tataran dasar yang mereka mendapatkan hasil
yang lebih tinggi dalam bentuk pembayaran gajinya di dalam produksi yang
merupakan alternatif investasi - tidak
karena mereka mendapatkan keuntungan secara langsung.
Dengan keuntungan yang
secara langsung melihat hal itu sedikit diremehkan sebagai pengeluaran
konsumtif – sebagai suatu pengalihan dari sumber daya dari investasi di dalam
pertumbuhan. Lebih dari sekedar teori yang rumit di dalam membentuk pusat-produksi
yang kuat sebagai suatu definisi dari tujuan pembangunan dan sebagai resep
kebijakan untuk dicapai.
Visi ini berdasarkan suatu pegangan yang sangat dalam
dan luas dari suatu keyakinan sistem produksi dengan pertumbuhan yang cepat
mengenai teknik sosial – suatu pusat-produksi sebagai paradigma pembangunan.Teori dependensi yang berkembang dan menonjol di akhir
tahun 1960-an, tidak hanya salah satu yang menyatakan mengenai keterbatasan
mengenai teori pertumbuhan neo-klasik.
Kritik secara substansial juga muncul dari
kalangan para ilmuwan terutama barisan ekonom. Mereka menyadari bahwa teori
merembes kebawah (trikel-down effects) diperkirakan secara teoritis seringkali
mengalami kegagalan atau tidak terjadi, justru kebalikannya yakni pengaruh
merembes ke atas (trickle-up) yang tidak pernah dipahami.
Dengan menguji kembali
yang dimulai akhir tahun 1960-an dan di awal tahun 1970-an, suatu keberanian untuk berkomintmen di
seluruh dunia dengan menempatkan secara
langsung tiga tantangan pusat pembangunan: yakni pengurangan kemiskinan, perlindungan
kapasitas produksi berdasarkan sumber
daya lingkungan, dan pemberdayaan manusia melalui peningkatan partisipasi di dalam proses pembangunan. Komitmen
demikian disertai dengan menguji kembali teori yang digunakan dan resep yang
diterapkan berkaitan dengan teori pusat produksi.
Realisasinya dengan mendatangkan teknologi yang efisien
menghasilkan pertumbuhan secara substansial di dalam produktivitas tenaga kerja
industri perkotaan, tetapi tanpa menciptakan lapangan kerja pada tingkat yang
sepadan dengan pertumbuhan sejumlah pencari kerja dalam memberikan tekanan pada
strategi pertumbuhan murni, justru sebaliknya akan menjadi bukti yang
didasarkan atas asumsi yang keliru – yakni, bahwa negara berkembang miskin menjadi
lebih miskin karena mereka tidak mempunyai tenaga kerja potensial produktif.
Dalam kenyataannya, masalahnya adalah kemalasan secara ekonomi. Secara berbeda,
hal itu berkaitan dengan daya tahan dalam bekerja yang memerlukan waktu
beberapa jam, ternyata mengalami kesulitan dan berkaitan dengan kegiatan yang
seringkali tidak produktif dari pencapaian mereka, kegiatan mereka lebih dari
hanya kegiatan yang bersifat subsisten saja: menjadi pengangguran sehingga mati kelaparan.
Dipihak
lain, mereka menjadi mahir menciptakan lapangan kerja sendiri sebagai pedagang
kecil (sektor informal), tukang rongsokan besi, pengumpul barang bekas, dan
pengangkut air. Mereka menjual tiket lotere, menjadikan dirinya sebagai
pelacur, membersihkan kaca mobil di perempatan jalan, mencari barang di tempat
sampah, atau mendapatkan berbagai bidang pekerjaan lainnya yang menyediakan
kesempatan untuk hidup.
Dengan realitas yang demikian, banyak analis
mencurahkan perhatiannya mengatasi masalah yang muncul dengan menambah jumlah
pekerjaan yang bisa disediakan untuk mengatasi masalah tersebut dengan kualitas
yang lebih baik.
PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERPUSAT PADA MANUSIA
Perspektif pembangunan yang berpusat pada manusia, terus
mendapatkan pengakuan. Penelitian yang sangat besar telah dipublikasikan pada
tahun 1974 oleh Bank dunia dan Studi Pembangunan Institute Sussex yang disebut dengan
suatu strategi “pertumbuhan dengan pemerataan”. Hal tersebut langsung dengan memperluas
penggunaan produktivitas sumber daya di dalam skala kecil di bidang pertanian
dan sektor informal perkotaan yang dapat dimasuki oleh sebagian besar rumah
tangga orang miskin.
Pendekatan demikian direkomendasikan di dalam strategi perdesaan
yang fokusnya adalah peningkatan akses bagi petani kecil dan buruh tani yang
bekerja di sawahnya sendiri, diberikan air bersih, kredit usaha, dan berbagai fasilitas
lainnya yang akan memberikan mereka kesempatan untuk meningkatkan
produktivitasnya.
Strategi di perkotaan ditekankan pada membuka kesempatan
untuk meningkatkan produktivitas pada pekerja sendiri dan produsen kecil
melalui peningkatan akses terhadap input dan perubahan kebijakan yang bersifat
diskriminatif terhadap keberadaan mereka.
Tema yang lain juga diperkenalkan
melalui kebutuhan dasar, seperti sekolah, dengan menganjurkan bahwa ukuran yang
benar untuk melihat perkembangan pembangunan adalah memperluas pemenuhan
kebutuhan dasar bagi sebanyak mungkin orang dan kebutuhan tersebut dapat
diperoleh secara langsung dan dengan segera, melalui program pemberian subsidi
jika diperlukan. Ukuran Indeks Kualitas Hidup Fisik (PQLI) dikembangkan sebagai
suatu alternatif dari Produk Nasional Brutto untuk mencapai tujuan pembangunan
Sangat penting sebagai pengembangan pemikiran dan
memperkenalkan reformasi kebutuhan di dalam prioritas pembangunan dan kegiatan,
maupun pertumbuhan dengan pemerataan dan juga kebutuhan dasar sekolah
diupayakan lebih dari sekedar alternatif tambahan dari dominasi model
pembangunan yang ada.
Adanya penyesuaian sedikit di dalam kedua prioritas dan
resep menuju paradigma “people-centered development”,
dengan mengembangkan tiga pusat tantangan pembangunan yang masih ada dan
memerlukan pemecahan dengan segera. Dekade lalu merupakan masa yang membawa
ketenangan dan keberhasilan dalam pengembangan pembangunan.
Masih juga ada
perkembangan tekonologi yang luar biasa, dan juga kesadaran manusia mengenai tidak
terbatasnya sifat dasar potensi manusia dan kesempatan untuk hidup di dalam
keharmonisan dengan lingkungan alam. Kemajuan tersebut didasarkan pada penetapan
alternatif tentang “people centered development” di dalam kerangka
paradigma pembangunan yang berpusat pada produksi dan membuka sangat luas kemungkinan baru untuk menciptakan suatu masyarakat global
yang sungguh-sungguh.
Di dalam buku ini berisi sejumlah kontribusi penting di
dalam mendiskusikan pertumbuhan untuk menetapkan suatu alternatif, atau
paradigma pembangunan yang disebut dengan “people centered development”.
Para penulis mengemukakan tentang situasi kemanusiaan saat
ini di dalam perspektif perubahan sosial jangka panjang. Argumen dasarnya
adalah mereka mengembangkan suatu masyarakat industri yang didukung oleh
masyarakat pertanian. Diantara keduanya adalah suatu masa transisi penting
termasuk perubahan besar di dalam nilai, struktur sosial, dan teknik produksi.
Suatu tranformasi sosial menuju bentuk masyarakat post-industri yang lebih
pantas bagi negara yang berdasarkan pertanian (agricultural based) guna lebih maju, dengan melakukan langkah cepat
menuju masyarakat industri. Di dalam era industrialisasi lebih banyak
menciptakan suatu kondisi yang dapat mendorong terjadinya suatu tranformasi
(perubahan). Hal itu juga dapat menciptakan kemungkinan pencapaian suatu
masyarakat global bagi semua orang yang
bisa memberikan kesempatan untuk merealisasikan potensinya.
Salah satu hal yang sangat penting dan perlu disadari adalah
bahwa masyarakat manusia sekarang ini berada di dalam suatu terminologi dengan
kenyataan hidup di suatu planet bumi yang kecil. Akibat dari realitas ini, akan
digambarkan ke dalam suatu dasar alternatif ekonomi, yakni dengan
mengeksplorasi reorientasi mengenai nilai dasar yang diperlukan untuk hidup
harmoni melalui proses alamiah, dan membahas alternatif bentuk organisasi (lembaga)
yang tepat di dalam mengelola sumber daya yang ada.
Persaingan memperebutkan sumber daya dan dinamika
kemiskinan, akan berkurang secara berangsur-angsur melalui proses perubahan dan
merupakan tantangan utama dari transformasi sosial yang dilakukan. Dalam hal
ini akan dibahas mengenai dinamika kemiskinan dan menopang kondisi kemiskinan
tersebut. Memperdebatkan tentang kemiskinan merupakan masalah sistemik dan
menyarankan bahwa kemiskinan dapat dikurangi hanya melalui perubahan sistemik
juga.
Kemudian juga membahas masalah definisi dengan membahas
isu-isu berdasarkan pada pilihan rekayasa sosial yang tepat bagi tujuan dari “people-centered”. Fokusnya pada teori
pembelajaran sosial (social learning)
dan aplikasinya di dalam membuat pembelajaran lebih cepat dan efektif bagi
individu dan lembaga.
Selain itu, juga memperdebatkan tentang “people centered development” serta
fungsinya dalam perubahan sosial (pembangunan), sebagai metodologi dari
paradigma “people centered development”
dengan fokus perhatiannya pada sistem produksi dan sistem kesehatan.
‘People
centered development’ harus menitikberatkan pada manusia dan kesejahteraan
mereka, dengan menekankan bahwa pentingnya wilayah dan kepercayaan diri masyarakat
sebagai petunjuk dasar, sehingga dapat memberikan pilihan di dalam menggunakan
sumber daya lokal di bawah kendali lokal untuk memenuhi kebutuhan mereka
sendiri.
People Centered Development
lebih menekankan pada pemberdayaan manusia dengan mengendalikan
kehidupan mereka dan sumber dayanya, menciptakan sumber kehidupan rumah
tangganya. Secara langsung mereka dapat mengejar pembangunan sebagai suatu upaya
mencapai kesejahteraan, yang merupakan tujuan akhir dari “people centered development”. Hal itu berarti pencapaian suatu pembangunan.
Terkadang demikian yang dilakukan pemerintah mendapat celaan dari berbagai
kalangan. Kompleksitas isu (masalah) demikian dikaitkan dengan lembaga modern saat
ini, dari lembaga yang demokratis sampai kepada birokrasi di bidang bisnis,
pemerintah, dan lembaga perburuhan, yang condong kepada ketidak berdayaan
manusia, seringkali memindahkan mereka dengan mengendalikannya, tetapi hal itu hanya
merupakan sedikit porsi dari hidup mereka.
Justru yang sering terjadi adalah,
tanggung jawab terhadap mereka menjadi suatu masalah yang serius, dengan menciptakan
permintaan untuk mengontrol struktur yang ada untuk menyediakan layanan kepada
masyarakat. Selanjutnya dibahas secara bersama-sama mengenai berbagai strategi
dari argumen yang logis di dalam
kerangka “people centered development”.
Perkembangan era industrialisasi yang dikendalikan oleh
paradigma pertumbuhan sangatlah kuat, yakni menitik beratkan suatu produk yang
sangat besar dan berasal dari pemikiran bangsa Barat (Eropa dan Amerika).
Paradigma ini mendominasi langsung pembangunan masyarakat, dengan jalan untuk
mencapai tujuan dengan suatu kebijakan langsung. Untuk itu memerlukan
metodologi yang canggih di dalam memandu untuk memberikan pilihan kepada
manusia secara konsisten dengan mendasarkan pada premis tertentu, yakni
produksi lebih (over production).
Di
dalam paradigma tersebut tekanannya pada sumbangan paradigma pertumbuhan secara
absulot, dalam periode ini disebut dengan “periode transisi” bagi masyarakat
manusia. Pada periode ini, adanya penekanan bentuk tranformasi, yakni suatu
perspektif dunia ketiga, dengan mengusulkan kesempatan yang luas suatu bangsa
tidak harus menuju suatu era industri, bisa suatu bangsa mendasarkan atau
berlandaskan diri pada bidang pertanian.
Perkembangan perubahan sosial diawali dari kehidupan
manusia, mulai dari berburu sampai pertanian menetap, dengan irigasi pertanian
yang intensif, dan akhirnya menuju masyarakat industri. Ketika jumlah penduduk bertambah, maka perubahan sosial menunjukkan kemajuan dan
bertambah jumlahnya, ada usulan untuk menghilangkan struktur kelas, yang
memberikan hak istimewa bagi segolongan orang tertentu, dengan menambah jam
kerja mereka dan meningkatkan penggunaan fisiknya sebagai upaya untuk bertahan
hidup. Hasilnya adalah bahwa mereka ada yang mampu merealisasikan potensi
kemanusiaannya.
Apakah perubahan sosial berikutnya akan diulangi sesederhana
demikian dan berlangsung berulang di dalam tingkat teknologi yang lebih tinggi
dan mengusulkan kondisi yang mungkin akan diikuti dengan keluar dari pola
sejarah. Pandangan Darwin tentang evolusi sebagai kompetisi perjuangan untuk
mendapatkan makanan, seksual, dan hidup berguna untuk mencapai kemenangan dan
keberlanjutan hidup. Hal ini dapat digunakan sebagai kontribusi penting dalam mencapai
tujuan yang tepat bagi terwujudnya “people
centered development” di dalam
terminologi evolusi.
Selain perubahan sosial secara evolusi, bisa juga terjadi
perubahan sosial secara revolusi. Perubahan demikian akan berjalan dengan cepat
dan tingkat kemajuannya (akselerasinya) sangat drastis. Namun, perubahan sosial yang revolusioner akan
mengurangi dan menguras sumber daya, sehingga tidak sesuai dengan kebijakan
sosial yang baik. Bisa perubahan sosial revolusioner dengan sadar, yakni
perubahan sosial melalui proses yang cepat, tetapi dampak negatif yang akan
terjadi dapat dikendalikan.
Ciri-ciri dari perubahan sosial revolusioner yang bisa
ditunjukkan dari paradigma era industrialisasi adalah sebagai berikut:
1. 1. Pembangunan dan
penerapannya di dasarkan atas ilmu pengetahuan ilmiah, perpaduan antara
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. 2. Industrialisasi melalui
organisasi dan pembagian pekerjaan, tenaga mesin menggantikan tenaga manusia
dan binatang.
3. Keserakahan terhadap
materi, etika kerja, visi ekonomi, keyakinan mengenai ketidak-terbatasan
perkembangan materi dan pertumbuhan teknologi dan ekonomi.
4. 4. Manusia berusaha untuk
menguasai dan mengendalikan alam lingkungan, berdasarkan pengetahuan mengenai
teori positivisme, memanipulasi pemikiran rasional sebagai tema yang dominan.
5. Tanggung jawab bersifat
individual untuk melawan takdirnya sendiri, kebebasan, dan kesamaan di dalam
hak asasi dasar, perspektif ketidak beradaan nilai, faktor individual yang
baik, masyarakat sebagai kumpulan individu yang mengejar kepentingannya.
Di dalam perkembangannya era industrialisasi memerlukan
nilai-nilai baru, yang bisa menjadi pendorong perkembangan industrialisasi itu
sendiri. Selain itu era industrialisasi juga mengakibatkan terjadinya tragedi
umum, misalnya tidak tersedianya lahan pertanian yang cukup, udara bersih, air
minum, bahan bakar, dan mineral lainnya akibat industrialisasi yang bersifat
eksploitatif. Tidak tersedianya kesempatan kerja bagi angkatan kerja yang
membutuhkan lapangan kerja, dampak negatif dari penggunaan teknologi, inflasi,
keadaan resesi ekonomi, alienasi, dan lain sebagainya.
Setelah perubahan sosial mengalami stagnan, suatu peradaban
baru telah muncul di dalam kehidupan kita, yakni suatu peradaban yang membawa
pola keluarga baru; perubahan cara kerja, cinta, dan kehidupan; ekonomi baru,
konflik politik baru, dan melampaui semua itu sehingga mengubah kesadaran kita.
Pada awalnya suatu peradaban baru itu merupakan satu kenyataan yang meledak di
dalam kehidupan kita.
PERUBAHAN SOSIAL
Hal itu
merupakan pusat kejadian – dan merupakan kunci di dalam memahami kejadian di
tahun-tahun ke depan. Suatu kejadian yang sangat besar seperti perubahan sosial gelombang pertama (Firt
Wave of Change) yang terjadi puluhan ribu tahun lalu melalui penemuan
di bidang pertanian. Atau kejadian menggemparkan pada perubahan sosial gelombang kedua (Second Wave of Change)
yang ditandai oleh revolusi industri. Kita menjadi seorang anak kecil di dalam
transformasi berikutnya, yakni perubahan
sosial gelombang ketiga (Third Wave of Change).
Munculnya peradaban baru menyangkal atau bertentangan
dengan peradaban industri tradisional
lama. Hal itu, pada waktu yang sama, teknologi tinggi dan anti industrialisasi
muncul bersamaan. Gelombang ketiga membawa sesuatu pandangan hidup baru yang
sebenarnya dengan didasarkan atas keaneka-ragaman, sumber daya energi
terbarukan, metode produksi suatu prabrik perakitan, sesuatu yang baru,
keluarga inti (batih) yang mengalami perubahan, lembaga perkawinan yang mungkin
bisa disebut dengan kios elektronik, perubahan sekolah yang radikal, dan perubahan
perusahaan dalam skala sangat besar di masa depan.
Munculnya peradaban baru
ditandai dengan suatu tingkah laku kita dan membawa kita melampaui standart
yang telah ada, penyelarasan, dan sentralisasi, pemusatan energi, uang, dan
kekuasaan dalam segelintir orang.
Peradaban baru menantang peradaban lama, akan merobohkan
birokrasi, mengurangi peranan negara, dan memberikan separoh otonomi ekonomi di
dalam imperalisme baru di dunia. Di dalam peradaban baru membutuhkan
pemerintahan yang sederhana, lebih efektif, namun lebih demokratis dari yang
telah kita ketahui sekarang ini.
Hal itu merupakan peradaban yang khusus
tentang pandangan mengenai dunia kita, juga merupakan cara kita menghadapi
waktu, ruang, logika, dan penyebabnya.
Semuanya itu, sebagaimana kita lihat, gelombang ketiga
perubahan sosial peradaban dimulai dari pemutusan sejarah antara produsen dan
konsumen, yang memberikan peningkatan pada peningkatan jumlah kekayaan ekonomi
di masa depan. Alasannya adalah, banyak hal, yang dapat membantu kita dengan
mudah – berhasil menjadikan suatu peradaban kemanusiaan pertama yang
benar-benar yang tercatat dalam sejarah, sehingga kehidupan manusia menjadi
lebih efisien.
Sejak akhir tahun 1940-an, salah satu strategi yang dominan
dari banyak pemerintahan adalah berusaha mengurangi jarak antara dunia kaya
dengan dunia miskin (negara kaya dengan negara miskin). Hal ini disebut dengan
strategi gelombang kedua.
Pendekatannya dimulai dengan suatu pemikiran bahwa
masyarakat pada gelombang kedua adalah suatu masyarakat yang harus memainkan
kembali inti dari revolusi industri yang telah terjadi di negara barat, Uni
Sovyet, atau Jepang. Kemajuan ditandai dengan jutaan orang yang pindah kerja
dari bidang pertanian ke dalam produksi masal.
Di dalam gelombang kedua, yang
diperlukan adalah pengkotaan (urbanization), standarisasi, dan semua yang ada
di dalam paket gelombang kedua. Pembangunan secara ringkas adalah meliputi
peniruan yang tepat dari model yang telah sukses di negara maju tersebut
(Jepang dan Eropa Barat).
Di dalam strategi gelombang kedua, sesungguhnya banyak
mengalami kegagalan di dalam menerapkan model sukses dari negara maju yang
ditiru di tahun 1960-an. Pada masa tersebut menimbulkan krisis luar biasa,
misalnya gelombang pemogokan buruh, kerusakan lingkungan, kejahatan, stress
psikis yang menyebar pada masa gelombang kedua berlangsung. Kerusakan
lingkungan terjadi di mana-mana, polusi, krisis energi, sumber daya alam yang
dieksploitasi dan menjadikan masalah ekologis yang luar biasa besarnya.
Di dalam menghadapi kegagalan pada penerapan strategi
gelombang kedua, negara miskin sangat marah di dalam menghadapi kondisi ekonomi
global, mereka sangat kawatir dengan masa depan mereka sendiri – sedangkan
negara kaya di tahun 1970-an menjadi sangat ketakutan untuk menemukan strategi
baru agar dapat keluar dari masalah ekonomi global yang dihadapi.
Hampir semua
pemerintah dan lembaga pembangunan termasuk Bank Dunia, Lembaga Pembangunan
Internasional, dan Perwakilan Pembangunan luar negeri, mengubah strategi
pembangunannya dan kembali kepada strategi pembangunan gelombang pertama.
Rumusan ini hampir sama dengan strategi gelombang kedua.
Walaupun dengan menekankan pada petani dan mendorong mereka masuk ke dalam perekonomian
perkotaan, hal itu disebut dengan penekanan suatu yang baru tentang pembangunan
perdesaan. Walaupun konsentrasinya pada komoditas untuk eksport, tetapi juga
untuk pemenuhan kebutuhan pangan sendiri.
Dengan komuditas eksport diharapkan
GNP menjadi meningkat dan akan terjadi proses merembes ke bawah (trickle down effects) bagi orang miskin,
karena sumber daya akan dapat disalurkan langsung ke dalam “kebutuhan dasar
manusia”.
Pada gelombang pertama ditandai dengan perubahan sosial di
bidang pertanian, pada gelombang kedua ditandai dengan produksi masal, media
masa, pendidikan yang berorentasi pada pabrik, dan lain sebagainya.
Secara berbeda, peradaban gelombang ketiga ditandai dengan
banyak ciri – desentralisasi produksi, skala yang luas dan besar, energi
terbarukan, de-urbanisasi, kerja di rumah, konsumsi tingkat tinggi. Namun
demikian di dalam gelombang ketiga belum ada ciri-ciri tertentu yang menandai
adanya perubahan sosial di dalam gelombang ketiga ini.
Khusus peradaban, bila
pada gelombang pertama jelas ditandai dengan perubahan sosial di bidang
pertanian, gelombang kedua ditandai dengan produksi masal, maka peradaban pada
perubahan sosial dalam gelombang ketiga masih belum jelas, mungkin dapat
disebut sebagai gelombang informasi (purwo sendiri).
Melihat jangka panjang kesejahteraan hidup manusia, “people centered development” menempatkan prioritas tertinggi pada pencapaian suatu
hubungan harmonis dan produktif antara manusia dan lingkungan alam – dengan
salah satunya memperkuat produktivitas alam dan menciptakan potensi baru bagi
pengembangan manusia.
Isu dasarnya menyangkut khususnya antara eksploitatif dan
hubungan partnership. Pada awalnya kita tidak mengenal eksploitasi terhadap
lingkungan – pertambangan terhadap berbagai sumber daya alam dan menggunakannya
tanpa batas dan tidak menimbulkan sampah. Namun, akibat dari penggunaan sumber
daya yang demikian telah menyumbangkan secara positif terhadap kesehatan
ekonomi. Kemudian akhirnya para ahli memandang bahwa tingkah laku demikian merupakan bentuk
kriminal atau kejahatan manusia terhadap lingkungan.
Elizabeth Dodson melihat eksplorasi demikian haruslah
terjadi saling menguntungkan dan memperkuat keberadaan antara manusia dengan
lingkungannya – suatu bentuk pertumbuhan konsisten dan timbal balik antara visi perubahan tanah pertanian dan tanah
lainnya. Sebagai kompetisi peningkatan sumberdaya, masalah klasiknya adalah
mengelola sumber daya secara terbuka menjadi lebih tepat, sebagaimana
dikemukakan oleh Garret Hardin. Hardin membahas tentang masalah dan berbagai pendekatan untuk suatu resolusi
(pemecahan masalah).
Hal itu semua menyangkut suatu pembatasan untuk akses –
apa yang dunia lihat sebagai pembatasan kebebasan. Hardin mengemukakan bahwa
difinisi kebebasan sangat situasional dan selalu berubah sesuai dengan kondisi
lingkungan sekitar.
Connor Bailey pengikut Hardin melakukan studi kasus secara
modern tentang masalah hubungan manusia dengan lingkungan, yakni pemancingan
bawah laut terbuka di Philippines. Bailey membahas berbagai pendekatan untuk
membatasi akses dan menyimpulkan bahwa kebanyakan dapat hidup terus bagi
komunitas pemancing yang mereka sangat tergantung pada pemancingan bawah laut
yang diseting dan untuk memperkuat peraturan mereka sendiri.
Hubungan simbiosis
merupakan merupakan strategi yang menarik dan terbaik bagi seluruh anggota
pemancing. Ketika mereka dengan mudah membela dan menyelesaikan masalahnya
sendiri, dengan prinsip dasarnya adalah mengelola sumber daya komunitas secara
lestari yang dilakukan Bailey dapat diterima dengan cepat sebagai pendekatan
janji di dalam isu kompleks mengenai pengelolaan tanah dan air di negara dunia
ketiga.
Sebagaimana catatan orang yang iseng, kemiskinan selalu
bersama kita. Sungguh sia-sia usaha pembangunan yang berlangsung beberapa
dekade lalu hanya mampu merubah sedikit orang dari kenyataan kemiskinan yang
sesungguhnya. Jika situasi demikian dapat berubah, sangatlah penting untuk
memahami mengapa banyak usaha intensif pembangunan di masa lalu menguntungkan
hanya sedikit orang, sedangkan sebagian besar yang lain masih dalam kondisi
kemiskinan.
Ada banyak perspektif. Tetapi pola dasarnya adalah kompetisi sumber
daya dan eksploitasi, disengaja atau tidak, dengan orang yang mengendalikan
amat sedikit tentang sumber daya dan lainnya tidak, adanya ketidak konsisten yang
luar biasa. Di sisi positif, kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya
meningkatkan kemampuan orang miskin, yang mereka mendapatkan keuntungan untuk
terus dapat hidup, meskipun bias dan terkadang frustasi dengan usaha mereka
untuk meningkatkan kemampuan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Secara total kegunaan kemampuan adalah sebagai
harapan utama untuk mengembangkan usaha pembangunan di masa lalu. Kuncinya
adalah mengurangi ketidakbebasan/leluasaan (sebagai pembatas) bagi orang miskin
dalam menghadapi kemampuan mereka guna kepentingan bekerja. Dengan tindakan itu
dimaksudkan sebagai dasar dalam memahami dinamika orang miskin.
Kemudian Jeffery et al. menganalisis mengapa ada suatu mekanisme
keseimbangan yang didasarkan pembangunan ekonomi ortodoks dengan membahas hasil
distribusi dari peningkatan produksi yang tidak pernah dapat diprediksi.
Analisis mereka menjelaskan mengapa pembelaan kebijakan yang dilakukan oleh
teori ortodoks justru menghasilkan sesuatu yang berbeda, dibandingkan dengan
keseimbangan tersebut.
Studinya juga menyertakan 4 kerangka argumen ekonomi
untuk diterapkan sebagai prinsip lokal di dalam kerangka kebijakan ekonomi. Izzedin membawa kita kepada suatu abstraksi mengenai teori
ekonomi ke dalam praktik ekonomi bagi orang miskin di daerah miskin perdesaan
di Bangledesh dan yang berarti hidup dalam posisi terpinggirkan dalam hidupnya.
Di sini sejarah kemiskinan merupakan bentuk ketidak manusiaan, suatu cerita
yang diperoleh dari pengalaman pribadinya. Selain itu dijelaskan pula mengenai
ciri-ciri dan kondisi orang miskin di berbagai tempat, misalnya sangat lemah,
sangat miskin, sangat tergantung, dan lain sebagainya yang merupakan tantangan
pembangunan yang sedang dilaksanakan di masing-masing negara.
KERANGKA PERENCANAAN
Kerangka Perencanaan bagi People Centered Development (David
C. Korten dan George Carner). Konsep sentral dari “people
centered development” sangatlah
sederhana. Hal ini sebagai suatu pendekatan pembangunan yang melihat inisiatif
yang kreatif dari orang-orang yang menjadi sumber daya utama pembangunan dan materinya,
serta kesejahteraan spiritual sebagai akhir dari proses pembangunan yang
dilakukan.
Kegagalan terbesar dari model pembangunan konvensional, adalah
bersifat sosialis dan kapitalis, yang dasarnya adalah pusat produksi
dengan sistem kebutuhan produksi, yang asumsinya
adalah pemenuhan kebutuhan manusia harus didahulukan. Bagi mereka yang
beruntung dapat berpartisipasi di dalam keseluruhan pembangunan dan mendapatkan
kehidupannya dengan mudah, terutama bagi mereka yang terlibat di birokrasi,
baik swasta maupun publik.
Mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
dengan mudah, termasuk aksesnya terhadap sumberdaya di dalam rumah tangganya,
dan mereka tidak terbatas dalam memperoleh kesempatan untuk menciptakan
kreativitas dirinya. Bagi mereka yang tidak bisa berpartisipasi secara penuh di
dalam pembangunan, sebagai makhluk manusia, hidup dekat dengan kehidupan yang marginal
(terpinggirkan), standar hidupnya sangat rendah di tengah kehidupan masyarakat.
Di dalam waktu yang sama, permintaan akan pembangunan melalui perusahaan-perusahaan
mendorong masyarakat untuk melakukan pengrusakan (eksploitasi) terhadap sumber
daya alam dan membahayakan ekosistem secara keseluruhan bagi kehidupan di bumi,
yang kita sangat tergantung padanya.
Kesadaran tentang dehumanisasi (ketidakmanusiawian) ini,
ketidak-adilan, dan lingkungan yang tidak lestari mengakibatkan model
pembangunan konvensional memunculkan
langkah alternatif. Banyak alternatif sangat meyakinkan yang dapat digunakan
dan secara substansial dapat meningkatkan produktivitas hasil untuk memenuhi
kebutuhan dan perkembangan jumlah penduduk dunia, tetapi harus merupakan
langkah yang beriringan dengan kebutuhan dasar yakni, partisipasi, pemerataan
dan kelestarian lingkungan.
Dari pengalaman, kita disarankan untuk mencari suatu langkah
yang tepat dengan menggunakan eksperimen, yakni dengan alat perencanaan baru
yang mendukung definisi baru dari masalah pembangunan. Dengan usaha demikian
diharapak tercapai reorientasi kelembagaan melalui pengelolaan sumber daya
masyarakat secara produktif – khususnya sumber daya tanah dan air –
mengembalikan pengendaliannya pada orang-orang yang tergantung padanya dalam
kehidupan sehari-harinya.
PUSAT PRODUKSI BEDA DENGAN PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT
Pembela terhadap praktik konvensional tidak akan ragu
menjaga dan mempertahankan model pembangunan tersebut, dengan asumsi bahwa
semua pembangunan bermaksud untuk menguntungkan semua orang. Tetapi, banyak kejadian bahwa secara
substansial bahwa fokus terhadap sistem produksi tidak selalu merupakan suatu
pendekatan yang efektif guna merealisasikan potensi produksi di dalam produksi
masal bagi manusia. Hal tersebut terkadang juga tidak menciptakan sistem produksi yang dapat merespon
kebutuhan mereka.
Secara singkat dapatlah dikemukakan ciri dari pembangunan
yang berpusat pada produksi sebagai berikut:
1. Industri mengalahkan
pertanian, namun bidang pertanian merupakan mayoritas penduduk dunia
menggantungkan kehidupannya.
2.
Wilayah perkotaan lebih kompleks
dari perdesaan, namun wilayah perdesaan merupakan tempat sebagaian besar
penduduk hidup.
3. Konsentrasi melewati batas
kepemilikan mengenai aset produktif, yang hasilnya bahwa investasi pembangunan
hanya menguntungkan sedikit orang dari pada banyak orang.
4.
Penggunaan modal melebihi
optimal sumber daya manusia yang digunakan, akibatnya modal tersebut akan
memperdaya orang yang tidak memiliki modal.
5. Terjadinya eksploitasi
alam dan sumber daya lingkungan untuk mencapai kekayaan material yang berjangka
pendek melebihi pengelolaan yang lestari dan meningkatkan hasil dari sumber
daya tersebut, menghasilkan kerusakan terhadap lingkungan dan terjadi
percepatan penipisan sumber daya alam.
6. Efisien dalam saling
ketergantungan dalam skala produksi sangat besar yang didasarkan atas kemajuan
kebutuhan internasional yang berbeda dan adaptasi dari unit dalam skala kecil
yang terorganisir untuk mencapai kepercayaan lokal, yang menghasilkan suatu
kondisi ekonomi yang menggunakan energi tidak efisien, tidak adanya adaptasi,
dan adanya kerusakan yang serius dari rusaknya atau manipulasi praktik politik
di berbagai bagian sistem sosial.
PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT (Menuju suatu Kerangka Pemikiran, David Korten)
Dominasi logis dari era industrialisasi adalah logika
produksi dan tujuan yang sangat dominan yakni pusat produksi. Pusat-produksi ada nilai-nilai, sistem, dan
metode yang digunakan untuk mengeksploitasi dan memanipulasi sumberdaya alam untuk
kepentingan produksi agar dapat meningkatkan arus barang yang standar dan
layanan yang diberikan, sehingga dapat menciptakan komsumen dalam jumlah banyak
di dalam masyarakat agar dapat menerima produksi masal tersebut.
Di dalam
pusat-produksi juga menciptakan sejumlah besar birokrasi yang mengorganisir
masyarakat ke dalam produksi yang efisien – pengendalian terpusat dan
fungsional – dan suatu pasar dan sistem keuangan dibentuk demi kepentingan semua bangsa di seluruh
dunia. Di dalam sistem pengelolaan dirancang untuk memaksimalkan tingkat pertumbuhan
sehingga di dalam sistem dapat menghasilkan dan menyehatkan perekonomian masyarakat
dalam jumlah yang sangat besar sebagai indikasi adanya peningkatan pertumbuhan.
Hal ini merupakan pemikiran yang didasarkan atas perubahan sosial otomatis
dalam hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan manusia. Keberadaan paradigma demikian (people centered development), sering menghadapi sejumlah kejadian
yang membatasi implementasinya.
Hal ini sebagai suatu refleksi dari pembangunan
yang melekat dan tidak hanya kepada sistem nilai individu dan struktur
kelembagaan, tetapi juga keberadaan kerangka
teoritis dan metodologi yang mendominasi identifikasi masalah dan proses
pencarian pemecahan masalah baik di tingkat individual maupun lembaga.
Penerimaan tentang managemen krisis berusaha untuk menghadapi model pembangunan
ekonomi ortodoks dan klasik yang tidak berhasil dalam menerapkan politik
ekonomi dunia. kebanyakan para pemimpin dari masyarakat terus berusaha tidak
hanya kepada pemikiran dan instrumen yang sudah ada – namun, terkadang suatu
pemikiran yang telah muncul di masa lalu dan mati di era berikutnya.
Di sini
akan bisa membantu menjelaskan mengapa usaha terbaik sering hanya memperburuk
masalah yang dihadapi, padahal upaya tersebut merupakan langkah mencari jalan
keluar atau solusi yang tepat.
ALTERNATIF PARADIGMA PEMBANGUNAN
Di dalam era post-industrialiasasi, pembangunan menghadapi
kondisi yang sangat berbeda dari era industrialisasi. Sekarang potensi baru sangat
penting dalam rangka pembangunan untuk memperkuat kemampuan manusia dan
kesejahteraannya, pemerataan, dan keberlanjutan – merupakan pusat perhatian para
pengambil kebijakan pembangunan yakni, “people
centered development”.
Di dalam mewujudkan potensi demikian di dalam
kegiatan pembangunan di era post-industrialisasi harus diarahkan pada suatu
paradigma baru yang didasarkan suatu alternatif pemikiran, nilai, dan rekayasa
sosial, dan teknologi yang sedang berkembang saat ini.
Ada beberapa alasan untuk menyakini bahwa paradigma
demikian saat ini muncul dari suatu proses global mengenai perubahan sosial
secara integral dan berlangsung bersamaan. Dominasi logis dari paradigma ini adalah
menyeimbangkan ekologi manusia dan dengan menciptakan kreativitas, sedangkan tujuan
dominannya adalah pertumbuhan manusia yang merupakan terminologi dari potensi
manusia.
Sebagaimana secara khusus oleh Guy Gran, ditandai dengan peran
individu tidak sebagai subyek, tetapi sebagai aktor yang merumuskan tujuannya
sendiri, mengendalikan sumber daya sendiri, dan langsung mengikuti prosesnya
sehingga mempengaruhi kehidupanya. People
centered development menempatkan substansi nilai pada inisiatif lokal dan
menyandarkan adanya perbedaan. Jadi berkembangnya model ini harus didukung oleh
sistem organisasi yang menguntungkan dalam lingkungan organisasi tersebut dan
juga menimbulkan kepercayaan masyarakat.
Produksi memang merupakan hal yang sangat penting dalam
mencapai kesejahteraan manusia dan kepercayaan sendiri merupakan inti dari people centered development. Pemikiran
mengenai kekayaan sendiri berasal dari partisipasinya dalam kegiatan produksi
sebagai suatu yang sangat penting untuk mencapai kualitas hidup yang tinggi dan
berpartisipasi dalam mengkonsumsi hasil produksi.
Hasil dari sistem produksi
harus dapat dirasakan bukan saja dalam terminologi nilai dari produk itu
sendiri, tetapi juga terminologi masyarakat termasuk partisipasinya dan
kualitas kerjanya di dalam menyediakan barang kepadanya. Perbedaan pokok antara
pusat
produksi dengan people centered development adalah pada
awalnya manusia hanya sebagai penyumbang di dalam proses sistem produksi,
kemudian akhirnya justru sistem produksi sangat tergantung kepada partisipasi
tenaga kerja masyarakat.
Suatu pemahaman mengenai perbedaan antara pusat manusia (people centered) dan pembangunan pada pusat produksi adalah pada esensinya
tentang pilihan mengenai rekayasa sosial yang tepat sesuai dengan tujuan yang
dicanangkan sebelumnya, sejak dari metodologi perencanaan dan bentuk organisasi
yang netral dan condong kepada maksud atau nilai yang dituju.
Rekayasa sosial
dari pembangunan yang berpusat pada produksi, contohnya, adalah bentuk sistem komando
di dalam organisasi, bebas nilai dari metode analisis kebijakan, metodologi
penelitian sosial yang didasarkan atas prinsip ilmu pengetahuan alam, fungsi di
dalam sistem produksi, dan alat analisis yang manusia sebagai bagian eksternal dan internal dari lingkungan.
Rekayasa sosial mengenai “people centered development” terkadang berada di dalam arus yang
berlawanan. Cirinya berbentuk organisasi itu sendiri yang secara ringkas
diperankan oleh individu di dalam proses pengambilan keputusan dan sering disebut
sebagai aplikasi dari nilai kemanusiaan dalam pembuatan kebijakan.
Hal tersebut
memerlukan proses pengembangan pengetahuan yang di dasarkan atas konsep dan
metode pembelajaran sosial (social
learning). Secara teritorial dari perspektif fungsional didominasi oleh perencanaan
dan pengelolaan dari sistem pusat produksi. Dengan menggunakan kerangka ekologi
manusia di dalam menganalisis pilihan
produksi dan keadaan produksi tidak hanya menempatkan individu dan
lingkungan sebagai bagian eksternal, tetapi juga menjadikan individu dan
lingkungan sebagai dasar dari proses analisis.
Suatu tantangan penting di dalam people centered development adalah reorientasi mengenai
pengembangan birokrasi total dari pemerintahan untuk menjadi suatu organisasi efisien
dan dapat memperkuat kemanusiaan termasuk anggota organisasi dan warga
masyarakat yang menjadi layanannya.
Organisasi demikian secara sederhana dapat
dibangun di sekitar lingkungan kelompok primer, yang fungsinya sebagai team
guna seting dan bertemu untuk merumuskan tujuan lokal dan bergabung tidak hanya
di dalam lingkup birokrasi yang ada, tetapi juga secara terus menerus
terlibat di dalam jaringan hubungan
informal.
Mereka mempunyai peranan penting di dalam hubungannya dengan
komunitas itu sendiri, tetapi harus berhati-hati dalam membahas dan
mendefinisikannya. Untuk itu harus mendefinisikan mereka dalam kerangka jangka
panjang melalui saluran sumber daya ekstenal guna memobilisasi masyarakat desa
sebagai kliennya daripada memberikan kontribusi di dalam pembangunan sebagai
anggota masyarakat (warga negara).
Tujuan dari membangun kekuatan untuk “people centered development” adalah memberikan layanan terbaik melalui
tindakan untuk mempercepat munculnya kreativitas baru, daripada melalui konflik
politik untuk menghilangkan sesuatu yang sudah lama ada.
Proses persiapannya
adalah berlangsung lama melalui kegiatan kolektif dari kreasi manusia yang
dimulai dari tidak mempunyai visi organisatoris, tidak ada pemimpin, tidak
anggaran, tidak mengenal batas negara, melampaui ideologi tradisional dan
kepentingan politik.
Bandung, 30 Maret 2012
Purwowibowo
Disarikan dari buku : People Centered Development,
Contribution toward Theory and Planning Frameworks . oleh ; David
C. Korten et.al 1984. USA. Kumarian Press.




2 Comments
bagus review mohon share tks
ReplyDeleteThanks, ok
Delete