PEKERJAAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN SOSIAL


Pengantar 
Buku ini membahas mengenai pendekatan khusus pekerjaan sosial profesional yang dikenal dengan istilah “Pengembangan Pekerjaan Sosial”. Pengembangan pekerjaan sosial telah dikenal sangat luas diberbagai disiplin pembangunan sosial, yang sering disebut dengan pendekatan “pembangunan sosial” untuk pekerjaan sosial. 
Seperti halnya pendekatan pekerjaan sosial lainnya, seperti misalnya terapi klinis psikologis pekerjaan sosial, pengorganisasian masyarakat, pembelaan melalui legislatif, atau praktik kebijakan - pengembangan pekerjaan sosial - mempunyai ciri-ciri yang meliputi metode praktik, asumsi teoritis, prinsip dasar yang lebih disukai. 
Hal itu telah mempunyai sejarah panjang yang unik.  Walaupun pengembangan pekerjaan sosial dapat digambarkan di dalam pemikiran yang berada disekitar lingkungan profesi pekerjaan sosial yang muncul di Barat, namun sesungguhnya munculnya pendekatan tersebut berada di negara berkembang di belahan selatan. 
Beberapa tahun lalu, pengembangan pekerjaan sosial mendapatkan perhatian cukup besar di dalam lingkungan pekerjaan sosial internasional, yang akhir-akhir ini, hal itu diakui sangat cocok dengan kondisi negara Barat.
Ciri khusus pengembangan pekerjaan sosial adalah penggunaan “strategi investasi” di dalam praktik profesional. Pengembangan pekerjaan sosial tidak hanya menekankan pentingnya penguatan dan pemberdayaan klien. Namun, juga memerlukan layanan pekerja sosial (yang dikenal dalam literatur profesional yakni “klien) dengan menyediakan investasi sosial yang memadai sehingga dapat memperkuat kemampuan dan memudahkan klien untuk berpartisipasi di dalam kehidupan komunitas dan ekonomi produktif. 
Di dalam buku ini akan ditunjukkan bahwa, investasi sosial itu menyangkut latihan kerja, penempatan tenaga kerja, perawatan anak, pemberantasan buta huruf orang dewasa, usaha kecil, dan pemeliharaan sejumlah aset, dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. 
Investasi tersebut, diperlukan untuk memperluas sumber daya pemerintah, yang digunakan utamanya untuk memenuhi kebutuhan materi pekerjaan sosial untuk klien dan membantu mereka untuk menghargai aspirasinya dan tujuan hidup mereka. 
Kemiskinan, perampasan hak asasi, dan ciri-ciri keputus-asaan di dalam banyak kehidupan klien, dan menempatkan tantangan itu sebagai unsur kunci dari praktik pengembangan pekerjaan sosial.
Selain itu, penekanan investasi sosial, pengembangan pekerjaan sosial mengutamakan intervensi praktik pada peran komunitas. Para praktisi pengembangan yakin bahwa sebagian besar klien dalam pekerjaan sosial dapat ditangani dalam setting komunitas, meskipun menghadapi berbagai tantangan, mereka akan dapat hidup mandiri di dalam komunitasnya. 
Akhirnya, pekerja sosial pengembangan dapat mengabaikan penggunaan fasilitas yang ada di rumah klien dengan mempergunakan fasilitas yang ada di komunitasnya, selanjutnya, pengembangan pekerjaan sosial hanya melakukan pendampingan saja. Meskipun secara profesional, pendekatan keahlian bercirikan lebih banyak praktik pekerjaan sosial, pengembangan pekerjaan sosial menekankan peran penting partisipasi klien, dan penentuan diri klien. 
Praktisi menggunakan pendekatan pengembangan untuk memudahkan dan mendukung, daripada  memberikan resep pemecahan masalah. Penghargaan internasional adalah pengungkapan ciri lain dari pengembangan pekerjaan sosial dan menurut pendekatan tersebut, inovasinya berbeda di berbagai negara secara nyata, tetapi secara bijaksana diadaptasi ke dalam praktik pekerjaan sosial di seluruh dunia. 
Dapatlah disimpulkan bahwa pengembangan pekerjaan sosial peduli terhadap pendekatan hak asasi dan memperluas tujuan sosial seperti partisipasi dalam demokrasi dan kesamaan dalam keadilan sosial. Pekerja pengembangan sosial bersama-sama dengan organisasi pengembangan lainnya dan juga kelompok lain dan menggunakan ketrampilan lobi dan pembelaan untuk mendukung pencapaian tujuan ideal yang diinginkan oleh pekerjaan sosial.
Pengembangan pekerjaan sosial berakar dari gagasan tentang pengembangan dan perubahan diri (pribadi) yang dapat ditelusuri kembali dari profesi pekerjaan sosial pada awal munculnya profesi ini, tetapi sebagimana ditunjukkan sebelumnya, pengembangan pekerjaan sosial lebih dekat dan berhubungan erat dengan pendekatan pembangunan sosial yang pada mulanya berasal dari negara berkembang setelah perang dunia kedua. 
Walaupun pemerintah di negara berkembang mengadopsi rencana kebijakan ekonomi untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi perekonominya, hal itu disadari bahwa masalah-masalah mengenai kemiskinan massal dan perampasan hak tidak bisa diselesaikan dengan pertumbuhan ekonomi semata. 
Disamping memperlihatkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan, masih menyisakan masalah kemiskinan yang sangat luas. Berbagai kritik mengenai kebijakan pembangunan ekonomi konvensional kemudian memberikan saran bahwa ada alternatif baru mengenai strategi pembangunan yang berorientasi kepada manusia yakni yang dikenal dengan pembangunan sosial (atau seringkali disebut dengan pembangunan manusia). 
Pembangunan sosial memberikan alternatif kepada kebijakan pembangunan ekonomi agar mengkombinasikan dengan intervensi sosial, sehingga tujuan pembangunan ekonomi dan pembangunan kesejahteraan sosial sama derajadnya di dalam proses pembangunan. 
Dengan demikian keberhasilan pembangunan ekonomi dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Hal itu berarti bahwa intervensi kesejahteraan sosial memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi. 
Dengan memprioritaskan intervensi pada pembangunan sosial yang berorientasi pada investasi dan akan dapat memberikan sumbangan terhadap tujuan pembangunan secara luas. Penekanan pada investasi sosial juga berarti menunjuk sebagai suatu pendekatan produktivitas dalam kesejahteraan sosial.
Meskipun pengembangan pekerjaan sosial dan pembangunan sosial berhubungan sangat erat seperti diuraikan di atas, pembangunan sosial terdiri dari seperangkat kegiatan dari pengembangan pekerjaan sosial. 
Pengembangan pekerjaan sosial adalah sebuah terminologi yang berasal dari praktik pekerjaan sosial, tetapi pembangunan sosial merupakan disiplin yang sangat luas yang tentu saja berhubungan erat dengan proyek pembangunan ekonomi dan program pengembangan global. 
Sedikit proyek pembangunan sosial dan programnya dapat diimplementasikan oleh pekerja sosial profesional, dan seringkali, menjadi ladang garapan para ekonom, pembuat kebijakan pembangunan, staf pegawai NGO, pekerja sosial di tingkat bawah. 
Namun demikian, dapatlah dikatakan bahwa pembangunan sosial memberikan inspirasi bagi pengembangan pekerjaan sosial. Sebagaimana nanti akan diuraikan di dalam bab berikut buku ini, pekerja sosial di seluruh belahan bumi selatan telah memberikan sumbangan yang besar di dalam merumuskan teori pembangunan sosial dan praktik intervensinya. 
Meskipun para pekerja sosial di negara Barat juga memberikan sumbangannya, secara umum melalui pengalamannya di dalam bekerja di setting pengembangan yang menggunakan prinsip kunci dan pendekatan praktik pembangunan sosial mengalami perkembangan.
Pengembangan pekerjaan sosial seringkali dipandang cocok di dalam kebutuhan negara berkembang, tetapi banyak pekerja sosial di negara Barat (maju) menjadi lebih tertarik terhadap praktik  pekerjaan sosial di negara mereka masing-masing (maju). 
Ketertarikan itu mendapatkan semangat dari kesadaran yang sangat besar di dalam inovasi internasional pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Sekarang menjadikan sejumlah pekerja sosial yakin bahwa idea pembangunan menjadi cocok dan diterima di seluruh dunia. 
Melalui organisasi, seperti konsursium internasional untuk pembangunan sosial dan jurnal tentang issu pembangunan sosial, dan juga sejumlah artikel ilmiah, buku-buku, dan laporan penelitian, kesemuanya mendorong dalam upaya peningkatan pengembangan pekerjaan sosial di negara-negara barat. 
Selain itu juga menyajikan pembahasan atau perdebatan mengenai asumsi teoritis, ruang lingkup, dan penerapannya di ranah internasional.
Disamping kesadaran yang sangat besar itu potensi pengembangan pekerjaan sosial, ada yang kurang menyakinkan yakni mengenai apa saja yang menjadi ranah dari pengembangan pekerjaan sosial itu sendiri. 
Meskipun di dalam pengembangan dunia selatan secara global, di mana idea pembangunan diperkenalkan, beberapa pekerja sosial mengalami kesulitan di dalam membedakan antara praktik dengan pengembangan pekerjaan sosial. 
Mereka yakin bahwa pengembangan pekerjaan sosial dapat diimplementasikan melalui proyek pengembangan masyarakat dan secara tidak langsung atau kegiatan dalam skala makro (luas) hanya sedikit cocok atau relevan terhadap arah dari praktik pekerjaan sosial komunitas. 
Pelayanan pekerjaan sosial untuk kekerasan dan penelantaran anak, orang dengan kelemahan mental, tuna wisma, orang cacat, remaja nakal, dan orang lanjut usia tidak langsung diterima ke dalam intervensi pembangunan. 
Banyak pekerja sosial yakin bahwa para kliennya dapat lebih baik kondisinya melalui bantuan langsung secara konvensional dan rencana praktik pekerjaan sosial dalam rangka memenuhi kebutuhannya yang agak berbeda secara nyata dari pengembangan pekerjaan sosial.
Tetapi, di dalam buku ini ada upaya keras yang dapat ditunjukkan, bahwa prinsip dan praktik intervensi yang digunakan di dalam pengembangan pekerjaan sosial akan dapat diterapkan sesuai arah dari praktik pekerjaan sosial dengan klien yang secara tradisional mendapat bantuan dari pekerja sosial. 
Di sini akan  banyak dibahas mengenai pengembangan pekerjaan sosial yang tidak hanya peduli terhadap praktik secara langsung maupun tidak langsung, tetapi juga dapat diterapkan pada inti pekerjaan sosial, praktik bidang-bidang yang konvensional seperti, perawatan anak, sakit jiwa, pekerjaan sosial dengan orang  cacat, pekerjaan sosial dengan orang lanut usia, bantuan sosial, dan pekerjaan sosial koreksional. 
Di sini juga akan dibahas mengenai ketrampilan pekerja sosial yang digunakan dalam praktik konvensional yang dapat diaplikasikan di dalam  pengembangan pekerjaan sosial.
Di sisi lain, buku ini juga akan mengakui mengenai pengembangan pekerjaan sosial yang berbeda sama sekali dari praktik pengembangan pekerjaan konvensional pada umumnya. Karena itu, pengembang pekerjaan sosial jangan hanya berada di tempat yang menekankan terapi, konseling, yang merupakan sisa-sisa profesi prestisius dan populer yang dilakukan di masa lalu. 
Sebagaimana di uraikan sebelumnya, pengembangan pekerjaan sosial berusaha menghindari model penanganan residual. Di sini juga akan dibahas mengenai intervensi yang berbasis klien secara terus menerus, menjaga hubungan dengan penyedia layanan. 
Di sini bukan berarti bahwa di dalam berbagai tulisan ini berupaya untuk menolak atau menghilangkan  kebutuhan akan pelayanan dan dukungan, tetapi para penulis yakin bahwa tanda-tanda tentang cara untuk mengakui adanya penguatan dan peningkatan dari diterminasi diri dan arti partisipasi di dalam kehidupan masyarakat. 
Demikian pula mereka juga mengakui bahwa konseling akan dapat terbantu dengan sendirinya, mereka juga mengkritik konseling yang sekarang ini menjadi sentral dari pekerjaan sosial. Serupa dengan itu, mereka juga mengakui bahwa banyak klien memerlukan dukungan yang kuat dan memerlukan tempat perlindungan. 
Namun demikian, sebagaimana diuraikan sebelumnya, pembelaan tentang pengembangan pekerjaan sosial melebihi praktik pendekatan tradisional yang konvensional melalui penerimaan strategi investasi sosial yang didasarkan atas kemampuan orang-orang agar supaya lebih produktif dan hidup normal dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Beberapa pekerja sosial merasa menemukan kesulitan tentang gagasan tersebut, misalnya, siapa yang nantinya bertanggung jawab di dalam pemberian bantuan secara tradisional, jika pelayanan pekerjaan sosial kepada orang-orang yang memang memerlukan belas kasihan, akan menjadi ragu-ragu tentang penekanan pada pengembangan pekerjaan sosial dalam rangka peningkatan partisipasi ekonomi melalui pelatihan ketrampilan, usaha kecil, pekerjaan, pengembangan aset, dan intervensi lainnya yang sejenis. 
Sedangkan yang lainnya mengajak dengan sebuah pendekatan kritis yang akan melakukan pembelaan tentang partisipasi produktif yang lebih sedikit menguntungkan daripada peningkatan integrasi klien masuk ke dalam sistem kapitalisme. 
Selanjutnya yang lainnya lagi, sangat dipengaruhi oleh ideologi pos-modern, yang lebih memperhatikan penekanan ekonomi di dalam pengembangan pekerjaan sosial yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini yang memperjuangkan identitas diri, mengakui dan menghormati diri sebagai prioritas utamanya. 
Meskipun perhatiannya dapat dipahami, hal itu akan diuraikan lebih lanjut di dalam buku ini yang merupakan komitment dari pengembangan pekerjaan sosial, dalam kenyataannya, meskipun tidak sejalan dengan nilai-nilai pekerjaan sosial, khususnya, kepeduliannya terhadap hak asasi manusia  dan keadilan sosial. 
Saran pengembangan  membuat tidak menolak upaya peningkatan kehidupan masyarakat dan integrasi klien ke dalam ekonomi produktif, tetapi mereka yakin bahwa dibutuhan alat ukur sosial  dari perluasan intervensi negara  dan kesamaan lingkungan yang lebih luas untuk orang-orang yang meyakini tentang potensi yang dimilikinya.
RUANG LINGKUP BUKU INI
Berdasarkan bab-bab yang ada di dalam buku ini dijelaskan ciri utamanya dari pengembangan pekerjaan sosial dan menunjukkan bagaimana pengembangan pekerjaan sosial diterapkan di dalam kerangka praktik pekerjaan sosial. 
Secara khusus, di dalam buku ini akan ditunjukkan bagaimana intervensi pengembangan dapat diaplikasikan di dalam bidang praktik pekerjaan sosial yang lebih luas dengan kelompok klien yang dibentuk secara historis tentang inti kegiatan pekerjaan sosial profesional. 
Sebagaimana dijelaskan di depan, inti dari bidang praktik termasuk kesejahteraan anak, kesehatan mental, pekerjaan sosial dengan kelompok kecacatan, pekerjaan sosial dengan usia lanjut, bantuan sosial, pekerjaan sosial koreksional. Kesemuanya itu merupakan bidang praktik pekerjaan sosial tradisional yang sebagian besar bab-bab buku ini akan membahas secara khusus. 
Perlu dicatat bahwa para penulis di dalam bab-bab buku ini, terkadang menggunakan terminologi seperti misalnya usia produktif, usaha sosial, dan di dasarkan atas nilai-nilai pekerjaan sosial. 
Terminologi demikian dimaksudkan untuk memperkuat, memberdayakan, pemulihan, dan untuk memasuki kembali yang berkaitan dengan pengembangan pekerjaan sosial. Walaupun seringkali membingungkan, perbedaan terminologi lebih ditekankan pada prinsip dan komitmen mengenai pengembangan pekerjaan sosial.
Buku ini, sesungguhnya diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat lanjut baik S2 maupun S3 di lembaga pendidikan kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial, yang mungkin juga mahasiswa yang terkait dengan masalah pengembangan pekerjaan sosial, dan juga fakultas dan teman-teman praktisi di Amerika Serikat. 
Walaupun baru mulai disadari dan tertarik berkaitan dengan idea atau pemikiran tentang pembangunan sosial kepada pekerjaan sosial profesional di Amerika beberapa tahun yang lalu, banyak pekerja sosial yakin bahwa pembangunan sosial yang pada mulanya diterapkan di negara berkembang di bagian dunia selatan dan sangat terbatas di negara barat. 
Dengan menunjukkan bagaimana strategi pembangunan sosial dapat diterapkan dalam praktik bidang yang konvensional di Amerika Serikat, buku ini diharapkan  dapat memaparkan hubungan yang universal tentang pendekatan pembangunan. 
Tentu, hal itu diharapkan bahwa buku ini juga akan sangat bernilai  di negara lain. Buku ini menjelaskan secara luas tentang pengalaman para penulisnya di level internasional yang menerapkan idea pembangunan dan akhirnya tertarik untuk menjadi pekerja sosial.
BUKU INI TERDIRI DARI TIGA BAGIAN. 
Pertama, berisi tentang bab pendahuluan, yang menjelaskan secara garis besar dari evolusi pengembangan pekerjaan sosial secara historis, prinsip, dan pendekatan praktik dan diskusi tentang strategi besar investasi yang digunakan bidang kajian ini.
Bagian dua, ditunjukkan bagaimana  pengembangan pekerjaan sosial  dapat diterima oleh pekerja sosial di dalam praktik sehari-hari dengan keluarga, anak-anak, orang yang lemah mental dan sakit jiwa, remaja tuna wisma, orang cacat, orang lanjut usia, dalam sistem pekerjaan sosial koreksional lainnya. 
Praktik bidang-bidang tersebut secara khusus akan dipilih di dalam buku ini karena digunakan sebagai ilustrasi dari penerapan prinsip pembangunan bagi pekerjaan sosial. Di dalam buku ini juga terdapat bidang yang populer mengenai praktik pekerjaan sosial. 
Tentu, bukan secara khusus. Karena hal itu menyangkut kelompok klien utama yang dengan pekerja sosial telah bertautan selama beberapa tahun, pendekatan topik tersebut dari sisi  perspektif praktis akan sangat membantu dalam menunjukkan bagaimana pemikiran pembangunan dan intervensi  dapat diterima dan dipraktikkan di dalam pekerjaan sosial sehari-hari. 
Selain itu juga, beberapa bab disediakan informasi tentang intervensi yang kebanyakan telah dikaitkan dengan pengembangan pekerjaan sosial. 
Intervensi demikian dapat berupa palayanan anak, program pembebasan buta huruf, orientasi investasi tranfer pendaptan, usaha kecil, dan penghitungan aset sosial yang secara luas dibahas secara terbatas pada pendekatan pengembangan pekerjaan sosial di dalam konteks potensi masa depan untuk memberikan praktik pekerjaan sosial dan meningkatkan kehidupan masyarakat yang dilakukan oleh pekerja sosial.
Di dalam bab pendahuluan yang ditulis oleh James Midgley di bagian pertama menjelaskan selayang pandang mengenai pengembangan pekerjaan sosial dengan menelusuri sejarah, asumsi teoritis, dan kunci praktik intervensi. 
Penulis mendiskusikan kontribusi pekerja sosial dari negara berkembang sampai negara Barat dengan merumuskan dalam bentuk pemikiran pembangunan. Midgley juga melakukan review tentang perdebatan yang terjadi berkaitan dengan issu-issu sekitar definisi, prinsip, dan praktik intervensi. 
Selain itu dia juga menekankan pentingnya konsep investasi sosial, yang berupaya memperkuat dan memberdayakan pendekatan di dalam pekerjaan sosial. Kemudian dia membuat kerangka garis besar mengenai ketrampilan pekerja sosial menggunakan praktik pengembangan dan mendiskusikan pengembangan pekerjaan sosial dengan intinya tentang intervensi investasi.
Sebagimana diuraikan sebelumnya, bagian dua akan menitik beratkan pada penerapan strategi investasi pembangunan sosial di dalam bidang praktik pekerjaan sosial yang lebih luas. Beberapa bab di dalamnya difokuskan pada praktik pekerjaan sosial yang berkaitan dengan kelompok klien yang secara tradisional telah menjadi bagian dari pelayanan pekerjaan sosial.
Di bab dua Amy Conley membahas mengenai pendekatan pengembangan untuk kesejahteraan anak. Sejumlah asumsi ditempatkan pada posisi yang tinggi untuk menjelaskan mengenai pendekatan perlindungan anak secara tradisional di negara barat, dengan memberikan saran bahwa idea baru sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan anak dan keluarga. 
Dia juga memperdebatkan bahwa sistem kesejahteraan anak di Amerika secara tradisional dengan menggunakan pendekatan residual untuk memberikan layanan kepada keluarga, intervensinya hanya terhadap kasus yang sangat buruk seperti penganiayaan kepada anak. 
Secara berbeda, pengembangan pekerjaan sosial  berusaha untuk memperkuat kemampuan orang tua dan komunitasnya untuk memberikan layanan kepada anak dan menekankan pada masalah kemiskinan, yang terjadi secara endemik bagi terjadi kekerasan dan penganiayaan kepada anak. 
Conley membandingkan praktik kesejahteraan anak secara konvensional dengan pendekatan pengembangan, dan ketika dia menyadari bahwa pendekatan pengembangan masih dalam perumusan, inovasi internasional untuk mendukung anak dan keluarga telah berkembang lebih maju.
Nancy Guinta kemudian membahas mengenai pemikiran mengenai usia produktif dan mendiskusikan relevansinya dengan pengembangan pekerjaan sosial di bab 3. Dia mencatat bahwa usia produktif sangat banyak jumlahnya  dan mempunyai dampak terhadap demografi, ekonomi, dan sosio-budaya. 
Beberapa dekade ke depan, jumlah penduduk akan meningkat termasuk jumlah remaja dewasa. Walaupun banyak orang pada usia produktif mendapatkan keuntungan dari berbagai kebijakan dan program, remaja dewasa dan remaja awal  mempunyai risiko dari meningkatnya isolasi dan ketergantungannya terhadap penurunan ekonomi, fisik, dan kesejahteraan mentalnya. 
Pendekatan pekerjaan sosial konvensional memperlihatkan secara luas mengenai penempatan kebutuhan individu dengan menempatkan kebutuhan individu tanpa memperhatikan keadaan sosial secara luas, fisik, atau konteks ekonomi. Di akhir sumbangannya secara teoritis  dengan menyadari bahwa “produktivitas” tidak hanya dirumuskan sebagai nilai ekonomi dari tindakan seorang individu, tetapi juga harus diukur dengan terminologi sosial atau partisipasinya sebagai warga negara. 
Remaja dewasa juga mempunyai kemampuan dalam berpartisipasi secara penuh di dalam kehidupan komunitas dan membantu membangun modal sosial dan ekonomi masyarakat.
Di dalam bab 4, Mary Ager Caplan, dia lebih menekankan pada strategi investasi sosial – khususnya peran usaha sosial di dalam kesehatan mental. Dia mencatat bahwa model treatmen konvensional dalam menangani penderita penyakit jiwa dengan melibatkan dinamika para ahli dan pasien. 
Secara berbeda, pendekatan pengembangan diperlukan bagi penderita penyakit jiwa yang mencakup prinsip inti dari kesejahteraan klien, melakukan pemulihan dan gerakan ketahanan sosialnya. Dalam bab ini membandingkan dua pendekatan dan mengeksplorasi bagaimana pendekatan pembangunan sosial dapat melindungi modal sosial dan modal manusia untuk meningkatkan kebahagiaan dan mengintegrasikan penyakit jiwanya dalam kehidupan komunitas. 
Pada prinsipnya eksplorasinya dilakukan melalui studi kasus di perdesaan, organisasi konsumen di California selatan, yang para klien terdiri dari berbagai tingkatan dalam pembuatan kebijakan, menyediakan layanan kelompok sebaya, dan busines berjalan, termasuk memberikan makanan dan koperasi simpan pinjam (kredit union). 
Di dalam bab 5 Jenifer dan James Midgley menjelaskan tentang pendekatan pengembangan untuk pekerjaan sosial bagi orang cacat, yang secara umum didasarkan atas hak asasi dan fokusnya tentang ketergantungan hidupnya. 
Dengan menguraikan pemikiran pembangunan sosial, penulis mendiskusikan kampanye tentang gerakan hak asasi orang cacat guna menormalisir kehidupannya sebagai manusia cacat dan menjamin terjadinya integrasi di dalam bidang ekonomi, budaya, dan kehidupan politik. 
Ada tiga aspek di dalam pendekatan pengembangan yang dibahas, yang dinamai dengan, munculnya dan pelembagaan hak asasi orang cacat, penerimaan orang cacat ke dalam kehidupan masyarakat, dan penerimaan serta partisipasi di dalam kegiatan ekonomi produktif
Walaupun hal demikian itu merupakan pendekatan yang ketinggalan jaman bagi para ahli dan medis. Sampai sekarang masih diperlukan dalam kerangka yang masih perlu diperhatikan guna melakukan layanan kepada orang cacat. 
Di dalam bab ini ditunjukkan bahwa telah banyak yang dilakukan berdasarkan hak asasi orang cacat, pendekatan pengembangan dan pekerjaan sosial telah memberikan sumbangan yang besar secara bersama untuk orang cacat dan mengorganisir mereka dalam peningkatan penggunaan pendekatan ini. 
Peran pekerja sosial dengan menempatkan masalah kemiskinan melalui bantuan sosial dan program yang berkaitan dengan itu dibahas dalam bab 6 oleh James Midgley
Dia mencatat bahwa ketika pekerja sosial pertama kali muncul sebagai suatu  profesi di akhir abad ke-19, pekerja sosial telah terlibat aktif di dalam pengentasan kemiskinan dan program bantuan administrasi sosial. Mereka terus memainkan peran yang penting di bidang ini untuk beberapa tahun. 
Selama era baru, sebagai contohnya, pekerja sosial di Amerika Serikat berpartisipasi secara luas  di dalam pemberian layanan administrasi masyarakat. Namun, di pertengahan abad ke-20, para pekerja sosial melepaskan diri dari program semacam di atas dan lebih banyak menekankan pada intervensi terapi psikologis. 
Penulis membahas tentang pekerja sosial memegang kunci penting di dalam merumuskan dan mengimplementasikan progran bantuan sosial yang dirancang  untuk mengurangi kemiskinan. Beberapa contoh internasional dapat digunakan sebagai contoh untuk memberikan ilustrasi dari hal di atas. Dia juga menunjukkan bahwa program dalam bentuk yang minimalis, yakni “undang-undang kemiskinan” memberikan uang tunai langsung dan memperkuat investasi.
Berdasarkan bab 7, Will C Rainford, melakukan pengamatan tentang pekerja sosial yang tergabung di dalam penanganan masalah kenakalan remaja, kejahatan, dan pekerjaan sosial koreksional sejak profesi ini ada pada akhir abad ke-19. 
Namun, dengan meningkatnya kasus kejahatan terus membumbung tinggi dan jumlah narapidana mencapai sangat banyak yang tidak diperkirakan sebelumnya, pendekatan baru diperlukan. 
Dengan fokus kepada peran pekerja sosial dengan fasilitas koreksional, penulis mendiskusikan inovasi dari strategi investasi sosial yang dapat memperkuat dan memberdayakan para narapidana dan menyiapkan mereka sebelum kembali ke tengah masyarakat. 
Penekanannya adalah program pemberian modal manusia, menyiapkan pekerjaan dan penempatannya, menghitung asset, dan program usaha kecil yang terintegrasi kepada narapidana ke dalam komunitas dan kegiatan ekonomi produktif. 
Peranan pekerja sosial berkait dengan kegiatan sumber daya komunitas, dan memberikan bantuan profesional dengan memfasilitasi para narapidana sebelum kembali ke masyarakat, juga dibahas.
Bab 8 oleh Kristin Ferguson dibahas tentang pendekatan usaha sosial dalam praktik pekerjaan sosial, terutama mengenai anak yang tuna wisma. 

Dia memberikan catatan bahwa layanan tradisional yang diberikan kepada tunawisma terdiri dari rumah singgah dan juga target layanan mengenai tempat perlindungan. Walaupun tujuan layanan untuk menjaga kesehatan, kesehatan jiwa, dan masalah sosial lainnya, pasti pendekatan tersebut bertujuan untuk menggantikan tingkah laku kehidupan jalanan dengan tingkah laku yang sesuai dengan kehidupan masyarakat, kegiatan mendapatkan pendapatan. 
Dalam kasus anak muda yang tuna wisma, strategi keberhasilannya adalah memindahkan mereka dari kegiatan ekonomi informal kepada kegiatan ekonomi formal yang lebih baik daripada posisi pekerjaan yang memberikan upah rendah, karena dengan berpartisipasi di dalam pasar kerja formal seringkali dihambat oleh tantangan yang melekat di dalam kehidupan jalanan. 
Ferguson menjelaskan bahwa keberadaan model intervensi bagi para tunawisma remaja dan disarankan memasuki melalui usaha sosial sehingga anak muda tersebut dapat memperoleh pendidikan dan ketrampilan berusaha, nasehat, perawatan klinis, dan dihubungkan dengan pemberian layanan dalam rangka memfasilitasi ekonomi mereka dan memenuhi kebutuhan sosialnya.
Berikutnya, dalam bab 9 oleh Jame Midgley dibahas mengenai pendekatan pembangunan kepada praktik pekerjaan sosial komunitas. Walaupun organisasi komunitas dan bentuk lainnya merupakan praktik mikro biasanya digabung dengan intervensi pengembangan. 
Penulis berpendapat bahwa pendekatan praktik komunitas konvensional seperti pembangunan ketetanggaan, perencanaan layanan sosial, dan kegiatan sosial lainnya tidak akan efektif digunakan untuk investasi dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan materi manusia saja.
Dengan menggambarkan pengalaman dalam pembangunan komunitas di wilayah global selatan dan inovasi pengembangan ekonomi lokal di Amerika, penulis membahas masalah tersebut dengan fokus pada proyek ekonomi yang meningkatkan standar hidup dan menempatkan masalah kemiskinan dan pengentasan kemiskinan dari komunitas miskin.
Di dalam bab terakhir, dalam bagian ketiga, oleh James Midgley dan Amy Conley memaparkan bahan kajian sebelumnya secara bersamaan, dan mengakui bahwa apa yang dibahas sangatlah terbatas dalam rangka mengembangkan pendekatan di dalam pekerjaan sosial tetapi juga pendekatan tersebut menjanjikan di masa depan, khususnya dalam konteks tantangan ekonomi dan keterbatasan sumber daya. 
Penulis menjelaskan bahwa pekerja sosial dapat mempergunakan strategi investasi di dalam praktik profesionalnya untuk meningkatkan partisipasi klien dalam pekerjaan sosial di dalam kehidupan komunitas yang normal dan di dalam ekonomi produktif, dan dengan cara itu, kontribusi  positif  dari pekerja sosial terhadap kesejahteraan dalam waktu yang panjang. 
Pendekatan pengembangan,  selaras dengan nilai sejarah pekerjaan sosial dan selalu peduli terhadap pencapaian keadilan sosial dan hak asasi manusia.
Bahan Bacaan: MIDGLEY, James and Amy Conley, 2010, Social Work and Social Development, Theories and Skills for Development Social Work, England, Oxford University Press.

Bandung,  20 Nopember 2011.
Purwowibowo 


Post a Comment

0 Comments