BONDOWOSO ‘REPUBLIK KOPI’


 

 BONDOWOSO ‘REPUBLIK KOPI’

Oleh: Dr. Purwowibowo, M.Si

PENDAHULUAN

Kabupaten Bondowoso, merupakan kota tua dan mempunyai sejarah panjang. Paling tidak sesuai penelurusan sejarah, kota Bondowoso ada sejak tahun 1819. Hal ini berdasarkan bukti sejarah, bahwa bupati yang bernama R.M.N. Kerto Negoro menjadi Bupati pertama Kota Bondowoso. Beliau menjabat mulai tahun 1819 sampai dengan 1830. Sejak itu, berarti kota Bondowoso secara de facto, menjadi nama kota di sebuah wilayah Kawasan Besuki.

Dengan fakta itu, manakala dihitung sampai sekarang maka kota Bondowoso telah ada 201 tahun lalu. Suatu kota tua, dibandingkan dengan Jember, yang baru berdiri 77 tahun lalu. Selain itu, kota ini pernah memiliki 27 bekas bupati, mulai dari R.M.N Kerto Negoro sampai Drs. H. Amin Said Husni. Sedangkan bupati yang sedang menjabat sekarang ini, adalah Drs. KH. Salwa Arifin. Beliau merupakan bupati ke-28.

KOTA TAPE DAN PENSIUNAN

Kota Bondowosa, disebut kota tape, karena produk utama dan dijadikan ciri khas atau ikon dari wilayah ini adalah berbagai produk tape. Siapapun manakala berkunjung ke kota ini, oleh-olehnya berbagai produk terkait ketela, terutama tape. Memang, tape Bondowoso, rasanya lebih enak dan dapat dijadikan buah tangan manakala berkunjung ke Bondowoso.

Di berbagai sudut kota, terutama di pusat kota, dapat ditemukan para pedagang penjual tape berbagai merk dari produksi usaha kecil (UMKM) masyarakat Bondowoso. Bahkan, sekarang tape Bondowoso, dapat ditemukan di kota lain, misalnya di Jember, Situbondo, Probolinggo, dan kota-kota lainnya.

Selain, kota tape, Bondowoso juga disebut dengan kota pensiunan. Hal ini terkait dengan kota ini yang tergolong kecil dan kurang strategis dibandingkan dengan kota lain di wilayah Besuki. Misalnya Jember, Situbondo, dan Banyuwangi. Kota Bondowoso tidak dilewati oleh jalan utama Jawa-Bali, sehingga berbagai jenis kendaraan yang dari dan menuju Bali tidak ada yang singgah di kota ini.

Disebut juga kota pensiunan karena memang banyak para mantan pejabat pusat dan dari berbagai daerah lain yang sudah pensiun memilih tinggal dan menghabiskan waktu hidup di Bondowoso. Para pensiunan, merasakan kebahagian dan ketentraman hidup dapat dirasakan di kota Bondowoso. Kotanya memang kecil, hiruk pikuk sebagai kota besar belum begitu tampak. Berbagai perusahaan besar dan pabrik-pabrik belum banyak yang membuka cabangnya di wilayah ini. Migrasi ulang-alik, dari desa ke kota Bondowoso juga masih sedikit.

Polusi udara, sangat rendah dan terkendali. Hal ini karena diberbagai jalan rayanya yang menuju kota Bondowoso dari Situbondo khususnya, banyak pohon-pohon besar masih berdiri kokoh. Pemerintah daerahnya, menghargai bahwa pohon-pohon besar mempunyai fungsi penting secara ekologis, bagi kehidupan manusia. Pohon merupakan produsen oksigen dan penyerap karbon, sehingga dilestarikan.

Ketinggiannya sekitar 300 dpl dan suhu di kota ini berkisar antara 15.40o – 25.10o celcius. Dengan kondisi itu,  maka Kota Bondowoso juga merupakan kota sejuk dan sangat nyaman untuk hidup bagi para pensiunan.

Secara geografis, wilayah Bondowoso tidak memiliki wilayah laut. Berbeda dengan wilayah kabupaten lainnya di kawasan Besuki, yakni Jember, Situbondo, dan Banyuwangi. Ketiganya memiliki wilayah laut dan dapat mengembangkan potensinya. Dengan kondisi ini, maka konsentrasi pengembangan wilayah Bondowoso pada potensi yang ada di wilayah daratan.

BONDOWOSO REPUBLIK KOPI

Salah satu wilayah Besuki yang beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu wilayah yang gencar mengembangkan komoditas kopi. Sejak tahun 2016, Pemerintah Bondowoso mem-Branding wilayah ini dengan ‘Bondowoso Republik Kopi’.

Dengan branding tersebut, kabupaten ini berusaha meningkatkan produksi kopi, terutama yang dihasilkan oleh petani kopi atau kopi yang dihasilkan masyarakat. Hal ini, tentu terkait dengan usaha pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) dan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Kabupaten Bondowoso sebagai  salah satu  penghasil kopi rakyat telah mampu menyumbangkan produksi kopi nasional. Hal ini sebagai strategi utama dari agrobis (Herawati, 2015). Produksi kopi dari Kabupaten Bondowoso, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kopi lokal dan nasional, melainkan diperuntukkan juga sebagai komoditas ekspor untuk mendukung eskpor dari luar minyak dan gas (migas).

Dari tahun 2010 sampai dengan 2015, tren PDRB meningkat  dan memberikan pengaruh secara signifikan terhadap akselerasi perekonomian masyarakat. Gambaran tersebut dapat dilihat dari tahun 2010 PDRB-nya sebesar  Rp.  8,515  miliar  dan pada tahun 2015 sebesar  Rp.  14,484  miliar.

Dengan kondisi geografis bergunung-gunung dan potensial untuk menanam kopi maka Kabupaten Bondowoso melakukan gerakan menanam kopi yang dilakukan oleh masyarakat. Pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso bekerja sama dengan Perhutani untuk menanam kopi dengan sistem tumpang sari atau  coffee agroforestry (Bosselmann, 2009). Suatu model penanaman pohon kopi di sela-sela pohon besar di kawasan Perhutani.

Skemanya, penanaman dan pemeliharaan dilakukan oleh masyarakat yang menaman pohon kopi di sekitar wilayah perhutani. Maksud dari model ini, masyarakat dapat memanfaatkan lahan perhutani tanpa harus melakukan ‘ilegal logging’ atau pencurian hasil hutan berupa kayu dan hasil hutan lainnya. Hasilnya atau produknya, berupa panen kopi dibagi kedua belah pihak, petani penanam mendapatkan hak 70% dan perhutani mendapatkan 30%.

Selain model tumpang sari, pemerintah Bondowoso juga mendorong seluruh masyarakat yang mempunyai lahan ‘tidur’, juga harus ditanami kopi. Sehingga sampai saat ini dapat disaksikan di semua wilayah kabupaten Bondowoso terlihat - di mana-mana terdapat tanaman kopi.

Gerakan ini juga diikuti masyarakat secara luas, bahwa barangsiapa yang di halaman depan, belakang, samping kiri-kanan dari rumahnya ada sejengkal tanah kosong dimohon untuk ditanami kopi. Suatu gerakan swasembada dari pemerintah daerah menjadikan komoditas kopi menjadi ikon kabupaten Bondowoso.

Model demikian pernah terjadi sewaktu, akhir pemerintahan Soekarno di tahun 1960-an yang disebut dengan ‘Swadeshi’, yang dicetuskan Mahatma Gandhi (Prabhu, 1967) di India. Model tersebut diadopsi Pemerintahan Soekarno, kemudian diterapkan di Indonesia, yakni memenuhi kebutuhan sandang bagi seluruh masyarakat dengan menanam kapas yang dilakukan oleh semua orang di halaman rumah, tegal, dan pekarangannya.

Dengan kondisi geografis, bergunung-gunung dan perbukitan, maka kabupaten Bondowoso mempunyai banyak potensi di dalam pengembangan sektor perkebunan. Walaupun saat ini, di Kabupaten Bondowoso dapat dikembangkan dua komoditas penting dan sangat potensial untuk pengembangan sektor perkebunan, yakni tebu dan kopi, namun perkebunan kopi menjadi pilihan utamanya.

Pilihan ini tentu dilandasi pilihan rasional (Popkin, 2000) atau disebut dengan rational choice. Bidang bisnis yang sangat penting dan rasional di Kabupaten Bondowoso, yang disadari oleh pemerintahnya dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah melalui penanaman pohon kopi atau program kopi rakyat.

Dengan melibatkan peran serta seluruh masyarakat secara aktif, pengembangan sektor perkebunan kopi berpotensi sebagai ‘garda’ terdepan peningkatan PDRB dan mampu memberikan akselerasi terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu, terkait dengan usaha yang bersangkut-paut dengan komoditas kopi terhubung dan melibatkan berbagai bidang kehidupan masyarakat. Produk kopi rakyat mempunya dampak berganda kepada seluruh kehidupan di masyarakat.

Selain itu, Kabupaten Bondowoso sejak abad ke-19 sudah terkenal dengan brand-nya tentang kopi, yakni, sebagai pusat ‘Java Coffee’. Hal tersebut tidak terlepas dari peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang membuka perkebunan kopi seluas 4.000 ha. Perkebunan tersebut dikelola oleh PTPN IX. Lokasinya di perkebunan wilayah lembah antara pegunungan Ijen dan Raung.

Bahkan, pada waktu lalu sampai sekarang, perkebunan kopi di Belawan dikenal dengan sebutan ‘The Highland Paradise’. Dengan ketinggian di wilayah tersebut mencapai 500 – 1000 mdpl, sangat cocok dengan tanaman kopi, khususnya jenis Arabika. Jenis kopi ini sangat disukai oleh masyarakat dunia, sehingga berapapun jumlah produk yang dihasilkan dari perkebunan PTPN IX tersebut laku keras di pasaran dunia.

Semoga, Bondowoso dapat mewujudkan daerah dengan visinya menjadi ‘Republik Kopi’ dan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatnya.

Jember, 06 – 09 – 2020

Dr. Purwowibowo, M.Si

 

Post a Comment

0 Comments