DUA MATA, DUA TELINGA, DAN SATU MULUT DALAM NEW NORMAL




DUA MATA, DUA TELINGA, DAN SATU MULUT DALAM NEW NORMAL

Oleh: Purwowibowo
PENDAHULUAN
Bagi para filsof, semua yang ada di muka bumi, termasuk keberadaan dirinya, selalu ditanyakan atau dipertanyakan. Mereka ingin mendapatkan jawaban mendalam tentang hakekat semua yang dilihat, ditemui, termasuk keberadaan diri manusia sendiri.
Pertanyaan hakekat, merupakan inti dari filsafat, yang meliputi: aspek ontologi, yakni, pertanyaan apa atau siapa? (what?); aspek epistemologi, yakni pertanyaan bagaimana? (why?); dan aspek aksiolgi, pertanyaan untuk apa? (what-purpose?). Seperti misalnya, pertanyaan diri manusia, apa atau siapa manusia?, bagaimana seharusnya manusia?, dan untuk apa hidup manusia?.
Para filsof berusaha untuk mencari jawaban secara mendalam, dengan cara berfikir secara filosofis. Suatu cara untuk menjawab pertanyaan dengan suatu jawaban yang bijak. Suatu jawaban, logis dan diterima akal sehat, serta dibenarkan dalam hati. Itulah, prinsip dasar dari para filsof dalam menjawab semua pertanyaan filosifis, tentang hakekat hidup manusia.
Namun, sudah ribuan tahun, jawaban dari para filsof, masih belum bisa memuaskan banyak pihak. Hal itu, terkait dengan keterbatasan manusia itu sendiri, terbatas akalnya, pikiran, dan hatinya.
Padahal, mereka menjawab pertanyaan yang bersifat umum dan belum sempat memikirkan jawaban, mengapa manusia yang diciptakan Tuhan, matanya dua, telinganya dua, dan mulutnya satu saja?. Kok, tidak telinga satu, mata satu, dan mulut satu. Atau, telinga dua, mata dua, dan mulut dua.
DUA MATA, DUA TELINGA, DAN SATU MULUT
Bagi orang awam, bukan filsof, jarang sekali memikirkan mengapa manusia diciptakan Tuhan Alloh SWT, mata dua, telinga dua, dan mulut satu?
Bagi, orang yang sedikit mau berfikir, tentu, kesemua itu mempunyai rahasia tertentu. Misalnya, kita sedikit berfikir, jika saja, manusia mempunyai dua mulut, alangkah sibuknya, ketika manusia sedang makan. Suatu keadaan yang kacau-balau, dua mulut yang bersamaan melakukan kegiatan sama, makan. Belum lagi, kalau dua mulut, bersamaan berbicara, tentu lebih kacau lagi.
Selain itu, alangkah jeleknya, wajah manusia, jika terdiri dari dua mulut. Maka bersyukurlah, manusia hanya diberi satu mulut. Demikian pula, manakala manusia hanya terdiri hanya satu mata di wajahnya, maka wajahnya sangat menyeramkan, seperti dajjal. Subhanallah.
Maka, manusia telah diciptakan Alloh SWT, dalam bentuk yang paling sempurna, sebagaimana termaktuf dalam Surah At-Tin, ayat 4. ‘Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya’.
Sungguh! Alloh SWT, dalam menciptakan manusia, termasuk diri manusia mempunyai rahasia dibalik penciptaannya. Sebagaimana, Dia menciptakan manusia di wajahnya, memiliki dua telinga, dua mata, dan satu mulut.
Dari sisi jumlahnya, secara keseluruhan ada lima, dua telinga ditambah dua mata dan ditambah satu mulut. Jika diperbandingkan maka, telinga 40%, mata 40%, dan mulut hanya 20%.
ERA INFORMASI VIRTUAL DI NEW NORMAL
Di era new normal seperti sekarang ini, peran informasi sangat penting dan menentukan. Orang berada di rumah, karena harus stay at home, bisa mendapatkan berbagai informasi yang sangat banyak. Berbagai media, seperti: WhatsApp, Facebook, Twitter, dan lainnya menyediakan berbagai sumber informasi yang tidak terbatas dan sangat mudah didapatkan.

Berbagai media tersebut, bukan hanya menyediakan banyak informasi yang diperoleh, melainkan juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang didengar dan dilihatnya. 

Di new normal ini, banyak warga masyarakat ingin menyampaikan apa saja yang dilihat, diabadikan melalui video dan kemudian diunggah ke dalam YouTube. Menjadi youtuber, yang follower-nya banyak, dan bisa mendapatkan uang.

Orientasi yang hanya ingin mendapatkan uang, menjadi sangat berbahaya. Karena, mereka menghalalkan segala cara, Misalnya menyebar ujar kebencian, membuat berita bohong, tidak didukung dengan data atau informasi yang cukup.

Padahal, kita diberi Tuhan Yang Maha Esa, dua telinga, dua mata, dan satu mulut. Makna dibalik penciptaan ini, tentu harus dipahami kita semua. Apalagi, di masa normal baru, saat ini. Agar tidak terjebak, hanya ingin mendapatkan uang, kemudian menyebarkan informasi tidak benar.

Dua telinga dan dua mata, artinya, manusia diharapkan untuk dapat ‘lebih banyak’ mendengarkan dan melihat informasi atau berita dari berbagai informasi. Bukan, mendapatkan informasi dan langsung menyebarkannya. Padahal, informasinya belum akurat atau tidak jelas.

Oleh karena itu, penciptaan mulut yang hanya satu, mengisyaratkan kepada manusia agar lebih sedikit bicara dari pada mendengar dan melihat. Saat ini, kita disuguhi orang banyak bicara, banyak komentar dibandingkan dengan banyak melihat dan mendengar.

Banyak bicara juga bermakna, menggurui daripada menjadi pendengar. Manusia hidup di tengah masyarakat, di era new normal, seharusnya lebih banyak mendengar daripada bicara. Jadilah pendengar yang baik. Karena, sebaik-baiknya orang adalah menjadi pendengar yang baik.

Menjadi pendengar yang baik, dan lebih banyak melihat atau mengamati, juga bermakna lebih mampu menahan ego daripada banyak bicara. Banyak bicara, dapat mendorong orang lebih bersifat egoistis. Yakni, mementingkan diri sendiri.

Agar tidak egois, ………

Mengambil pelajaran penciptaan manusia: dua telinga, dua mata, dan satu mulut. Misalnya, banyak mendengar, akan mampu menjaga kemarahan, bisa menambah ilmu, dapat memahami orang lain, dan rahasia pribadi akan terjaga.

Selain itu, banyak melihat dan banyak mendengar akan menjadikan seseorang akan menjadi orang yang dibutuhkan, bijak dalam mengambil keputusan, dan mampu menjaga lisan (mulut) yang hanya satu itu.

Salah satu pepatah, jagalah lisan-mu karena informasi yang keluar dari mulut-mu lebih tajam dari sebilah pedang.

‘Lidah memang tidak bertulang, namun tajamnya melebihi pedang’


Mari menjaga mulut, karena kebaikan dan keburukan hidup dalam masyarakat ditentukan kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Wassalam

Jember, 11 – 06 – 2020
Purwowibowo

Post a Comment

0 Comments