STUNTING

 


STUNTING ATAU HAMBATAN PERTUMBUHAN

Oleh: Purwowibowo

PENDAHULUAN

Stunting dapat diartikan sebagai kondisi gagal tumbuh secara sempurna pada anak balita ataau bayi di bawah usia lima tahun.  Hal tersebut dipengaruhi atau disebabkan karena kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek atau kecil sesuai usinya.

Selain itu, stunting bisa jadi merupakan kekurangan gizi sejak bayi dan bahkan bisa kekurangan gizi sejak dalam kandungan. Namun, kondisi stunting pada umumnya baru tampak atau dapat diketahui setelah usia anak sekitar dua tahun.

Stunting atau hambatan pertumbuhan adalah keadaan berhentinya pertumbuhan pada tubuh anak.  Penyebab utama kondisi stunting adalah kekurangan gizi pada waktu yang cukup lama. Hal tersebut mencakup pertubuhan fisik tubuh dan juga otaknya.

Selain itu, pemberhentian pertumbuhan meliputi pertumbuhan tubuh dan otak. Penyakit tengkes atau kondisi stunting menyebabkan anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak-anak lain yang seusia dengannya. Penyakit ini juga menyebabkan keterlambatan perkembangan cara berpikir dan juga emosionalnya.

PENYEBAB

Stunting terjadi akibat kurangnya asupan gizi pada anak. Kekurangan gizi ini diawali sejak anak masih di dalam kandungan hingga berusia 2 tahun.

Kekurangan protein menjadi penyebab paling umum terjadinya stunting. Selain itu, bisa disebabkan dari inteksi akibat buruknya kebersihan lingkungan.

Faktor-faktor yang tidak berkaitan dengan kesehatan juga dapat menjadi penyebab terjadinya stunting. Misalnya, masalah ekonomi, politik, sosial, dan budaya masyarakat. Faktor di atas tidak secara langsung mempengaruhi terjadinya kasus stunting.

Faktor penting lainnya yang menjadikan terjadinya stanting adalah kurangnya pengetahuan ibu atau perempuan tentang kehamilan, gizi, dan lainnya terkait dengan pertumbuhan anak sebagai generasi mendatang.

DAMPAK

Stunting bisa terjadi sejak anak masih di dalam kandungan. Ibu yang hamil kurang gizi sehingga anak yang dikandungnya menjadi kekurangan gizi.

Namun demikian, dampak dari kekurangan gizi yang kemudian menjadi stunting baru akan dapat terlihat ketika anak berusia 2 tahun. Seorang anak dapat dikatakan mengalami stunting apabila tinggi badannya kurang dari tinggi badan anak normal seusianya.

Standar pengukuran tinggi badan yang digunakan adalah standar yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Stunting dapat mengganggu perkembangan otak dan juga metabolism tubuh.

Stunting juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik yang kecil dan pendek, terlambatnya perkembangan otak. Selain itu stunting menyebabkan anak memiliki kecerdasan dibawah rata-rata anak seusianya.

Stunting juga menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh (imun). Hal ini membuat anak yang terkena atau mengalami stunting mudah mengalami sakit.

Dampak stunting yang lebih parah adalah anak akan berisiko mengalami penyakit berbagai penyakit, misalnya diabetes, strok, dan juga berbagai penyakit kanker.

PENCEGAHAN

Selain perempuan atau yang hamil, masyarakat dan pemerintah berperan penting dalam mencegah terjadinya stunting. Stunting terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan anak atau 2 tahun setelah kelahiran.

Pada masa ini, anak harus diberikan nutrisi yang mencukupi. Ibu hamil dan ibu menyusui harus menerapkan pola hidup sehat. Makanan yang diberikan kepada anak harus memenuhi standar gizi yang diperlukan.

Anak harus diberi nutrisi dari sayur-sayuran, buah-buahan, protein dan karbohidrat. Porsi sayur, buah, dan protein harus lebih banyak dibandingkan dengan karbohidrat.

Pola pemberian makanan pada bayi dan balita juga mempengaruhi terjadinya stunting pada anak. Para remaja, terutama remaja perempuan, harus diberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan gizi.

Hal ini dikarenakan remaja merupakan bakal menjadi ibu rumah tangga yang berperan penting dalam mengurus anak. Para calon ibu hamil juga peru diberikan sosialisasi mengenai kebutuhan gizi yang dibutuhkan bayinya selama kehamilan.

Pemberian pengetahuan mengenai persalinan di fasilitas kesehatan yang aman juga diperlukan. Setelah melahirkan, para ibu harus diberi sosialisasi mengenai cara memulai inisiasi menyusui anaknya sejak dini hingga cara memberikan Air Susu Ibu (ASI) yang baik.

Lingkungan hidup di sekitar anak juga perlu diperhatikan. Anak perlu dihindarkan dari risiko penyakit infeksi akibat lingkungan yang kotor. Kebiasaan hidup bersih juga perlu disosialisasikan atau disebarluaskan.

Anak dan ibu harus terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir. Perilaku buang air besar sembarangan harus dihilangkan. Pencegahan infeksi juga dilakukan dengan membawa anak ke tempat imunisasi.Tempat yang didatangi adalah fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Imunisasi ini bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak dan mencegah terjadinya infeksi.

Pemantauan keadaan fisik anak terus dilakukan karena tindakan ini juga merupakan tindakan pencegahan terjadinya stunting. Orang tua harus selalu memeriksa atau mengecek tubuh anak ketika mendatangi fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah.

Pada saat anak berusia 6-9 bulan, harus dilakukan pengecekan lingkar lengan atas. Pengecekan ini dapat menentukan kondisi gizi anak. Perkembangan anak juga perlu selalu diperiksa.

Semua orang, bukan hanya ibu-ibu saja, melainkan juga bapak-bapak, remaja, dan siapapun harus mampu memahami tanda-tanda perkembangan anak yang baik terkait dengan kondisi stunting.

Misalnya:

1.     Balita harus sudah dapat membalikkan badan pada usia 3 bulan,

2.    Balita sudah dapat tengkurap pada usia 4 bulan,

3.    Balita sudah dapat duduk pada usia 8 bulan,

4.    Balita sudah dapat berdiri pada usia 9 bulan,

5.    Balita sudah dapat berjalan pada usia 1 tahun,

6.    Balita sudah dapat mengucapkan beberapa kata di usia 2 tahun.

Balita  yang mengalami kondisi yang berbeda dengan apa yang bisa kita lihat sebagai tanda-tanda tersebut di atas, maka harus segera diperiksakan ke Puskesmas, Dokter, atau Rumah Sakit, agar tidak terjadi kondisi anak menjadi stunting.

 

Jember, 17 – 09 – 2022

Purwowibowo

 

 

Post a Comment

0 Comments