Oleh: Dr. Purwowibowo, M.Si
PRAKATA
Modernitas sesungguhnya mengacu kepada bentuk kehidupan sosial dan organisasi yang muncul di Eropa pada kira-kira abad ke-17 dan sesudahnya dan pada gilirannya menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Pada saat ini kita berdiri di depan era baru, yang harus direspon oleh ilmu sosial dan yang akan mengantarkan kita melampaui modernitas itu sendiri. Sekarang muncul berbagai istilah untuk menggambarkan tipe sistem sosial baru pada masa transisi itu secara positif yakni dengan: masyarakat informasi atau masyarakat konsumen, sedangkan yang negatif yakni mengatakan kondisi yang mendahului telah mendekati akhir dengan istilah masyarakat: “pascamodernitas”, “pascamodernisme”, “pascaindustri”, “pascakapitalisme”, dan lain sebagainya.
Jean-Francois Lyotard, yang mempopulerkan konsep pascamodernitas mengacu kepada pergeseran dari usaha manusia untuk membumikan epistemologi dan dari keyakinan akan kemajuan yang direkayasa manusia. Kondisi pascamodern berbeda dengan menghilangnya narasi agung, yang mencakup semua hal dengannya kita ditempatkan dalam sejarah makhluk yang memiliki masa lalu pasti dan masa depan yang dapat diprediksikan. Sudut pandang pascamodern melihat adanya pluralitas klaim pengetahuan yang heterogen, di mana ilmu pengetahuan tidak menduduki posisi istimewa. Ketika memasuki periode pascamodernitas, kita bergerak ke dalam suatu periode di mana berbagai konsekuensi modernitas semakin radikal dan teruniversalkan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Jean-Francois Lyotard, yang mempopulerkan konsep pascamodernitas mengacu kepada pergeseran dari usaha manusia untuk membumikan epistemologi dan dari keyakinan akan kemajuan yang direkayasa manusia. Kondisi pascamodern berbeda dengan menghilangnya narasi agung, yang mencakup semua hal dengannya kita ditempatkan dalam sejarah makhluk yang memiliki masa lalu pasti dan masa depan yang dapat diprediksikan. Sudut pandang pascamodern melihat adanya pluralitas klaim pengetahuan yang heterogen, di mana ilmu pengetahuan tidak menduduki posisi istimewa. Ketika memasuki periode pascamodernitas, kita bergerak ke dalam suatu periode di mana berbagai konsekuensi modernitas semakin radikal dan teruniversalkan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
DISKONTINUITAS MODERNITAS
Tidak diragukan lagi bahwa banyak diskontinuitas di berbagai fase perkembangan sejarah, antara titik transisi masyarakat tribal dengan kemunculan negara agraris, namun yang lebih menarik adalah serangkaian diskontinuitas terkait dengan periode modern. Cara hidup yang dimunculkan dalam periode modernitas telah membersihkan tatanan sosial tradisional, dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Perubahan yang terjadi pada suatu periode sejarah yang sangat pendek pada tiga atau empat dasawarsa terakhir ini begitu dramatis dan komprehensif dampaknya sehingga kita hanya mendapatkan sedikit saja bantuan dari pengetahuan kita pada masa transisi sebelumnya dalam upaya mengintepretasikan perubahan. Tingkat kecepatan perubahan yang digerakan oleh modernitas benar-benar ekstrem. Perubahan teknologi merupakan wujud perubahan yang dapat dilihat dengan jelas. Selain itu cakupan perubahan yang menimbulkan gelombang tranformasi sosial secara tidak langsung juga akan merembet keseluruh permukaan bumi. Selanjutnya bentuk sosial modern tidak ditemukan pada periode sebelumnya yakni sistem politik negara bangsa, ketergantungan sistem produksi terhadap sumber kekuasaan yang tidak kelihatan, komuditas produk serta tenaga kerja upahan yang terjadi secara menyeluruh.
KEAMANAN DAN BAHAYA, KEPERCAYAAN DAN RISIKO DALAM MODERNITAS
Meskipun ada sisi negatif dari modernitas, para sosiolog seperti Marx dan Durkehiem yakin bahwa di suatu saat ada kemunculan sistem sosial yang lebih manusiawi. Bahkan Durkheim yakin bahwa ekspansi industrialisasi yang lebih jauh akan menciptakan kehidupan dan menentramkan, yang terintegrasi melalui kombinasi pembagian kerja dan individualisme moral. Sedangkan Marx pesimis dengan mengatakan bahwa kemajuan secara material hanya diperoleh dengan berupa ekspansi birokrasi yang mengekang kreativitas dan otonomi individu. Kerja industri modern mengandung konskuensi yang begitu merendahkan martabat, menggiring manusia kepada disiplin buta, kerja repetitif, dan mengandung potensi destruktif yang sangat besar dalam kaitannya dengan lingkungan materi.
Di dalam kekuasaan politik terjadi pemusatan kekuasaan yang totaliter, yang menghubungkan kekuasaan politik, militer dan ideologis secara lebih terpusat daripada yang mungkin ada sebelum kemunculan negara bangsa modern. Durkheim dan Weber keduanya menyaksikan bagaimana kekuatan militer digunakan dalam perang dunia, yang meluluh lantakan tatanan dunia yang sebelumnya diprediksi aman damai dan terpadu secara alamiah yang diciptakan oleh industrialisme. Namun dengan berkembangnya inovasi persenjataan nuklir menimbulkan konflik militer yang serius dengan akibat jutaan orang meninggal dunia.
SOSIOLOGI DAN MODERNITAS
Secara sederhana Modernitas dapat dijelaskan dengan menggunakan sosiologi hal ini terkait analisis sosiologis yakni masyarakat.
Tradisi teoritis paling penting dalam sosiologi adalah melihat dinamika transformasi tunggal dan menyeluruh dalam menafsirkan sifat modernitas. Unsur utamanya adalah kapitalisme, yang menggantikan produksi agraris digantikan dengan produksi yang diperuntukkan kepada pasar, bukan hanya lingkup lokal, nasional, regional, tetapi sampai lingkup internasional. Menurut Durkheim kompetisi kapitalistis bukan merupakan unsur sentral dalam tatanan industrial, tetapi justru impuls yang kuat dari pembagian kerja yang kompleks, yang menempatkan produksi pada kebutuhan manusia melalui eksploitasi alam secara industrial.
Modernitas pada level institusionalnya bersifat multidimensi, dan masing-masing yang dikhususkan oleh berbagai tradisi memainkan beberapa peran. Konsep masyarakat menempati posisi penting di berbagai diskursus sosiologi. Masyarakat tentu saja merupakan istilah yang ambigu, yang mengacu kepada berbagai asosiasi sosial secara generik dan mengacu kepada sistem khas relasi sosial dalam kehidupan modernitas masyarakat. Dalam berbagai bentuk pemikiran yang beragam, sosiologi telah dipahami sebagai pengetahuan yang tengah berkembang. Sosiologi menejelaskan dan membahas kehidupan sosial modern yang bisa digunakan untuk kepentingan prediksi dan kontrol dalam memahami proses perubahan sosial dan modernitas yang terus berlangsung.
Modernitas pada level institusionalnya bersifat multidimensi, dan masing-masing yang dikhususkan oleh berbagai tradisi memainkan beberapa peran. Konsep masyarakat menempati posisi penting di berbagai diskursus sosiologi. Masyarakat tentu saja merupakan istilah yang ambigu, yang mengacu kepada berbagai asosiasi sosial secara generik dan mengacu kepada sistem khas relasi sosial dalam kehidupan modernitas masyarakat. Dalam berbagai bentuk pemikiran yang beragam, sosiologi telah dipahami sebagai pengetahuan yang tengah berkembang. Sosiologi menejelaskan dan membahas kehidupan sosial modern yang bisa digunakan untuk kepentingan prediksi dan kontrol dalam memahami proses perubahan sosial dan modernitas yang terus berlangsung.
Bandung, 23 Oktober 2011




0 Comments