PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT


PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT (David C. Korten and Rudi Klaus)
Review Literatur
Oleh: Purwowibowo
PENDAHULUAN
 
Di dalam era industrialisasi merupakan suatu periode yang tidak pararel antara pencapaian di bidang teknologi dan bidang ekonomi bagi kehidupan masyarakat. Jadi secara substansial keduanya mencapai keberhasilan di dalam membawa pengaruh yang sangat besar dan luas bagi penduduk di negara industri barat yang telah memberikan inspirasi mengenai visi global tentang satu dunia yang mungkin memimpikan suatu dunia tanpa adanya kemiskinan.
 
Kesuksesan yang tidak bisa disangkal lagi mengenai “Marshall Plan”  telah mampu mempercepat rekonstruksi kembali Eropa setelah perang dunia kedua dengan mendorong suatu pencapaian tujuan yang dapat dicapai. Visi tersebut menyebar dengan cepat mempengaruhi jutaan orang di berbagai bangsa dengan berbagai tahapan pembangunan ekonomi. 
 
Rahasia keberhasilan itu diperkiraan, sebagai artikulasi dari penerapan teori pembangunan saat itu, dengan disertai dengan tingkat pertumbuhan yang dihasilkan dari ekonomi melalui investasi besar-besaran di bidang industrialisasi.  
 
Teori tersebut memperkirakan bahwa negara yang dengan setia mengejar pertumbuhan dengan suatu resep kebijakan  yang secara perlahan mengembangkan sektor ekonomi modern sampai seluruh penduduk menjadi bagiannya dan akhirnya dapat mengakses keuntungan dari masyarakat konsumen modern.
 
Strategi pembangunan tersebut berasal dari teori yang disebut dengan mengkonsentrasikan perhatian dan sumber daya dalam mencapai kemungkinan pertumbuhan maksimun di dalam produksi. Berbagai peralatan managemen dikembangkan untuk membantu menentukan keputusan pengalokasian sumber daya dengan konsisten sebagai prioritasnya. 
 
Ketika semuanya didasarkan atas maksud untuk mendapatkan keuntungan bagi manusia, strategi dan metodologi demikian awalnya disebut dengan suatu pembangunan“berpusat pada produksi”. Mereka memperkirakan bahwa penekanan terhadap satu pemikiran di dalam produksi secara otomatis akan mengubah ke dalam peningkatan keuntungan bagi semua orang.
 
Dengan kondisi indikator dan kebijakan yang menjadi kriterianya pada periode tertentu yang biasanya diukur dengan produksi yang dihasilkan oleh orang-orang. Di sana, tentu, disebut dengan investasi untuk pembangunan sumber daya manusia, tetapi secara rutin bisa dibenarkan pada tataran dasar yang mereka mendapatkan hasil yang lebih tinggi dalam bentuk pembayaran gajinya di dalam produksi yang merupakan alternatif investasi - tidak karena mereka mendapatkan keuntungan secara langsung.
 
Dengan keuntungan yang secara langsung melihat hal itu sedikit diremehkan sebagai pengeluaran konsumtif – sebagai suatu pengalihan dari sumber daya dari investasi di dalam pertumbuhan. Lebih dari sekedar teori yang rumit di dalam membentuk pusat-produksi yang kuat sebagai suatu definisi dari tujuan pembangunan dan sebagai resep kebijakan untuk dicapai. 
 
Visi ini berdasarkan suatu pegangan yang sangat dalam dan luas dari suatu keyakinan sistem produksi dengan pertumbuhan yang cepat mengenai teknik sosial – suatu pusat-produksi sebagai paradigma pembangunan.Teori dependensi yang berkembang dan menonjol di akhir tahun 1960-an, tidak hanya salah satu yang menyatakan mengenai keterbatasan mengenai teori pertumbuhan neo-klasik.
 
Kritik secara substansial juga muncul dari kalangan para ilmuwan terutama barisan ekonom. Mereka menyadari bahwa teori merembes kebawah (trikel-down effects) diperkirakan secara teoritis seringkali mengalami kegagalan atau tidak terjadi, justru kebalikannya yakni pengaruh merembes ke atas (trickle-up) yang tidak pernah dipahami. 
 
Dengan menguji kembali yang dimulai akhir tahun 1960-an dan di awal tahun 1970-an,  suatu keberanian untuk berkomintmen di seluruh dunia dengan menempatkan  secara langsung tiga tantangan pusat pembangunan: yakni pengurangan kemiskinan,  perlindungan kapasitas produksi berdasarkan sumber daya lingkungan, dan pemberdayaan manusia melalui peningkatan partisipasi di dalam proses pembangunan. Komitmen demikian disertai dengan menguji kembali teori yang digunakan dan resep yang diterapkan berkaitan dengan teori pusat produksi. 
 
Realisasinya dengan mendatangkan teknologi yang efisien menghasilkan pertumbuhan secara substansial di dalam produktivitas tenaga kerja industri perkotaan, tetapi tanpa menciptakan lapangan kerja pada tingkat yang sepadan dengan pertumbuhan sejumlah pencari kerja dalam memberikan tekanan pada strategi pertumbuhan murni, justru sebaliknya akan menjadi bukti yang didasarkan atas asumsi yang keliru – yakni, bahwa negara berkembang miskin menjadi lebih miskin karena mereka tidak mempunyai tenaga kerja potensial produktif. 
 
Dalam kenyataannya, masalahnya adalah kemalasan secara ekonomi. Secara berbeda, hal itu berkaitan dengan daya tahan dalam bekerja yang memerlukan waktu beberapa jam, ternyata mengalami kesulitan dan berkaitan dengan kegiatan yang seringkali tidak produktif dari pencapaian mereka, kegiatan mereka lebih dari hanya kegiatan yang bersifat subsisten saja: menjadi  pengangguran sehingga mati kelaparan. 
 
Dipihak lain, mereka menjadi mahir menciptakan lapangan kerja sendiri sebagai pedagang kecil (sektor informal), tukang rongsokan besi, pengumpul barang bekas, dan pengangkut air. Mereka menjual tiket lotere, menjadikan dirinya sebagai pelacur, membersihkan kaca mobil di perempatan jalan, mencari barang di tempat sampah, atau mendapatkan berbagai bidang pekerjaan lainnya yang menyediakan kesempatan untuk hidup. 
 
Dengan realitas yang demikian, banyak analis mencurahkan perhatiannya mengatasi masalah yang muncul dengan menambah jumlah pekerjaan yang bisa disediakan untuk mengatasi masalah tersebut dengan kualitas yang lebih baik. 
 
PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERPUSAT PADA MANUSIA
 
Perspektif pembangunan yang berpusat pada manusia, terus mendapatkan pengakuan. Penelitian yang sangat besar telah dipublikasikan pada tahun 1974 oleh Bank dunia dan Studi Pembangunan Institute Sussex yang disebut dengan suatu strategi “pertumbuhan dengan pemerataan”. Hal tersebut langsung dengan memperluas penggunaan produktivitas sumber daya di dalam skala kecil di bidang pertanian dan sektor informal perkotaan yang dapat dimasuki oleh sebagian besar rumah tangga orang miskin. 
 
Pendekatan demikian direkomendasikan di dalam strategi perdesaan yang fokusnya adalah peningkatan akses bagi petani kecil dan buruh tani yang bekerja di sawahnya sendiri, diberikan air bersih, kredit usaha, dan berbagai fasilitas lainnya yang akan memberikan mereka kesempatan untuk  meningkatkan produktivitasnya. 
 
Strategi di perkotaan ditekankan pada membuka kesempatan untuk meningkatkan produktivitas pada pekerja sendiri dan produsen kecil melalui peningkatan akses terhadap input dan perubahan kebijakan yang bersifat diskriminatif terhadap keberadaan mereka. 
 
Tema yang lain juga diperkenalkan melalui kebutuhan dasar, seperti sekolah, dengan menganjurkan bahwa ukuran yang benar untuk melihat perkembangan pembangunan adalah memperluas pemenuhan kebutuhan dasar bagi sebanyak mungkin orang dan kebutuhan tersebut dapat diperoleh secara langsung dan dengan segera, melalui program pemberian subsidi jika diperlukan. Ukuran Indeks Kualitas Hidup Fisik (PQLI) dikembangkan sebagai suatu alternatif dari Produk Nasional Brutto untuk mencapai tujuan pembangunan 
 
Sangat penting sebagai pengembangan pemikiran dan memperkenalkan reformasi kebutuhan di dalam prioritas pembangunan dan kegiatan, maupun pertumbuhan dengan pemerataan dan juga kebutuhan dasar sekolah diupayakan lebih dari sekedar alternatif tambahan dari dominasi model pembangunan yang ada.
 
Adanya penyesuaian sedikit di dalam kedua prioritas dan resep menuju paradigma “people-centered development”, dengan mengembangkan tiga pusat tantangan pembangunan yang masih ada dan memerlukan pemecahan dengan segera. Dekade lalu merupakan masa yang membawa ketenangan dan keberhasilan dalam pengembangan pembangunan.
 
Masih juga ada perkembangan tekonologi yang luar biasa, dan juga kesadaran manusia mengenai tidak terbatasnya sifat dasar potensi manusia dan kesempatan untuk hidup di dalam keharmonisan dengan lingkungan alam. Kemajuan tersebut didasarkan pada penetapan alternatif tentang “people centered development” di dalam kerangka paradigma pembangunan yang berpusat pada produksi dan membuka sangat  luas kemungkinan baru  untuk menciptakan suatu masyarakat global yang sungguh-sungguh. 
 
Di dalam buku ini berisi sejumlah kontribusi penting di dalam mendiskusikan pertumbuhan untuk menetapkan suatu alternatif, atau paradigma pembangunan yang disebut dengan “people centered development”. 
 
Para penulis mengemukakan tentang situasi kemanusiaan saat ini di dalam perspektif perubahan sosial jangka panjang. Argumen dasarnya adalah mereka mengembangkan suatu masyarakat industri yang didukung oleh masyarakat pertanian. Diantara keduanya adalah suatu masa transisi penting termasuk perubahan besar di dalam nilai, struktur sosial, dan teknik produksi. 
 
Suatu tranformasi sosial menuju bentuk masyarakat post-industri yang lebih pantas bagi negara yang berdasarkan pertanian (agricultural based) guna lebih maju, dengan melakukan langkah cepat menuju masyarakat industri. Di dalam era industrialisasi lebih banyak menciptakan suatu kondisi yang dapat mendorong terjadinya suatu tranformasi (perubahan). Hal itu juga dapat menciptakan kemungkinan pencapaian suatu masyarakat global bagi semua orang  yang bisa memberikan kesempatan untuk merealisasikan potensinya.
 
Salah satu hal yang sangat penting dan perlu disadari adalah bahwa masyarakat manusia sekarang ini berada di dalam suatu terminologi dengan kenyataan hidup di suatu planet bumi yang kecil. Akibat dari realitas ini, akan digambarkan ke dalam suatu dasar alternatif ekonomi, yakni dengan mengeksplorasi reorientasi mengenai nilai dasar yang diperlukan untuk hidup harmoni melalui proses alamiah, dan membahas alternatif bentuk organisasi (lembaga) yang tepat di dalam mengelola sumber daya yang ada. 
 
Persaingan memperebutkan sumber daya dan dinamika kemiskinan, akan berkurang secara berangsur-angsur melalui proses perubahan dan merupakan tantangan utama dari transformasi sosial yang dilakukan. Dalam hal ini akan dibahas mengenai dinamika kemiskinan dan menopang kondisi kemiskinan tersebut. Memperdebatkan tentang kemiskinan merupakan masalah sistemik dan menyarankan bahwa kemiskinan dapat dikurangi hanya melalui perubahan sistemik juga.
 
Kemudian juga membahas masalah definisi dengan membahas isu-isu berdasarkan pada pilihan rekayasa sosial yang tepat bagi tujuan dari “people-centered”. Fokusnya pada teori pembelajaran sosial (social learning) dan aplikasinya di dalam membuat pembelajaran lebih cepat dan efektif bagi individu dan lembaga. 
 
Selain itu, juga memperdebatkan tentang “people centered development” serta fungsinya dalam perubahan sosial (pembangunan), sebagai metodologi dari paradigma “people centered development” dengan fokus perhatiannya pada sistem produksi dan sistem kesehatan. 
 
‘People centered development’ harus menitikberatkan pada manusia dan kesejahteraan mereka, dengan menekankan bahwa  pentingnya wilayah dan kepercayaan diri masyarakat sebagai petunjuk dasar, sehingga dapat memberikan pilihan di dalam menggunakan sumber daya lokal di bawah kendali lokal untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.  
 
People Centered Development  lebih menekankan pada pemberdayaan manusia dengan mengendalikan kehidupan mereka dan sumber dayanya, menciptakan sumber kehidupan rumah tangganya. Secara langsung mereka dapat mengejar pembangunan sebagai suatu upaya mencapai kesejahteraan, yang merupakan tujuan akhir dari “people centered development”. Hal itu berarti pencapaian suatu pembangunan. 
 
Terkadang demikian yang dilakukan pemerintah mendapat celaan dari berbagai kalangan. Kompleksitas isu (masalah) demikian dikaitkan dengan lembaga modern saat ini, dari lembaga yang demokratis sampai kepada birokrasi di bidang bisnis, pemerintah, dan lembaga perburuhan, yang condong kepada ketidak berdayaan manusia, seringkali memindahkan mereka dengan mengendalikannya, tetapi hal itu hanya merupakan sedikit porsi dari hidup mereka. 
 
Justru yang sering terjadi adalah, tanggung jawab terhadap mereka menjadi suatu masalah yang serius, dengan menciptakan permintaan untuk mengontrol struktur yang ada untuk menyediakan layanan kepada masyarakat. Selanjutnya dibahas secara bersama-sama mengenai berbagai strategi dari argumen yang logis  di dalam kerangka “people centered development”. 
 
Perkembangan era industrialisasi yang dikendalikan oleh paradigma pertumbuhan sangatlah kuat, yakni menitik beratkan suatu produk yang sangat besar dan berasal dari pemikiran bangsa Barat (Eropa dan Amerika). Paradigma ini mendominasi langsung pembangunan masyarakat, dengan jalan untuk mencapai tujuan dengan suatu kebijakan langsung. Untuk itu memerlukan metodologi yang canggih di dalam memandu untuk memberikan pilihan kepada manusia secara konsisten dengan mendasarkan pada premis tertentu, yakni produksi lebih (over production). 
 
Di dalam paradigma tersebut tekanannya pada sumbangan paradigma pertumbuhan secara absulot, dalam periode ini disebut dengan “periode transisi” bagi masyarakat manusia. Pada periode ini, adanya penekanan bentuk tranformasi, yakni suatu perspektif dunia ketiga, dengan mengusulkan kesempatan yang luas suatu bangsa tidak harus menuju suatu era industri, bisa suatu bangsa mendasarkan atau berlandaskan diri pada bidang pertanian. 
 
Perkembangan perubahan sosial diawali dari kehidupan manusia, mulai dari berburu sampai pertanian menetap, dengan irigasi pertanian yang intensif, dan akhirnya menuju masyarakat industri. Ketika jumlah penduduk bertambah,  maka  perubahan sosial menunjukkan kemajuan dan bertambah jumlahnya, ada usulan untuk menghilangkan struktur kelas, yang memberikan hak istimewa bagi segolongan orang tertentu, dengan menambah jam kerja mereka dan meningkatkan penggunaan fisiknya sebagai upaya untuk bertahan hidup. Hasilnya adalah bahwa mereka ada yang mampu merealisasikan potensi kemanusiaannya. 
 
Apakah perubahan sosial berikutnya akan diulangi sesederhana demikian dan berlangsung berulang di dalam tingkat teknologi yang lebih tinggi dan mengusulkan kondisi yang mungkin akan diikuti dengan keluar dari pola sejarah. Pandangan Darwin tentang evolusi sebagai kompetisi perjuangan untuk mendapatkan makanan, seksual, dan hidup berguna untuk mencapai kemenangan dan keberlanjutan hidup. Hal ini dapat digunakan sebagai kontribusi penting dalam mencapai tujuan yang tepat bagi terwujudnya “people centered development” di dalam terminologi evolusi. 
 
Selain perubahan sosial secara evolusi, bisa juga terjadi perubahan sosial secara revolusi. Perubahan demikian akan berjalan dengan cepat dan tingkat kemajuannya (akselerasinya) sangat drastis.  Namun, perubahan sosial yang revolusioner akan mengurangi dan menguras sumber daya, sehingga tidak sesuai dengan kebijakan sosial yang baik. Bisa perubahan sosial revolusioner dengan sadar, yakni perubahan sosial melalui proses yang cepat, tetapi dampak negatif yang akan terjadi dapat dikendalikan. 
 
Ciri-ciri dari perubahan sosial revolusioner yang bisa ditunjukkan dari paradigma era industrialisasi adalah sebagai berikut:
1.    1. Pembangunan dan penerapannya di dasarkan atas ilmu pengetahuan ilmiah, perpaduan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.   
 
2.    2. Industrialisasi melalui organisasi dan pembagian pekerjaan, tenaga mesin menggantikan tenaga manusia dan binatang. 
 
    3. Keserakahan terhadap materi, etika kerja, visi ekonomi, keyakinan mengenai ketidak-terbatasan perkembangan materi dan pertumbuhan teknologi dan ekonomi. 
 
4.    4. Manusia berusaha untuk menguasai dan mengendalikan alam lingkungan, berdasarkan pengetahuan mengenai teori positivisme, memanipulasi pemikiran rasional sebagai tema yang dominan.
 
      5. Tanggung jawab bersifat individual untuk melawan takdirnya sendiri, kebebasan, dan kesamaan di dalam hak asasi dasar, perspektif ketidak beradaan nilai, faktor individual yang baik, masyarakat sebagai kumpulan individu yang mengejar kepentingannya. 
 
Di dalam perkembangannya era industrialisasi memerlukan nilai-nilai baru, yang bisa menjadi pendorong perkembangan industrialisasi itu sendiri. Selain itu era industrialisasi juga mengakibatkan terjadinya tragedi umum, misalnya tidak tersedianya lahan pertanian yang cukup, udara bersih, air minum, bahan bakar, dan mineral lainnya akibat industrialisasi yang bersifat eksploitatif. Tidak tersedianya kesempatan kerja bagi angkatan kerja yang membutuhkan lapangan kerja, dampak negatif dari penggunaan teknologi, inflasi, keadaan resesi ekonomi, alienasi, dan lain sebagainya. 
 
Setelah perubahan sosial mengalami stagnan, suatu peradaban baru telah muncul di dalam kehidupan kita, yakni suatu peradaban yang membawa pola keluarga baru; perubahan cara kerja, cinta, dan kehidupan; ekonomi baru, konflik politik baru, dan melampaui semua itu sehingga mengubah kesadaran kita. Pada awalnya suatu peradaban baru itu merupakan satu kenyataan yang meledak di dalam kehidupan kita.      
 
PERUBAHAN SOSIAL
 
Hal itu merupakan pusat kejadian – dan merupakan kunci di dalam memahami kejadian di tahun-tahun ke depan. Suatu kejadian yang sangat besar seperti perubahan sosial gelombang pertama (Firt Wave of Change) yang terjadi puluhan ribu tahun lalu melalui penemuan di bidang pertanian. Atau kejadian menggemparkan pada perubahan sosial gelombang kedua (Second Wave of Change) yang ditandai oleh revolusi industri. Kita menjadi seorang anak kecil di dalam transformasi berikutnya, yakni perubahan sosial gelombang ketiga (Third Wave of Change). 
 
Munculnya peradaban baru menyangkal atau bertentangan dengan peradaban  industri tradisional lama. Hal itu, pada waktu yang sama, teknologi tinggi dan anti industrialisasi muncul bersamaan. Gelombang ketiga membawa sesuatu pandangan hidup baru yang sebenarnya dengan didasarkan atas keaneka-ragaman, sumber daya energi terbarukan, metode produksi suatu prabrik perakitan, sesuatu yang baru, keluarga inti (batih) yang mengalami perubahan, lembaga perkawinan yang mungkin bisa disebut dengan kios elektronik, perubahan sekolah yang radikal, dan perubahan perusahaan dalam skala sangat besar di masa depan.
 
Munculnya peradaban baru ditandai dengan suatu tingkah laku kita dan membawa kita melampaui standart yang telah ada, penyelarasan, dan sentralisasi, pemusatan energi, uang, dan kekuasaan dalam segelintir orang. 
 
Peradaban baru menantang peradaban lama, akan merobohkan birokrasi, mengurangi peranan negara, dan memberikan separoh otonomi ekonomi di dalam imperalisme baru di dunia. Di dalam peradaban baru membutuhkan pemerintahan yang sederhana, lebih efektif, namun lebih demokratis dari yang telah kita ketahui sekarang ini. 
 
Hal itu merupakan peradaban yang khusus tentang pandangan mengenai dunia kita, juga merupakan cara kita menghadapi waktu, ruang, logika, dan penyebabnya. 
 
Semuanya itu, sebagaimana kita lihat, gelombang ketiga perubahan sosial peradaban dimulai dari pemutusan sejarah antara produsen dan konsumen, yang memberikan peningkatan pada peningkatan jumlah kekayaan ekonomi di masa depan. Alasannya adalah, banyak hal, yang dapat membantu kita dengan mudah – berhasil menjadikan suatu peradaban kemanusiaan pertama yang benar-benar yang tercatat dalam sejarah, sehingga kehidupan manusia menjadi lebih efisien. 
 
Sejak akhir tahun 1940-an, salah satu strategi yang dominan dari banyak pemerintahan adalah berusaha mengurangi jarak antara dunia kaya dengan dunia miskin (negara kaya dengan negara miskin). Hal ini disebut dengan strategi gelombang kedua. 
 
Pendekatannya dimulai dengan suatu pemikiran bahwa masyarakat pada gelombang kedua adalah suatu masyarakat yang harus memainkan kembali inti dari revolusi industri yang telah terjadi di negara barat, Uni Sovyet, atau Jepang. Kemajuan ditandai dengan jutaan orang yang pindah kerja dari bidang pertanian ke dalam produksi masal. 
 
Di dalam gelombang kedua, yang diperlukan adalah pengkotaan (urbanization), standarisasi, dan semua yang ada di dalam paket gelombang kedua. Pembangunan secara ringkas adalah meliputi peniruan yang tepat dari model yang telah sukses di negara maju tersebut (Jepang dan Eropa Barat). 
 
Di dalam strategi gelombang kedua, sesungguhnya banyak mengalami kegagalan di dalam menerapkan model sukses dari negara maju yang ditiru di tahun 1960-an. Pada masa tersebut menimbulkan krisis luar biasa, misalnya gelombang pemogokan buruh, kerusakan lingkungan, kejahatan, stress psikis yang menyebar pada masa gelombang kedua berlangsung. Kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana, polusi, krisis energi, sumber daya alam yang dieksploitasi dan menjadikan masalah ekologis yang luar biasa besarnya. 
 
Di dalam menghadapi kegagalan pada penerapan strategi gelombang kedua, negara miskin sangat marah di dalam menghadapi kondisi ekonomi global, mereka sangat kawatir dengan masa depan mereka sendiri – sedangkan negara kaya di tahun 1970-an menjadi sangat ketakutan untuk menemukan strategi baru agar dapat keluar dari masalah ekonomi global yang dihadapi. 
 
Hampir semua pemerintah dan lembaga pembangunan termasuk Bank Dunia, Lembaga Pembangunan Internasional, dan Perwakilan Pembangunan luar negeri, mengubah strategi pembangunannya dan kembali kepada strategi pembangunan gelombang pertama.
 
Rumusan ini hampir sama dengan strategi gelombang kedua. Walaupun dengan menekankan pada petani dan mendorong mereka masuk ke dalam perekonomian perkotaan, hal itu disebut dengan penekanan suatu yang baru tentang pembangunan perdesaan. Walaupun konsentrasinya pada komoditas untuk eksport, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan pangan sendiri. 
 
Dengan komuditas eksport diharapkan GNP menjadi meningkat dan akan terjadi proses merembes ke bawah (trickle down effects) bagi orang miskin, karena sumber daya akan dapat disalurkan langsung ke dalam “kebutuhan dasar manusia”. 
 
Pada gelombang pertama ditandai dengan perubahan sosial di bidang pertanian, pada gelombang kedua ditandai dengan produksi masal, media masa, pendidikan yang berorentasi pada pabrik, dan lain sebagainya. 
 
Secara berbeda, peradaban gelombang ketiga ditandai dengan banyak ciri – desentralisasi produksi, skala yang luas dan besar, energi terbarukan, de-urbanisasi, kerja di rumah, konsumsi tingkat tinggi. Namun demikian di dalam gelombang ketiga belum ada ciri-ciri tertentu yang menandai adanya perubahan sosial di dalam gelombang ketiga ini. 
 
Khusus peradaban, bila pada gelombang pertama jelas ditandai dengan perubahan sosial di bidang pertanian, gelombang kedua ditandai dengan produksi masal, maka peradaban pada perubahan sosial dalam gelombang ketiga masih belum jelas, mungkin dapat disebut sebagai gelombang informasi (purwo sendiri). 
 
Melihat jangka panjang kesejahteraan hidup manusia, “people centered development” menempatkan prioritas tertinggi pada pencapaian suatu hubungan harmonis dan produktif antara manusia dan lingkungan alam – dengan salah satunya memperkuat produktivitas alam dan menciptakan potensi baru bagi pengembangan manusia. 
 
Isu dasarnya menyangkut khususnya antara eksploitatif dan hubungan partnership. Pada awalnya kita tidak mengenal eksploitasi terhadap lingkungan – pertambangan terhadap berbagai sumber daya alam dan menggunakannya tanpa batas dan tidak menimbulkan sampah. Namun, akibat dari penggunaan sumber daya yang demikian telah menyumbangkan secara positif terhadap kesehatan ekonomi. Kemudian akhirnya para ahli memandang bahwa  tingkah laku demikian merupakan bentuk kriminal atau kejahatan manusia terhadap lingkungan. 
 
Elizabeth Dodson melihat eksplorasi demikian haruslah terjadi saling menguntungkan dan memperkuat keberadaan antara manusia dengan lingkungannya – suatu bentuk pertumbuhan konsisten dan timbal balik antara  visi perubahan tanah pertanian dan tanah lainnya. Sebagai kompetisi peningkatan sumberdaya, masalah klasiknya adalah mengelola sumber daya secara terbuka menjadi lebih tepat, sebagaimana dikemukakan oleh Garret Hardin. Hardin membahas tentang masalah  dan berbagai pendekatan untuk suatu resolusi (pemecahan masalah). 
 
Hal itu semua menyangkut suatu pembatasan untuk akses – apa yang dunia lihat sebagai pembatasan kebebasan. Hardin mengemukakan bahwa difinisi kebebasan sangat situasional dan selalu berubah sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. 
 
Connor Bailey pengikut Hardin melakukan studi kasus secara modern tentang masalah hubungan manusia dengan lingkungan, yakni pemancingan bawah laut terbuka di Philippines. Bailey membahas berbagai pendekatan untuk membatasi akses dan menyimpulkan bahwa kebanyakan dapat hidup terus bagi komunitas pemancing yang mereka sangat tergantung pada pemancingan bawah laut yang diseting dan untuk memperkuat peraturan mereka sendiri.
 
Hubungan simbiosis merupakan merupakan strategi yang menarik dan terbaik bagi seluruh anggota pemancing. Ketika mereka dengan mudah membela dan menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan prinsip dasarnya adalah mengelola sumber daya komunitas secara lestari yang dilakukan Bailey dapat diterima dengan cepat sebagai pendekatan janji di dalam isu kompleks mengenai pengelolaan tanah dan air di negara dunia ketiga. 
 
Sebagaimana catatan orang yang iseng, kemiskinan selalu bersama kita. Sungguh sia-sia usaha pembangunan yang berlangsung beberapa dekade lalu hanya mampu merubah sedikit orang dari kenyataan kemiskinan yang sesungguhnya. Jika situasi demikian dapat berubah, sangatlah penting untuk memahami mengapa banyak usaha intensif pembangunan di masa lalu menguntungkan hanya sedikit orang, sedangkan sebagian besar yang lain masih dalam kondisi kemiskinan. 
 
Ada banyak perspektif. Tetapi pola dasarnya adalah kompetisi sumber daya dan eksploitasi, disengaja atau tidak, dengan orang yang mengendalikan amat sedikit tentang sumber daya dan lainnya tidak, adanya ketidak konsisten yang luar biasa. Di sisi positif, kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya meningkatkan kemampuan orang miskin, yang mereka mendapatkan keuntungan untuk terus dapat hidup, meskipun bias dan terkadang frustasi dengan usaha mereka untuk meningkatkan kemampuan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
 
Secara total  kegunaan kemampuan adalah sebagai harapan utama untuk mengembangkan usaha pembangunan di masa lalu. Kuncinya adalah mengurangi ketidakbebasan/leluasaan (sebagai pembatas) bagi orang miskin dalam menghadapi kemampuan mereka guna kepentingan bekerja. Dengan tindakan itu dimaksudkan sebagai dasar dalam memahami dinamika orang miskin. 
 
Kemudian Jeffery et al. menganalisis mengapa ada suatu mekanisme keseimbangan yang didasarkan pembangunan ekonomi ortodoks dengan membahas hasil distribusi dari peningkatan produksi yang tidak pernah dapat diprediksi. Analisis mereka menjelaskan mengapa pembelaan kebijakan yang dilakukan oleh teori ortodoks justru menghasilkan sesuatu yang berbeda, dibandingkan dengan keseimbangan tersebut.
 
Studinya juga menyertakan 4 kerangka argumen ekonomi untuk diterapkan sebagai prinsip lokal di dalam kerangka kebijakan ekonomi. Izzedin membawa kita kepada suatu abstraksi mengenai teori ekonomi ke dalam praktik ekonomi bagi orang miskin di daerah miskin perdesaan di Bangledesh dan yang berarti hidup dalam posisi terpinggirkan dalam hidupnya. 
 
Di sini sejarah kemiskinan merupakan bentuk ketidak manusiaan, suatu cerita yang diperoleh dari pengalaman pribadinya. Selain itu dijelaskan pula mengenai ciri-ciri dan kondisi orang miskin di berbagai tempat, misalnya sangat lemah, sangat miskin, sangat tergantung, dan lain sebagainya yang merupakan tantangan pembangunan yang sedang dilaksanakan di masing-masing negara.
 
KERANGKA PERENCANAAN

Kerangka Perencanaan bagi People Centered Development (David C. Korten dan George Carner). Konsep sentral dari “people centered development”  sangatlah sederhana. Hal ini sebagai suatu pendekatan pembangunan yang melihat inisiatif yang kreatif dari orang-orang yang menjadi sumber daya utama pembangunan dan materinya, serta kesejahteraan spiritual sebagai akhir dari proses pembangunan yang dilakukan. 
 
Kegagalan terbesar dari model pembangunan konvensional, adalah bersifat sosialis dan kapitalis, yang dasarnya adalah pusat produksi dengan  sistem kebutuhan produksi, yang asumsinya adalah pemenuhan kebutuhan manusia harus didahulukan. Bagi mereka yang beruntung dapat berpartisipasi di dalam keseluruhan pembangunan dan mendapatkan kehidupannya dengan mudah, terutama bagi mereka yang terlibat di birokrasi, baik swasta maupun publik.
 
Mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mudah, termasuk aksesnya terhadap sumberdaya di dalam rumah tangganya, dan mereka tidak terbatas dalam memperoleh kesempatan untuk menciptakan kreativitas dirinya. Bagi mereka yang tidak bisa berpartisipasi secara penuh di dalam pembangunan, sebagai makhluk manusia, hidup dekat dengan kehidupan yang marginal (terpinggirkan), standar hidupnya sangat rendah di tengah kehidupan masyarakat. 
 
Di dalam waktu yang sama, permintaan akan pembangunan melalui perusahaan-perusahaan mendorong masyarakat untuk melakukan pengrusakan (eksploitasi) terhadap sumber daya alam dan membahayakan ekosistem secara keseluruhan bagi kehidupan di bumi, yang kita sangat tergantung padanya. 
 
Kesadaran tentang dehumanisasi (ketidakmanusiawian) ini, ketidak-adilan, dan lingkungan yang tidak lestari mengakibatkan model pembangunan konvensional memunculkan  langkah alternatif. Banyak alternatif sangat meyakinkan yang dapat digunakan dan secara substansial dapat meningkatkan produktivitas hasil untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan jumlah penduduk dunia, tetapi harus merupakan langkah yang beriringan dengan kebutuhan dasar yakni, partisipasi, pemerataan dan kelestarian lingkungan. 
 
Dari pengalaman, kita disarankan untuk mencari suatu langkah yang tepat dengan menggunakan eksperimen, yakni dengan alat perencanaan baru yang mendukung definisi baru dari masalah pembangunan. Dengan usaha demikian diharapak tercapai reorientasi kelembagaan melalui pengelolaan sumber daya masyarakat secara produktif – khususnya sumber daya tanah dan air – mengembalikan pengendaliannya pada orang-orang yang tergantung padanya dalam kehidupan sehari-harinya.

PUSAT PRODUKSI BEDA DENGAN PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT 
 
Pembela terhadap praktik konvensional tidak akan ragu menjaga dan mempertahankan model pembangunan tersebut, dengan asumsi bahwa semua pembangunan bermaksud untuk menguntungkan semua orang.  Tetapi, banyak kejadian bahwa secara substansial bahwa fokus terhadap sistem produksi tidak selalu merupakan suatu pendekatan yang efektif guna merealisasikan potensi produksi di dalam produksi masal bagi manusia. Hal tersebut terkadang juga tidak menciptakan sistem produksi yang dapat merespon kebutuhan mereka. 
 
Secara singkat dapatlah dikemukakan ciri dari pembangunan yang berpusat pada produksi sebagai berikut:
1.      Industri mengalahkan pertanian, namun bidang pertanian merupakan           mayoritas penduduk dunia menggantungkan kehidupannya.
2.   
         Wilayah perkotaan lebih kompleks dari perdesaan, namun wilayah perdesaan    merupakan tempat sebagaian besar penduduk hidup.
 
3.    Konsentrasi melewati batas kepemilikan mengenai aset produktif, yang       hasilnya bahwa investasi pembangunan hanya menguntungkan sedikit orang dari pada banyak orang.
4.     
    Penggunaan modal melebihi optimal sumber daya manusia yang digunakan,     akibatnya modal tersebut akan memperdaya orang yang tidak memiliki     modal.
 
5.    Terjadinya eksploitasi alam dan sumber daya lingkungan untuk mencapai kekayaan material yang berjangka pendek melebihi pengelolaan yang lestari dan meningkatkan hasil dari sumber daya tersebut, menghasilkan kerusakan terhadap lingkungan dan terjadi percepatan penipisan sumber daya alam.
 
6.    Efisien dalam saling ketergantungan dalam skala produksi sangat besar yang didasarkan atas kemajuan kebutuhan internasional yang berbeda dan adaptasi dari unit dalam skala kecil yang terorganisir untuk mencapai kepercayaan lokal, yang menghasilkan suatu kondisi ekonomi yang menggunakan energi tidak efisien, tidak adanya adaptasi, dan adanya kerusakan yang serius dari rusaknya atau manipulasi praktik politik di berbagai bagian sistem sosial.
 
PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT (Menuju suatu Kerangka Pemikiran, David Korten)
         
Dominasi logis dari era industrialisasi adalah logika produksi dan tujuan yang sangat dominan yakni pusat produksi.  Pusat-produksi ada nilai-nilai, sistem, dan metode yang digunakan untuk mengeksploitasi dan memanipulasi sumberdaya alam untuk kepentingan produksi agar dapat meningkatkan arus barang yang standar dan layanan yang diberikan, sehingga dapat menciptakan komsumen dalam jumlah banyak di dalam masyarakat agar dapat menerima produksi masal tersebut. 
 
Di dalam pusat-produksi juga menciptakan sejumlah besar birokrasi yang mengorganisir masyarakat ke dalam produksi yang efisien – pengendalian terpusat dan fungsional – dan suatu pasar dan sistem keuangan dibentuk  demi kepentingan semua bangsa di seluruh dunia. Di dalam sistem pengelolaan dirancang untuk memaksimalkan tingkat pertumbuhan sehingga di dalam sistem dapat menghasilkan dan menyehatkan perekonomian masyarakat dalam jumlah yang sangat besar sebagai indikasi adanya peningkatan pertumbuhan. 
 
Hal ini merupakan pemikiran yang didasarkan atas perubahan sosial otomatis dalam hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan manusia. Keberadaan paradigma demikian (people centered development), sering menghadapi sejumlah kejadian yang membatasi implementasinya. 
 
Hal ini sebagai suatu refleksi dari pembangunan yang melekat dan tidak hanya kepada sistem nilai individu dan struktur kelembagaan, tetapi juga keberadaan kerangka  teoritis dan metodologi yang mendominasi identifikasi masalah dan proses pencarian pemecahan masalah baik di tingkat individual maupun lembaga. 
 
Penerimaan tentang managemen krisis berusaha untuk menghadapi model pembangunan ekonomi ortodoks dan klasik yang tidak berhasil dalam menerapkan politik ekonomi dunia. kebanyakan para pemimpin dari masyarakat terus berusaha tidak hanya kepada pemikiran dan instrumen yang sudah ada – namun, terkadang suatu pemikiran yang telah muncul di masa lalu dan mati di era berikutnya.
 
Di sini akan bisa membantu menjelaskan mengapa usaha terbaik sering hanya memperburuk masalah yang dihadapi, padahal upaya tersebut merupakan langkah mencari jalan keluar atau solusi yang tepat.
 
ALTERNATIF PARADIGMA PEMBANGUNAN 
 
Di dalam era post-industrialiasasi, pembangunan menghadapi kondisi yang sangat berbeda dari era industrialisasi. Sekarang potensi baru sangat penting dalam rangka pembangunan untuk memperkuat kemampuan manusia dan kesejahteraannya, pemerataan, dan keberlanjutan – merupakan pusat perhatian para pengambil kebijakan pembangunan yakni, “people centered development”. 
 
Di dalam mewujudkan potensi demikian di dalam kegiatan pembangunan di era post-industrialisasi harus diarahkan pada suatu paradigma baru yang didasarkan suatu alternatif pemikiran, nilai, dan rekayasa sosial, dan teknologi yang sedang berkembang saat ini. 
 
Ada beberapa alasan untuk menyakini bahwa paradigma demikian saat ini muncul dari suatu proses global mengenai perubahan sosial secara integral dan berlangsung bersamaan. Dominasi logis dari paradigma ini adalah menyeimbangkan ekologi manusia dan dengan menciptakan kreativitas, sedangkan tujuan dominannya adalah pertumbuhan manusia yang merupakan terminologi dari potensi manusia. 
 
Sebagaimana secara khusus oleh Guy Gran, ditandai dengan peran individu tidak sebagai subyek, tetapi sebagai aktor yang merumuskan tujuannya sendiri, mengendalikan sumber daya sendiri, dan langsung mengikuti prosesnya sehingga mempengaruhi kehidupanya. People centered development menempatkan substansi nilai pada inisiatif lokal dan menyandarkan adanya perbedaan. Jadi berkembangnya model ini harus didukung oleh sistem organisasi yang menguntungkan dalam lingkungan organisasi tersebut dan juga menimbulkan kepercayaan masyarakat. 
 
Produksi memang merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai kesejahteraan manusia dan kepercayaan sendiri merupakan inti dari people centered development. Pemikiran mengenai kekayaan sendiri berasal dari partisipasinya dalam kegiatan produksi sebagai suatu yang sangat penting untuk mencapai kualitas hidup yang tinggi dan berpartisipasi dalam mengkonsumsi hasil produksi. 
 
Hasil dari sistem produksi harus dapat dirasakan bukan saja dalam terminologi nilai dari produk itu sendiri, tetapi juga terminologi masyarakat termasuk partisipasinya dan kualitas kerjanya di dalam menyediakan barang kepadanya. Perbedaan pokok antara pusat produksi dengan people centered development adalah pada awalnya manusia hanya sebagai penyumbang di dalam proses sistem produksi, kemudian akhirnya justru sistem produksi sangat tergantung kepada partisipasi tenaga kerja masyarakat. 
 
Suatu pemahaman mengenai perbedaan antara pusat manusia (people centered) dan pembangunan pada pusat produksi adalah pada esensinya tentang pilihan mengenai rekayasa sosial yang tepat sesuai dengan tujuan yang dicanangkan sebelumnya, sejak dari metodologi perencanaan dan bentuk organisasi yang netral dan condong kepada maksud atau nilai yang dituju.
 
Rekayasa sosial dari pembangunan yang berpusat pada produksi, contohnya, adalah bentuk sistem komando di dalam organisasi, bebas nilai dari metode analisis kebijakan, metodologi penelitian sosial yang didasarkan atas prinsip ilmu pengetahuan alam, fungsi di dalam sistem produksi, dan alat analisis yang manusia sebagai bagian  eksternal dan internal dari lingkungan. 
 
Rekayasa sosial mengenai “people centered development” terkadang berada di dalam arus yang berlawanan. Cirinya berbentuk organisasi itu sendiri yang secara ringkas diperankan oleh individu di dalam proses pengambilan keputusan dan sering disebut sebagai aplikasi dari nilai kemanusiaan dalam pembuatan kebijakan. 
 
Hal tersebut memerlukan proses pengembangan pengetahuan yang di dasarkan atas konsep dan metode pembelajaran sosial (social learning). Secara teritorial dari perspektif fungsional didominasi oleh perencanaan dan pengelolaan dari sistem pusat produksi. Dengan menggunakan kerangka ekologi manusia di dalam menganalisis pilihan  produksi dan keadaan produksi tidak hanya menempatkan individu dan lingkungan sebagai bagian eksternal, tetapi juga menjadikan individu dan lingkungan sebagai dasar dari proses analisis. 
 
Suatu tantangan penting di dalam people centered development adalah reorientasi mengenai pengembangan birokrasi total dari pemerintahan untuk menjadi suatu organisasi efisien dan dapat memperkuat kemanusiaan termasuk anggota organisasi dan warga masyarakat yang menjadi layanannya.
 
Organisasi demikian secara sederhana dapat dibangun di sekitar lingkungan kelompok primer, yang fungsinya sebagai team guna seting dan bertemu untuk merumuskan tujuan lokal dan bergabung tidak hanya di dalam lingkup birokrasi yang ada, tetapi juga secara terus menerus terlibat  di dalam jaringan hubungan informal. 
 
Mereka mempunyai peranan penting di dalam hubungannya dengan komunitas itu sendiri, tetapi harus berhati-hati dalam membahas dan mendefinisikannya. Untuk itu harus mendefinisikan mereka dalam kerangka jangka panjang melalui saluran sumber daya ekstenal guna memobilisasi masyarakat desa sebagai kliennya daripada memberikan kontribusi di dalam pembangunan sebagai anggota masyarakat (warga negara). 
 
Tujuan dari membangun kekuatan untuk “people centered development” adalah memberikan layanan terbaik melalui tindakan untuk mempercepat munculnya kreativitas baru, daripada melalui konflik politik untuk menghilangkan sesuatu yang sudah lama ada. 
 
Proses persiapannya adalah berlangsung lama melalui kegiatan kolektif dari kreasi manusia yang dimulai dari tidak mempunyai visi organisatoris, tidak ada pemimpin, tidak anggaran, tidak mengenal batas negara, melampaui ideologi tradisional dan kepentingan politik.
 
Bandung, 30 Maret 2012
Purwowibowo
Disarikan dari buku : People Centered Development, Contribution toward Theory and Planning Frameworks . oleh ; David C. Korten et.al 1984. USA. Kumarian Press.

Post a Comment

2 Comments