FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN DAN METODE PENELITIAN
Dr. Purwowibowo, M.Si
1. FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Di dalam benak kita seringkali muncul pertanyaan yang menggelitik, mengapa ketika melakukan penelitian muncul pertanyaan apakah penelitian yang dilakukan itu termasuk ke dalam penelitian kualitatif ataukah penelitian kuantitatif.
Seharusnya pertanyaan yang demikian tidak perlu muncul dalam penelitian kita jika seandainya penelitian yang dilakukan secara substantif diarahkan pada terwujudnya penjelasan suatu fenomena. Untuk menjelaskan suatu fenomena dapat dilakukan dengan metode apa saja, tanpa harus mennjelaskan metodologinya.
Munculnya perbedaan model penelitian ini tentu memiliki latar belakang historis-filosofis.
Sebenarnya ada beberapa pandangan yang menjadi landasan filosofis yang melahirkan pendekatan penelitian yaitu ”pra-positivisme”. ”positivisme”, dam ”post-positivisme”.
PRA-POSITIVISME
Aliran filsafat ini berkembang sejak jaman Aristoteles (350 SM) sampai David Hume (1750). Filsafat ini berpandangan bahwa realitas itu berkembang secara alamiah.
Peneliti menganggapnya sebagai pengamat pasif, di sini berarti bahwa peneliti tidak dengan sengaja memanipulasi lingkungan dan tidak melakukan eksperimen dengan lingkungan. Aliran yang demikian ini melahirkan penelitian ”deskriptif kualitatif”.
POSITIVESME
Aliran filsafat ini berpandangan bahwa realitas itu teramati, bersifat tunggal, dapat diklasifikasikan, determinisme (sebab-akibat), bebas nilai, relatif tetap, dan terukur. Aliran ini kemudian menimbulkan apa yang disebut sebagai metode ilmiah kuantitatif. Proses penelitian yang dilakukan lebih banyak bersifat deduktif.
POST-POSITIVISME
Aliran filsafat ini berpandangan bahwa realitas sosial bersifat holistik (tidak bisa dicerai-beraikan/tidak bisa diurai), dinamis (tidak tetap), kompleks, dan saling mempengaruhi (tidak jelas mana menjadi sebab dan mana menjadi akibat), penuh makna, dan terikat nilai. Atas dasar aliran filsafat ini kemudian berkembang apa yang disebut dengan metode penelitian kualitatif.
Aliran filsafat metodologi penelitian seperti diuraikan di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, akan tetapi pada dasarnya satu dengan yang lain saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.
Dalam melakukan suatu penelitian sosial-pun biasanya kita juga dihadapkan dengan suatu pilihan apakah akan dilakukan dengan pendekatan atau metode kualitatif ataukah dengan kuantitatif. Kedua model pendekatan dalam penelitian tersebut seringkali muncul di dalam kalangan para peneliti sosial, karena memang secara faktual melahirkan suatu hasil penelitian yang berbeda-beda.
Dalam kancah ilmu sosial, juga telah berkembang cara pandang terhadap fenomena sosial yang dikenal dengan tidak paradigma penelitian yaitu : (1) Paradigma Positivisme, (2) Paradigma Konvensionalisme, dan (3) paradigma Konflik atau Realisme.
Berbagai bentuk dan nama serta cakupan pembahasan paradigma sebenarnya masih terus berkembang sebagaimana cara pandang para pakar ilmu sosial yang juga terus mengalami perkembangan.
Paradigma Positivisme juga sering diidentikan dengan Paradigma Keteraturan (Social Order) yang oleh Ritzer (1975) disebut dengan Paradigma Fakta Sosial (Social Fact Paradigm).
Paradigma Konvensionalisme sering disebut dengan Paradigma Kemajemukan (Pluralist Paradigm), yang juga oleh Ritzer disebut sebagai Paradigma Definisi Sosial (Social Definition Paradigm). Sedangkan paradigma Konflik oleh Ritzer (1975) disatukan ke dalam paradigma Fakta Sosial.
Ketika paradigma tersebut memberikan penjelasan yang berbeda atas pertanyaan ontologis maupun epistimologis dari suatu fenomena sosial. Asumsi-asumsi filosofis yang berbeda dari ketiga paradigma tersebut, pada akhirnya membawa implikasi metodologis yang berbeda bagi para ilmuwan yang berfikir, mengumpulkan data dan menganalisis data dengan mengacu dan bernaung di bawah suatu payung paradigma tertentu (Tomagola, 1998). Berikut ini gambaran ketiga paradigma yang dikembangkan oleh Ritzer tersebut :
Paradigma / asumsi / teori / metode penelitian
| PARADIGMA | Anggapan dasar (Pokok Persoalan) | Teori yang digunakan | Metode Penelitian |
Fakta Sosial | Benda (objek) eksternal, memaksa, umum, individu, statis | Konsensus, Konflik, Durkheim, Marx, Comte, Weber, Pareto, Simmel, Parson, Dahrendorf, Merton, Mill. | Survey Kuesinoner |
Definisi Sosial | Subjek, internal, bebas, aktif, khusus, proses sosial mengalir | Peran Diri, Fenemenologi, Weber, Blumer, Thomas Khun, Mead, Berger, Cooley, Goffman | Pengamatan, pemahaman, interpretasi, (vertehen) |
Perilaku Sosial | Tingkah laku dan perulangannya individu | Sosiologi Behavioral, Teori Pertukaran, Homans, Skinner, Blau | Eksperimen |
Selain ketiga paradigma tersebut di atas, ternyata di dalam ilmu sosial dan khususnya sosiologi mengalami perkembangan paradigma-paradigma baru, yang menjadi semakin kompleks dan semakin rinci, yang tentu juga berimplikasi pada metodologi.
Meskipun demikian perkembangan ini tidak perlu diperdebatkan karena pada dasarnya kekayaan paradigma tersebut bisa saling melengkapi. Berikut ini beberapa tabel yang mencerminkan keterkaitan sudut pandang teori dan metodologi :
No. | Pendekatan | Teori klasik | Teori Modern | Kontemporer |
1. | Agensi/ Konstruksionisme | Weber/ Simmel | Interaksionisme simbolik, fenomenologi etnometodologi | Teori Strukturasi |
2. | Sistem/ Fungsionalisme | Spencer/ Durkheim | Fungsionalisme Struktural | Neo Fungsionalisme |
3. | Rasionalisme/ Utilitarianisme | Marshall/ Pareto | Teori Pertukaran | Pilihan Rasional Pilihan Publik |
4. | Struktur/ strukturalisme Kritis | Marx | Teori Klasik, Marxisme Strukturalis | Komunikasi onisme Post Strukturalisme |
Pembagian sudut pandang secara teoritik tersebut bagi kalangan ilmuwan sosial tentu masih bisa diperdebatkan, karena realitas di lapangan bisa saja berkembang, strategi-strategi alternatif yang tentu bisa berbeda dari yang diprediksikan.
Usaha para ahli ilmu sosial ternyata tidak hanya membuat kapling-kapling ilmu dalam strategi penelitiannya, berbagai cara untuk mempermudah praktik penelitian di lapangan juga terus dilakukan sebagaimana tersebut di dalam tabel berikut ini :
| No. | Tipe pertanyaan | Strategi | Paradigma | Metode |
1. | Makna : mengungkap esensi pengalaman | Fenomenologi | Filosofi/ fenomenologi | Percakapan ”audiotape”, catatan anekdot, pengalaman pribadi |
2. | Deskriptif : pertanyaan mengenai nilai-nilai, keyakinan, praktik kelompok budaya | Etnografi | Antropologi budaya | Wawancara tak berstruktur, pengamatan terlibat, catatan lapangan, rekaman. |
3. | Proses : Pengalaman sepanjang waktu atau perubahan yang memiliki tahap atau fase | Grounded | Sosiologi (interaksionisme simbolik | Wawancara (rekaman) |
4. | Dialog dan Interaksi verbal | Etnometodo- logi, analisis diskursus | Semiotika | Dialog (rekaman audio / video) |
5. | Behavioral (makro) | Pengamatan terlibat | Antropologi | Pengamatan, catatan lapangan |
6. | Behavioral (mikro) | Etologi kualitatif | Zoologi | Pengamatan |
2. METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Perbedaan antara metode kualitatif dengan kuantitatif, bukan berarti yang kualitatif tidak menggunakan angka, sedangkan yang kuantitatif menggunakan angka.
Metode kualitatif tidak menolak adanya angka dan teknik statistik untuk penyajian data dan analisis. Penelitian kualitatif yang mendalam yang mampu mengkonstruksikan hubungan antar fenomena dapat menggunakan statistik untuk mengetahui hubungan antar fenomena tersebut.
Statistik di sini tidak digunakan untuk menguji hipotesis, sehingga tidak ada kata signifikan.
Dalam metode kuantitatif realitas dipandang sebagai suatu yang kongkrit, dapat diamati dengan pancaindera, dapat dikategorikan menurut jenis, bentuk, warna, dan perilaku, tidak berubah dan dapat diverifikasi.
Dengan demikian dalam penelitian kuantitatif, peneliti dapat menentukan hanya beberapa variabel saja dari obyek yang diteliti, dan kemudian membuat instrumen untuk mengukurnya.
Dalam penelitian kualitatif, suatu realitas atau obyek penelitian itu tidak dapat dipandang secara parsial dan dipecah ke dalam beberapa variabel. Penelitian kualitatif memandang obyek sebagai suatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran, dan utuh (holistik), karena setiap aspek dari obyek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Suatu contoh, untuk mengamati performance sebuah mobil, peneliti kuantitatif dapat meneliti mesinnya saja, atau bodynya saja, akan tetapi peneliti kualitatif akan meneliti semua komponen dan hubungan satu dengan yang lain, serta kinerja pada saat mobil dijalankan.
Realitas dalam penelitian kualitatif tidak hanya yang tampak (teramati), tetapi sampai makna dibalik yang tampak tersebut. Kalau kita melihat orang yang sedang memancing, peneliti kuantitatif akan menganggap bahwa memancing itu merupakan kegiatan mencari ikan.
Sedangkan dalam penelitian kualitatif akan dilihat yang mendalam lagi, misalnya mengapa ia memancing, mungkin untuk menghilangkan stress, daripada menganggur, atau mencari teman. Jadi realitas sosial adalah konstruksi dari pemahaman terhadap semua data dan maknanya.
Dalam penelitian kuantitatif, hubungan antara peneliti dengan yang diteliti bersifat independen. Penggunaan kuesioner sebagai teknik pengumpulan data mempengaruhi jarak peneliti dengan yang diteliti, bahkan peneliti hampir tidak mengenal siapa yang ditelitinya atau responden yang memberikan datanya.
Selain itu, penelitian kualitatif, peneliti sebagai ”human instrument” dan dengan teknik pengumpulan data ”participant observation” (observasi berperan serta) dan ”in depth interview”, maka peneliti harus berinteraksi dengan sumber data, dan mengenal betul orang yang memberikan data.
Dalam melihat hubungan variabel dalam penelitian kuantitatif, cenderung bersifat hubungan sebab akibat (kausal), sehingga memungkinkan lahirnya variabel independen dan variabel dependen.
Sejalan dengan itu, penelitian kualitatif, lebih bersifat holistik dan menekankan proses. Oleh karena itu, hubungan variabel lebih dilihat sebagai bentuk hubungan interaktif, yaitu saling mempengaruhi (resiprokal).
Tabel berikut menggambarkan perbedaan aksioma antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Aksioma Dasar | Metode Kuantitatif | Metode Kualitatif |
Sifat realitas | Tunggal, kongrit, teramati | Ganda, holistik, dinamis, hasil konstruksi dan pemahaman |
Hubungan peneliti dengan yang diteliti | Independen | Interaktif, tidak dapat dipisahkan |
Hubungan variabel | Sebab-akibat (kausal) | Timbal balik/interaktif |
Kemungkinan generalisasi | Cenderung membuat generalisasi | Transferablitiy (hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu) |
Peran nilai | Cenderung bebas nilai | Terikat nilai |
Pada umumnya penelitian kuantitatif lebih menekankan pada keluasan informasi, sehingga metode ini cocok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas.
Data yang diteliti adalah data sampel yang diambil dari populasi tersebut dengan teknik probability sampling (random). Berdasarkan data dari sampel tersebut peneliti membuat generalisasi.
Penelitian kualitatif tidak melakukan generalisasi tetapi lebih menekankan kedalaman informasi sehingga sampai pada tingkat makna (data dibalik yang tampak). Meskipun penelitian kualitatif tidak membuat generalisasi, tidak berarti hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan di tempat lain.
Generalisasi dalam penelitian kualitatif disebut dengan transferability atau keteralihan. Yaitu hasil penelitian kualitatif dapat ditranferkan atau diterapkan di tempat lain, manakala kondisi tempat lain tersebut tidak jauh berbeda dengan tempat penelitian.
Dalam pengumpulan data, penelitian kualitatif, terjadi interaksi antara peneliti dengan sumber data. Interaksi yang intensif seringkali mendorong peneliti ikut berpartisipasi lama di lapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di lapangan, dan membuat laporan penelitian secara mendetail.
Meskipun demikian antara peneliti dan sumber data memiliki latar belakang, pandangan, nilai-nilai, kepentingan dan persepsi yang berbeda-beda, sehingga dalam pengumpulan data, analisis dan pembuatan laporan akan terikat oleh nilai-nilai masing-masing.
Selanjutnya untuk memahami secara lebih jelas dan rinci tentang metode kualitatif dan kuantitatif, maka perlu memahami perbedaan antara kedua metode tersebut. Tabel berikut menunjukkan perbedaan karakteristik antara metode kuantitatif dan kualitatif.
Karakteristik Metode Kuantitatif dan Kualitatif
No. | Metode Kuantitatif | Metode Kualitatif |
1. | Desain : Spesifik, jelas, rinci Ditentukan secara mantap sejak awal Menjadi pegangan langkah demi langkah di lapangan | Desain : Umum Fleksibel Berkembang, dan muncul dalam proses penelitian |
2. | Tujuan : Menunjukkan hubungan antar variabel Menguji teori Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif | Tujuan : Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif Menggambarkan realitas yang kompleks Memperoleh pemahaman makna Menemukan teori |
3. | Teknik Penelitian : Eksperimen, survey Kuesioner Observasi dan wawancara terstruktur | Teknik Penelitian : Participant Observation In Depth Interview Dokumentasi Trianggulasi |
4. | Instrumen Penelitian : Test, angket, wawancara terstruktur Instrumen yang telah terstandar | Instrumen Penelitian : Peneliti sebagai instrumen (human instrument) Buku catatan, tape record, camera, handycame, dll |
5. | Data : Kuantitatif Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalisasikan dengan menggunakan instrumen | Data : Deskriptif Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapa dan tindakan responden, dokumen dan lainnya. |
6 | Sampel : Besar Representatif Sedapat mungkin random Ditentukan sejak awal | Sampel : Kecil Tidak representatif Purposive, snowball Berkembang selama proses penelitian |
7. | Analisis : Setelah selesai pengumpulan data Deduktif Menggunakan statistik | Analisis : Terus menerus sejak awal sampai akhir Induktif Mencari pola, model, tema, teori |
8. | Hubungan dengan responden : Berjarak, bahkan sering tanpa kontak Peneliti merasa lebih tinggi Jangka pendek | Hubungan dengan responden : Empati, akrab Kedudukan sama bahkan sebagai guru, konsultan Jangka lama |
9. | Usulan desain : Luas dan rinci Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas Hipotesis dirumuskan dengan jelas Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan | Usulan desain : Singkat Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan tour/piknik Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan menemukan hipotesis, proposisi Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan |
10 | Kapan Penelitian dianggap selesai : Setelah semua data yang direncanakan dapat terkumpul | Kapan Penelitian dianggap selesai : Setelah tidak ada yang dianggap baru/dalam arti data sudah jenuh |
11. | Kepercayaan terhadap hasil penelitian : Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen | Kepercayaan terhadap hasil penelitian : Pengujian kredibilitas, dependabilitas, proses, dan hasil penelitian |
Daftar Pustaka :
1. Bogman, Robert C, dan Biklen Kopp Saei, 1982. Qualitatif Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Allyn Bacon. Inc. Boston. London.
2. Denzin, Norman K. et.al 1974. Handbook of Qualitatif Research. London – New Delhi. Sage Publiscations. Thousand Oaks.
3. Esterberg. Kristin G. 2002. Qualitatif Methods in Social Research McGraw Hill. New York.
4. Lincoln, Yovana S. dan Guba Egon. 1984. Naturalistic Inquiry. Sage Publications. Beverly Hill London.
5. Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta CV Rajawali.
6. Tomagola, Thamrin A. 1998. “Metodologi Positivistik dalam Penelitian Sosial”. Dalam Jurnal Sosiologi Indonesia. No. 3 Tahun 1998.
Jember, 27 Juli 2020
Dr. Purwowibowo, M.Si




0 Comments