REUNI KELAS DAN SEMANGAT ‘60-AN’



REUNI KELAS DAN SEMANGAT ‘60-AN’
Oleh: Purwowibowo
REUNI
Kata reuni berarti mengadakan pertemuan kembali, tentu yang direncanakan. Sekarang ini, banyak orang melakukan reuni, misalnya reuni teman sekolah, kuliah, keluarga, dan bisa juga teman seperjuangan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dilakukan, tatkala mereka sudah lama tidak ketemu atau ingin mengenang kembali, masa ketika masih bersama, dulu.
Reuni bisa juga, bernostalgia masa lalu, tentang hari-hari yang penuh kenangan. Bisa kenangan manis, pahit, atau asam. Dalam reuni, mereka merasakan sesuatu yang luar biasa tentang dirinya, teman-temannya, gurunya, suasana sekolah, kebiasaan kala itu, dan lain sebagainya.
Dalam reuni, tidak ada satu-pun merasa sedih. Meskipun, dulu usil kepada temannya, sekarang ini dirasakan keindahannya. Bahkan, yang terjadi adalah, suatu suasana senang, gembira, luar biasa, karena suasana apapun kala itu, tertutupi dengan kondisi sekarang ini. Suatu: ‘suasana tua merasa muda atau suasana muda di saat tua’.
Reuni, juga dapat menjalin hubungan yang lebih akrab, diantara mereka. Padahal dulunya, sebagai teman tidak mempedulikan. Perselihan di waktu sekolah, kuliah, karena merebut ‘pacar’, berbeda kegemaran ‘olah raga’, atau berbeda gaya hidup, dapat melebur dan hilang dalam reuni.
Sekat-sekat yang dulunya, membatasi pergaulan di antara teman seangkatan, sering terjadi. Misalnya teman-teman akrab, karena satu desa, satu komunitas dari golongan tertentu, beda organisasi, beda aliran, dan perbedaan lainnya, yang membatasi pergaulan, kala itu. Berubah drastis, dengan reuni.
Dengan kegiatan reuni, kemudian tumbuh subur, sikap toleran, saling menghargai, dan cederung untuk menuju untuk inklusif. Saling mengenang, berkomunikasi lagi, japri, WhatsApp group, untuk bercerita apa saja, dapat diwujudkan. Itulah, tujuan dan fungsi reuni, yang meskipun sepele dan sekedarnya, paling tidak dapat memberikan suasana baru, setelah lama tidak bertemu.

SEMANGAT ‘45’
Kita tahu, dari sekolah, kuliah, atau perbincangan sehari-hari, bahwa orang Indonesia, mengenal semangat 45. Suatu semangat, yang kala itu, gegap gempita untuk mewujudkan kemerdekaan dan mengisinya.
Semangat 45 adalah suatu semangat yang mampu melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Suatu semangat yang ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial seluruh masyarakat dengan berbagai kegiatan pembangunan. Suatu semangat yang pada dasarnya merupakan manifestasi dalam membangkitkan kekuatan dan dayacipta untuk menempatkan bangsa Indonesia sejajar dengan Bangsa lainnya di dunia.
Semangat 45, intinya mencintai tanah air, bangsa, dan negara Indonesia. Solidaritas dan kesetiakawanan, ksatria, dan kebesaran jiwa adalah ‘ruh’nya. Toleransi, tenggang rasa, menghormati keyakinan dan agama, suku-adat kepercayaan, dan bertanggungjawab,  sebagai manifestasinya.
Tat kala, kita semua sudah, berusia tua, ternyata juga ingin reuni itu. Reuni atau silahturahmi. Dua keuntungan, silahturahmi, dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezeki. insyaAlloh.

REUNI DAN SEMANGAT 60-AN
Kemarin, kami reuni. Reuni teman sekolah dari SMP, Warujayeng. Meskipun tidak banyak yang hadir, paling tidak, suasana ketika SMP, dulu dapat dikenang kembali.
Perjalanan waktu, telah mengubah kita semua, dari suasana anak-anak, menjadi suasana kakek-kakek dan nenek-nenek. Kita telah meninggalkan sekolah itu lebih dari 46 tahun lalu, semua telah berubah. Dan yang tidak berubah adalah, perubahan itu sendiri, terus berlangsung. Dan kita, hanya mampu mengenangnya, dengan reuni itu.
Kini, usia kita mencapai 60-an tahun, dan tidak mungkin menjadi anak-anak atau remaja lagi. Maka, meskipun begitu, kita harus semangat, yakni semangat 60-an.
Semangat 60-an, adalah semangat, yang berorentasi ke masa depan, tetapi tidak bersifat duniawiyah. Semangat yang dilandasi kekuatan rohani, yakni semangat yang ukrowiyah.
Semangat ukrowiyah, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad, (Hadist Riwayat, Al-Hakim), yakni: memanfaatkan empat perkara dari lima perkara. Lima perkara itu, adalah ‘(1) memanfaatkan waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) memanfaatkan sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) memanfaatkan masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) memanfaatkan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) memanfaatkan masa masih hidupmu sebelum datang matimu”.
Salah satu perkara, yang tidak mungkin kita rasakan sekarang adalah masa muda, karena kita sekalian sudah menjadi tua. Walaupun, kita semua bisa merasa muda. Tetapi, telah melewati itu dan pada masa tua. Oleh karena itu, empat perkara lainnya masih berpeluang untuk kita kerjakan. Yakni waktu sehat, kaya, luang, dan hidup. Gunakan sebaik mungkin, sebelum masa terakhir datang ke kita sekalian.
Yakni: dipanggil untuk menghadap kepada Allah SWT, mempertanggungjawabkan apa yang telah diberikan kepada kita sekalian, terkait 5 perkara yang disebutkan di atas.
Mudah-mudahan, kita semua menjadi orang yang selalu semangat 60-an dan taqwa kepadaNya, di sisa usia yang diberikan kepada kita. Dan kembali menghadapNya dalam keadaan ‘khusnul khotimah’, nantinya. InsyaAlloh.
Aamiin2
Jember, 17 -02 – 2020






Post a Comment

0 Comments