Dulu
sewaktu aku remaja dan “single” mengidolakan yang namanya bunga desa.
Sebagaimana pengertian pada umumnya yang banyak dipahami oleh masyarakat, bahwa
bunga desa tiada lain adalah gadis lugu desa,
yang manis dan cantik. Mungkin sulitlah
diuraikan seperti apa kriteria bunga desa itu. Bahkan,
semua pemuda baik yang tampan atau kurang tampan akan
memburu-yang namanya bunga desa, terutama
pemuda yang tinggal di desa. Bunga desa diibaratkan sebuah bunga yang lagi
mekar yang banyak kumbang datang menghampiri dan ingin mengisab madunya. Begitu
banyak orang menganalogikan wanita atau gadis desa cantik itu dengan bunga. Dan
alhamdulillah aku-pun, setelah sekian lama mencari bunga desa dan bunga kota,
akhirnya mendapat bunga desa. Tentu saja, gadis yang berasal dari desa. Desa itu adalah
Ngipik, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Dia yang sekarang bersama saya tinggal
di Jember bersama anak-anak saya. Saat ini, saya sedang menjalani pertapa,
menuntut ilmu di Program Doktor di Universitas Padjadjaran Bandung.
Sekarang
ini, setelah saya tinggal hampir satu bulan, melihat kota Bandung yang
diibaratkan sebagai kota kembang, mungkin ada benarnya. Sebelumnya, saya
menulis bahwa kota Bandung saya sebut sebagai kota macet dan kota kotor dalam
buku harian ini. Tetapi, kota kembang Bandung itu saya bisa analogikan
sebagaimana banyak bunga di kota. Kenapa begitu, kalau suatu desa banyak gadis cantiknya,
saya juga bisa menyebut sebagai desa kembang. Dengan diwakili beberapa gadis
cantiknya sebagai bunga desa, desa tersebut akan ramai dikunjungi pemuda dari luar desa. Lha
sekarang ada yang disebut dengan bunga kota, yakni analogi dari kota Bandung itu.
Sebagaimana
bunga desa, bunga kota mempunyai makna yang sama, yakni banyak gadis-gadis cantiknya
yang berkeliaran di keramaian kota. Kalau saya berjalan-jalan di mal,
pertokoan, naik angkot, ke kampus Universitas Padjadjaran, baik di DU, di Dago
Atas, dan juga di Jatinangor, sudah dapat dipastikan ketemu gadis remaja,
mahasiswa yang cantik-cantik itu. Menurut penglihatan saya mereka lebih cantik
daripada remaja dan gadis Kampus Universitas Jember, ataupun remaja putri yang
saya temui di lingkungan kota Jember. Itulah barangkali yang bisa mewakili kota
Bandung sebagai kota kembang itu, bukan banyak kembangnya, tetapi banyak
gadis-gadis manis dan cantik
yang bertebaran, berkeliaran seantero kota Bandung.
Bandung, 18 Agustus 2011




0 Comments